POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Upgrade Gawai, Downgrade Hutan

Paradoks Konsumsi Teknologi, Produksi Massal, dan Deforestasi

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
December 15, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Don Zakiyamani

Ketika membahas deforestasi, kita sering bahas yang besar.  Pembukaan lahan tambang oleh korporasi yang membabat habis hutan. Namun mari kita bahas yang di tangan kita, gawai. Sesuatu yang lebih kita kenal daripada diri sendiri, yang lebih kita ingat ketimbang pencipta kita. Silahkan sambil ngopi, senyum dan bersyukur membaca ulasan reflektif ini.

Kita hidup di zaman ketika hutan tidak selalu tumbang oleh suara gergaji. Ia sering hilang tanpa suara. Berubah menjadi ponsel baru di etalase, mobil baru di garasi, dan narasi hijau di iklan teknologi. Paradoksnya jelas: semakin kita merasa modern dan efisien, semakin besar pula jejak perusakan ekologis yang disembunyikan di balik layar sentuh.

Ambil contoh gadget, benda kecil yang kita ganti hampir setiap dua atau tiga tahun. Satu smartphone modern mengandung lebih dari 30–60 jenis unsur mineral, mulai dari tembaga, timah, nikel, kobalt, lithium, hingga logam tanah jarang. Untuk memproduksi satu unit smartphone, dibutuhkan sekitar 10–12 kilogram bahan mentah yang ditambang dari bumi. Angka ini tampak kecil hingga kita mengingat bahwa produksi global smartphone mencapai sekitar 1,4–1,5 miliar unit per tahun. Artinya, industri ini menyedot puluhan juta ton material tambang setiap tahun, yang sebagian besar berasal dari wilayah hutan tropis dan daerah kaya keanekaragaman hayati.

Di saat inilah deforestasi bekerja secara senyap. Hutan dibuka bukan untuk pangan, bukan untuk hunian, melainkan untuk emas mikrogram di papan sirkuit, timah solder, dan lithium baterai, semuanya agar layar kita sedikit lebih tajam dan prosesor sedikit lebih cepat. Kita menyebutnya inovasi; masyarakat di sekitar tambang menyebutnya air sungai yang keruh, tanah longsor, dan ruang hidup yang menyempit.

Paradoks yang lebih besar muncul pada mobil, terutama mobil listrik. Ia dipromosikan sebagai solusi krisis iklim, tetapi secara material justru jauh lebih rakus tambang dibanding mobil berbahan bakar fosil. Satu mobil listrik rata-rata membutuhkan lebih dari 100 kilogram mineral kritis hanya untuk baterainya: sekitar 30 kg nikel, 8–10 kg kobalt, 6 kg lithium, serta puluhan kilogram grafit, belum termasuk aluminium, tembaga, dan logam tanah jarang untuk motor listrik.

📚 Artikel Terkait

Maradona, Italia dan Rektor

Gol A Gong Akan Menerbitkan 10.000 Fiksi Mini Indonesia Pemecah Rekor Setebal Bantal

Kadisdikbud Abdya Buka Pelatihan Digitalisasi Pembelajaran bagi Guru SD

Nawasena

Ketika perusahaan-perusahaan besar dunia menargetkan produksi jutaan unit per tahun, pembukaan tambang baru menjadi keniscayaan, bukan pengecualian.Indonesia berada di jantung paradoks ini. Negara ini menyimpan sekitar 40 persen cadangan nikel dunia dan dalam beberapa tahun terakhir memproduksi lebih dari 1,5 juta ton nikel per tahun. Untuk memenuhi permintaan industri baterai global, hutan-hutan di Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan wilayah lain dibuka untuk tambang dan smelter. Ironinya, banyak smelter tersebut ditenagai listrik berbasis batubara, menjadikan mobil listrik “bersih” di kota, tetapi kotor di wilayah produksinya.

Aceh, meski bukan pusat nikel dunia, tetap terjerat dalam rantai ini. Emas dari Aceh masuk ke komponen elektronik gadget dan kendaraan. Batubara Aceh menyuplai listrik industri. Migas Aceh menjadi bahan baku plastik dan petrokimia. Dengan kata lain, Aceh ikut menyubsidi gaya hidup digital global, sementara kerusakan ekologis, konflik lahan, dan tekanan terhadap hutan ditanggung secara lokal.Data global menunjukkan bahwa sebagian besar deforestasi terkait pertambangan terjadi di wilayah tropis—tempat cadangan mineral strategis berada. Walau luas tambang secara persentase tampak kecil, dampaknya sangat besar karena sering berada di hutan primer, memecah habitat, merusak daerah aliran sungai, dan mengunci wilayah tersebut dalam siklus ekstraksi jangka panjang.

Masalah utamanya bukan teknologi itu sendiri, melainkan konsumsi berlebihan yang dibungkus moral palsu. Kita mengganti ponsel yang masih berfungsi, membeli kendaraan pribadi atas nama “efisiensi”, dan menyebutnya pilihan sadar lingkungan. Padahal, tanpa pembatasan konsumsi, transparansi rantai pasok, dan perlindungan hutan yang tegas, teknologi hanya memindahkan beban kerusakan—dari pusat kota ke pinggiran, dari konsumen ke komunitas tambang.

Di Aceh, deforestasi bukan statistik abstrak. Ia hadir sebagai sungai yang dulu jernih kini keruh, sebagai bukit yang gundul setelah hujan, sebagai ruang hidup yang perlahan menyempit. Sering kali, kerusakan itu tampak tidak berkaitan langsung dengan kehidupan digital kita, padahal benang penghubungnya nyata. Mineral yang menopang gadget dan mobil modern meninggalkan jejak ekologis di tanah yang sama: tanah tempat hutan pernah berdiri.

Refleksi ini tidak mengajak kita menolak teknologi atau kembali ke romantisme masa lalu. Teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan, kerja, dan komunikasi. Namun pertanyaan etisnya sederhana sekaligus sulit: apakah setiap pembaruan benar-benar kita butuhkan, atau hanya kita inginkan? Nah, di saat inilah kebijaksanaan diuji. Bukan pada apa yang bisa kita beli, tetapi pada apa yang bisa kita tahan untuk tidak membeli.

Menggunakan teknologi secara lebih bijak berarti memperpanjang usia pakai perangkat, merawat alih-alih mengganti, memilih memperbaiki ketimbang membuang. Ia berarti menunda upgrade yang tidak perlu, mengurangi kepemilikan ganda, dan menyadari bahwa “cepat” dan “baru” sering dibayar mahal oleh alam yang jauh dari jangkauan kita. Setiap tahun tambahan usia sebuah gawai adalah tambang yang tidak dibuka, hutan yang tidak ditebang, meski dampaknya tak selalu terlihat.

Pada akhirnya, hubungan kita dengan teknologi adalah cermin hubungan kita dengan alam. Jika teknologi hanya kita pakai untuk mempercepat konsumsi, maka deforestasi akan terus mengikuti. Tetapi jika teknologi kita tempatkan sebagai alat—bukan tujuan—kita membuka kemungkinan lain: kemajuan yang lebih lambat, lebih sadar, dan lebih adil. Dari Aceh hingga ke genggaman tangan kita, masa depan hutan mungkin tidak ditentukan oleh inovasi paling canggih, melainkan oleh keputusan paling sederhana: kapan cukup, dan kapan berhenti.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Predatory States and Silenced Voices: Reflections on the UN Forum on Minority Issues in Geneva

Teguran dari Langit

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00