Dengarkan Artikel
Oleh: Zulhaini Sartika, S.T., M.T.
November 2025, bukanlah waktu yang mudah bagi masyarakat di ujung barat Indonesia ini. Langit seolah tak berhenti menumpahkan air, memicu banjir dan tanah longsor yang melumpuhkan nadi kehidupan. Jalanan terputus, tiang listrik roboh, dan jaringan internet menjadi barang mewah yang timbul tenggelam.
Dalam logika kedaruratan, prioritas utama tentu adalah keselamatan fisik dan pemenuhan logistik dasar. Namun, pada tanggal 29 November 2025, sebuah fenomena yang menggugah hati terjadi di ruang digital Universitas Serambi Mekkah (USM).
Di tengah kepungan bencana hidro-meteorologi ini, Program Studi Teknik Kimia USM menggelar Kuliah Umum Nasional. Yang menakjubkan bukanlah acara itu sendiri, melainkan siapa yang hadir dan bagaimana mereka hadir.
Ratusan siswa SMA dan SMK dari berbagai penjuru Aceh—banyak di antaranya mungkin sedang berada di pengungsian atau rumah yang tergenang—tetap menyalakan gawai mereka, mencari sinyal di sela-sela keterbatasan, untuk mendengarkan paparan tentang masa depan dunia rekayasa (engineering).
Peristiwa ini bukan sekadar kuliah umum biasa. Ini adalah manifestasi dari ketangguhan mental (resilience) generasi muda Aceh. Ini adalah bukti bahwa bencana alam boleh saja merusak infrastruktur fisik, namun tidak mampu meruntuhkan infrastruktur harapan dan semangat belajar.
Pendidikan sebagai Jangkar di Tengah Badai
Narasi yang berkembang dari acara ini memberikan pelajaran berharga tentang fungsi pendidikan dalam situasi krisis. Seringkali, saat bencana melanda, pendidikan dianggap sebagai hal sekunder yang bisa ditunda. Namun, inisiatif Teknik Kimia USM membuktikan sebaliknya.
Pendidikan, dalam hal ini pengenalan dunia profesi dan wawasan masa depan, justru menjadi “jangkar” yang menjaga kewarasan dan optimisme di tengah kekacauan.
Seperti yang disampaikan oleh Ketua Program Studi Teknik Kimia USM, Zulhaini Sartika, S.T., M.T., kehadiran para siswa di tengah situasi sulit adalah indikator tekad yang kuat.
Bagi seorang siswa yang rumahnya mungkin sedang terancam banjir, memikirkan tentang “Industrialisasi Berkelanjutan”—tema kuliah umum tersebut—tampaknya jauh dari realitas keseharian. Namun, justru di sanalah letak kekuatannya.
Dengan mengikuti acara ini, para siswa tersebut sedang melakukan perlawanan terhadap keputusasaan. Mereka menolak untuk didefinisikan oleh bencana yang menimpa mereka saat ini, dan memilih untuk fokus pada siapa mereka di masa depan: para engineer yang tangguh.
Urgensi Mengenalkan Rekayasa Sejak Dini
Langkah Universitas Serambi Mekkah untuk menyasar siswa SMA dan SMK adalah strategi jemput bola yang patut diapresiasi. Dr. Ir. Saisa, S.T., M.T., selaku moderator, dengan tepat menggarisbawahi bahwa pengenalan disiplin teknik sejak dini adalah kunci strategis. Mengapa? Karena dunia rekayasa, khususnya Teknik Kimia, seringkali dipandang sebagai disiplin ilmu yang rumit dan menakutkan bagi sebagian pelajar.
📚 Artikel Terkait
Dengan menghadirkan praktisi seperti Fakhri Kamal, S.T., M.M., dari PT. Solusi Bangun Andalas, USM tidak hanya memberikan teori, tetapi juga memberikan “wajah” pada profesi tersebut. Fakhri menekankan bahwa dunia industri membutuhkan anak muda yang visioner dan siap berinovasi. Narasi ini penting untuk mengubah persepsi siswa. Menjadi insinyur bukan hanya soal menghitung rumus termodinamika atau neraca massa, tetapi tentang menjadi problem solver (pemecah masalah).
Konteks bencana Aceh saat ini justru memberikan panggung relevansi yang sangat nyata bagi ilmu teknik. Banjir dan longsor yang terjadi adalah akibat dari ketidakseimbangan lingkungan dan infrastruktur yang mungkin belum memadai.
Di sinilah peran engineer masa depan diuji. Siapa yang akan merancang material bangunan yang tahan terhadap iklim ekstrem? Siapa yang akan mengelola sistem drainase dan pengolahan air bersih saat sumber air tercemar banjir? Siapa yang akan menciptakan energi alternatif saat pasokan listrik konvensional terputus?
