Dengarkan Artikel
Oleh Feri Irawan
BENCANA hidrometeorologi banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Aceh, telah membuat “Nanggroe Syariat Islam” lumpuh.
Diperkirakan, hampir 23 kabupaten/kota terdampak, ratusan nyawa melayang, ribuan warga mengungsi, ribuan rumah hancur, serta ribuan hektare lahan pertanian dan perkebunan rusak tersapu banjir dan longsor. Bencana ekologis ini melumpuhkan perekonomian, merusak infrastruktur, rumah ibadah, gedung sekolah, hingga harta benda.
Tidak berhenti sampai di situ, pasca bencana, hadir persoalan lain yang sangat mengkhawatirkan. Puluhan ribu korban terdampak krisis pangan dan air bersih.
Suplay logistik terhadap warga terdampak masih belum terlihat sama sekali. Dipastikan, akses transportasi yang terputus dan jaringan internet yang menghilang, akan menjadi kambing hitam dalam masalah ini.
📚 Artikel Terkait
KITA bukan penonton. Kita bagian dari umat yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Bayangkan bagaimana rasanya lapar bukan karena lupa makan, tapi karena memang tidak ada yang bisa dimakan sama sekali? Itu kenyataan yang dirasakan ribuan jiwa dampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh hari ini.
Sudah lima hari anak-anak tidur dalam kondisi perut kosong. Ibu-ibu harus memilih: menyusui anaknya dengan tubuh lemah, atau menyerahkan anak itu kepada maut perlahan karena tak ada makanan. Dan Istana? Istana tetap “slow respon” dengan urusan pamer alusista, seolah tidak ada tragedi yang sedang berlangsung. Seolah nyawa-nyawa dengan perut kosong itu bukan bagian dari kemanusiaan.Ini adalah bentuk pembiaran terhadap korban untuk berjuang hidup sendiri.
Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, kelaparan dan penyakit akan terjadi. Selain itu, potensi aksi kriminal akan menguat. Warga terdampak akan bereaksi jika sudah menyangkut urusan perut.
Pemerintah harus bergerak cepat mencari solusi di tengah kendala yang ekstra berat. Walau jalur darat sudah dalam kondisi berantakan, Bandara Sultan Iskandar Muda, Malikusaleh, dan Rembele, masih berdiri kokoh, siap mengemban misi kemanusiaan.
Disisi lain, PT PLN (Persero) dan PT Telkomsel harus bekerja lebih maksimal, menyalakan listrik yang padam, menghadirkan jaringan internet yang menghilang. Ingat! Tujuh hari sudah diselimuti kegelapan dan terisolasi dari daerah luar.
Kadang aku berpikir. Mengapa banjir bandang di Sumatera belum ditetapkan sebagai status tanggap darurat oleh negara? Apa karena Sumatera bukan Jakarta, apa karena kami bukan Jawa? Atau negara takut mengeluarkan anggaran? Kondisi Aceh, Sumut, dan Sumbar sedang sekarat. Infrastruktur sangat memprihatinkan. Apalagi, banyak akses darat yang strategis putus di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Sumatera juga Indonesia. Aceh, Sumut dan Sumbar itu tiga Provinsi sedang berjuang sendirian dari banjir bandang yang meluluh lantakkan kehidupan. Maka, segeralah tetapkan bencana ekologis Sumatera dalam status bencana nasional. Dengan demikian, akan banyak pihak yang bisa membantu menyelamatkan hidup mereka. Jangan biarkan mereka terisolasi, hingga kelaparan dan mati.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






