Dengarkan Artikel
Oleh Paulus Laratmase
–
Puisi: Tuan Katakan Dusta
Oleh: Dr. Wiratmadinata, SH.,M.H.,
–
Tak apa tuan berdusta
Pohon pohon itu tumbang karena sudah lapuk dan tua
Meskipun semua bersaksi…
Kayu itu putus rapi karena gergaji
bahkan ada nomornya pula
Tak Apa Karena Tuan Adalah Penguasa
Yang membuat putih jadi hitam
dan yang membuat hitam menjadi putih jua
Tak apa tuan berdusta
Bencana bandang kayu gelondonganitu hanya seram di dalamTV dan medsos saja
Meskipun dunia bersaksidasyatnya petaka
Kampung hilang… Jembatan hancur…
Kota kota terkurung
nyawa hilang dan bayi lapar berminggu minggu lamanya
Tak ada yang menyapa…
Tak apa karena tuan adalah penguasa…
Tak apa tuan katakana…
Ini hanya bencana biasa saja… Jadi bukanlah bencana negara
jadi tak butuh bantuan mancanegara.
Meski dunia tahu… di 18 Kabupaten dan Kota sudah 21 haribantuan pangan tak ada
Ketika rakyat mau bicara
Malah kau tuding… Mereka adalah ancaman kepentinganasing
Tuan bilang
📚 Artikel Terkait
Tenang… Semua tersedia
Tapi itu hanya kata kata
Sudah berminggu minggu lamanya BBM langka, gas langka, komunikasi macet, spekulan menaikkan harga dan rakyat tidak lagi berbuat apa apa
Masih juga kau katakan … Semua baik baik saja
Sementara di Menar Meriah, rakyat berjalan ratusan kilo menjual cabe merah ditukar beras untuk selamatkan nyawaanak anaknya
Tak apa kalian bisa bicara suka-suka karena kalian penguasa
dan kami hanya rakyat jelata
Tapi kalian lupa, ini adalah zaman di mana dusta direkamdalam ingatan semesta
dan ketika ia diputar ulang sebagai fakta
maka kalian tak akan bisa lagi berdusta
Tak apa…
Tak apa tuan terus menerus berdusta di tengah keluhkesah, tangis dan doa kaum teraniaya
doa mereka akan menggetarkan pintu aras di mana Tuhanbertahta
Tak apa tuan berdusta
karena tuan adalah penguasa
yang putih bisa kalian hitamkan
dan yang hitam bisa kalian putihkan
Kami rakyat biasa hanya memiliki doa
dan doa ini adalah doa ribuan jiwa, doa jutaan jiwa perlahanmenjadi miliaran doa yang akan menggerakkan tangan Tuhanmengunci mulutmu sampai tak lagi berdusta.
Aceh, Desember 2025
-ooo-
Ada satu kesalahan fatal yang terus berulang dalam cara negara memahami bencana: negara terlalu sering melihatnya sebagai peristiwa administratif, bukan tragedi kemanusiaan. Maka ketika Presiden Prabowo menyatakan bahwa Banjir Sumatera bukan bencana nasional dan karenanya tidak membutuhkan bantuan internasional, sesungguhnya yang sedang dipertahankan bukanlah kedaulatan, melainkan ego kekuasaan yang menutup mata terhadap penderitaan manusia.
Bicara bencana, sejatinya bukan bicara soal status hukum, apalagi gengsi negara. Bicara bencana adalah bicara tentang manusia yang kehilangan rumah, pangan, akses komunikasi, dan harapan hidup. Relasi yang terbangun dalam bencana bukan relasi antar-negara, melainkan relasi antar-manusia. Manusia ada lebih dahulu dari negara. Negara lahir untuk melindungi manusia bukan sebaliknya.