Jawabannya adalah anak-anak SMA/SMK yang hari ini mendengarkan kuliah umum tersebut.
Mengenalkan dunia rekayasa kepada mereka bukan sekadar orientasi karier, melainkan sebuah panggilan tugas. Kita sedang memberitahu mereka: “Lihatlah kerusakan di sekeliling kalian, pelajari ilmunya, dan jadilah orang yang memperbaikinya di masa depan.”
Konektivitas Industri dan Akademisi: Jembatan Menuju Realitas
Salah satu poin krusial dalam narasi kegiatan ini adalah keterlibatan sektor industri. Seringkali terdapat jurang pemisah (gap) antara apa yang dipelajari di bangku sekolah atau kuliah dengan apa yang dibutuhkan di lapangan. Kehadiran perwakilan dari industri besar seperti PT. Solusi Bangun Andalas memberikan wawasan pragmatis yang sangat dibutuhkan siswa.
Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu pasca-bencana, bayangan tentang masa depan karier seringkali menjadi suram. Namun, paparan mengenai luasnya peluang di bidang teknik kimia—mulai dari manufaktur, energi, hingga lingkungan—memberikan secercah harapan. Ini menegaskan bahwa profesi engineer adalah profesi yang adaptif dan selalu dibutuhkan, terlepas dari kondisi zaman.
Fakhri Kamal menyebutkan bahwa insinyur memiliki peran besar dalam membentuk masa depan bangsa. Pernyataan ini bukan hiperbola. Negara-negara maju seperti Jerman, Jepang, dan China bisa bangkit dari keterpurukan (bahkan kehancuran perang) karena mereka memiliki surplus insinyur yang mampu membangun kembali negara.
Aceh, dengan segala potensi sumber daya alam dan tantangan geografisnya, membutuhkan pasukan insinyur “organik”—putra-putri daerah yang memahami karakteristik tanah kelahirannya, namun memiliki kompetensi global.
Menumbuhkan Mentalitas Problem Solver
Apa yang dilakukan oleh Teknik Kimia USM melampaui sekadar promosi kampus. Ini adalah upaya menanamkan mentalitas problem solver. Di tengah keterbatasan akses listrik dan jaringan internet akibat bencana, para siswa yang tetap “login” ke ruang virtual tersebut sudah mempraktikkan dasar-dasar rekayasa: mencari solusi dalam keterbatasan (optimization under constraints).
Mereka tidak menyerah karena sinyal buruk; mereka mencari cara. Mereka tidak berhenti karena listrik mati; mereka mencari daya alternatif. Semangat inilah yang disebut oleh Zulhaini Sartika sebagai modal menjadi “engineer profesional yang tangguh dan adaptif.” Tidak ada laboratorium yang lebih baik untuk mengajarkan ketangguhan selain realitas kehidupan yang keras.
Bencana alam Aceh tahun 2025 ini harus menjadi titik balik. Kita tidak bisa terus-menerus hanya menjadi korban yang menunggu bantuan setiap kali musim hujan tiba. Siklus bencana ini harus diputus dengan solusi teknis yang berkelanjutan. Dan solusi itu ada di tangan generasi muda yang kini duduk di bangku SMA dan SMK.
Kesimpulan: Harapan yang Terbit dari Kampus
Kegiatan Kuliah Umum Nasional yang diselenggarakan oleh Teknik Kimia USM di tengah bencana ini mengirimkan pesan yang kuat ke seluruh penjuru negeri. Bahwa pendidikan tidak boleh berhenti. Bahwa inspirasi bisa ditemukan bahkan di saat kondisi paling gelap sekalipun.
Apresiasi setinggi-tingginya patut diberikan kepada para pendidik di USM yang tetap berkomitmen menyelenggarakan acara, dan terlebih lagi kepada para siswa SMA/SMK se-Aceh yang membuktikan bahwa semangat belajar mereka tidak luntur oleh air bah. Mereka adalah aset terbesar Aceh.
Jika hari ini mereka mampu menembus batasan sinyal dan listrik untuk belajar tentang teknik kimia, bayangkan apa yang bisa mereka lakukan sepuluh tahun lagi untuk Aceh dan Indonesia. Mereka bukan lagi sekadar penonton bencana, melainkan arsitek peradaban baru yang lebih tangguh, lebih canggih, dan lebih siap menghadapi tantangan zaman. Inilah esensi dari pendidikan rekayasa yang sesungguhnya: membangun manusia yang mampu membangun kembali dunianya, betapapun hancurnya dunia itu saat ini.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