Ketika negara berdalih bahwa penetapan “bencana nasional” akan membuka pintu intervensi asing, yang sedang dilakukan negara adalah menempatkan kedaulatan di atas kemanusiaan. Ini adalah logika terbalik. Dalam etika kemanusiaan universal, kedaulatan tidak pernah lebih tinggi dari nyawa manusia. Bahkan hukum internasional humaniter dibangun justru untuk memastikan bahwa, pada titik paling gelap peradaban, perang, wabah, bencana, manusia tetap diselamatkan, melampaui batas politik.
Di sinilah puisi “Tuan Katakan Dusta” karya Dr. Wiratmadinata berdiri bukan sebagai sastra semata, melainkan sebagai akta moral terhadap kekuasaan.
“Tak apa tuan berdusta
karena tuan adalah penguasa
yang putih bisa kalian hitamkan
dan yang hitam bisa kalian putihkan”
Puisi ini membongkar watak klasik kekuasaan: menjinakkan realitas dengan kata-kata. Ketika kampung hilang, jembatan runtuh, bayi lapar berminggu-minggu, negara justru berkata: “Ini hanya bencana biasa.”
Dusta itu adalah kebohongan verbal, bahkan kekerasan simbolik, menyangkal pengalaman korban agar statistik tetap rapi dan wibawa tetap terjaga.
Padahal dunia menyaksikan. Solidaritas internasional bukanlah tudingan ketidakmampuan Indonesia, melainkan refleksi empati global. Ketika manusia Indonesia menangis, seharusnya tangis itu menjadi bahasa universal yang memanggil sesama manusia di dunia untuk menolong.
Spontanitas bantuan dari luar negeri tidak pernah identik dengan penjajahan. Yang kolonial justru adalah logika kekuasaan yang membiarkan rakyat menderita demi citra negara.
Puisi itu menampar logika negara yang gemar berkata “semua tersedia”, sementara:
“Sudah berminggu-minggu lamanya BBM langka, gas langka, komunikasi macet, spekulan menaikkan harga dan rakyat tidak lagi berbuat apa-apa.”
Di sinilah dusta menjadi struktural. Negara sedang memproduksi narasi tandingan terhadap kenyataan. Ketika rakyat ingin bicara, mereka dituduh sebagai “ancaman kepentingan asing”. Kritik dipersekusi, penderitaan dipolitisasi.
Lebih tragis lagi, ketika rakyat di Bener Meriah harus berjalan ratusan kilometer menjual cabai demi menukar beras untuk menyelamatkan nyawa anak-anak mereka, negara masih berani berkata: “Tenang, semua baik-baik saja.” Di titik ini, negara hadir sebagai penyangkal penderitaan.
Puisi “Tuan Katakan Dusta” mengingatkan bahwa zaman telah berubah. Dusta kekuasaan kini direkam oleh ingatan kolektif dan teknologi, disimpan oleh sejarah, dan kelak diputar ulang sebagai fakta. Negara boleh mengendalikan konferensi pers, tetapi tidak bisa mengendalikan memori rakyat.
Dan ketika semua instrumen politik gagal, rakyat hanya punya satu senjata terakhir: Doa.
“Doa mereka akan menggetarkan pintu aras di mana Tuhan bertahta.”
Doa menjadi peringatan etis: kekuasaan yang menutup telinga terhadap jeritan kemanusiaan sedang menggali delegitimasi moralnya sendiri. Negara yang takut pada bantuan kemanusiaan internasional sesungguhnya sedang takut pada satu hal: pengakuan bahwa ia gagal hadir sepenuhnya bagi rakyatnya.
Maka persoalannya bukan apakah banjir Sumatera layak disebut bencana nasional. Persoalannya adalah: apakah negara masih mau menempatkan manusia sebagai pusat kebijakan, atau hanya sebagai statistik yang bisa diputihkan dan dihitamkan sesuka penguasa?
Jika kedaulatan dipakai untuk menolak solidaritas kemanusiaan, maka kedaulatan itu telah kehilangan maknanya. Sebab negara yang berdaulat sejati bukan yang paling keras menutup pintu, melainkan yang paling berani membuka diri demi menyelamatkan nyawa manusia.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






