• Latest
Seandainya Aku Tak Menjadi Guru - seorang guru di perpustakaan sekolah di Aceh suasana damai dengan buku buku dan nuansa budaya lokal | Biografi | Potret Online

Seandainya Aku Tak Menjadi Guru

Maret 24, 2025
Ilustrasi seorang berdiri di persimpangan jalan dengan simbol otak bercahaya di tengah, menggambarkan akal waras di era digital antara kebaikan dan pengaruh media sosial.

Akal Waras di Era Digital

April 22, 2026
mahasiswi bimbingan konseling sedang belajar dan merenung

Abadi Dalam Ketegangan: Mengapa Perjuangan Kartini Tak Akan Pernah Usai?

April 22, 2026
06d8027d-a2d7-42d1-a3d1-ad2fe9ddf489

Hari Ini Gubernur Kaltim akan Dilengserkan Rakyatnya, is Apakah Berhasil?

April 22, 2026
Pendidikan SD

Di Antara Wahyu dan Rasio: Menyatukan Jalan Pendidikan Aceh

April 22, 2026
aef171bb-b3d2-4814-9a54-7d09b7b9f971

Perempuan Ganda;Kartini Dulu Hingga Kini

April 22, 2026
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Seandainya Aku Tak Menjadi Guru - 1001348646_11zon | Biografi | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Seandainya Aku Tak Menjadi Guru

Bagian 22

Bussairi D Nyak Diwa by Bussairi D Nyak Diwa
Maret 24, 2025
in Biografi
Reading Time: 3 mins read
0
Seandainya Aku Tak Menjadi Guru - seorang guru di perpustakaan sekolah di Aceh suasana damai dengan buku buku dan nuansa budaya lokal | Biografi | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Bussairi D. Nyak Diwa

​Aku mulai kecanduan membaca. Hampir setiap sudut rak di perpustakaan sekolah aku jelajahi. Mula-mula aku tidak milih-milih buku untuk dibaca. Asalkan judul depannya menarik, langsung aku ambil dan kubaca bagian isi buku itu. Jika apa yang kubaca itu terasa enak dan menarik, langsung kutemui petugas perpustakaan sekolah untuk meminjamnya. Tapi lama-lama buku-buku di perpustakaan sekolah ini mulai kurang menarik minatku. Apalagi kebanyakan buku di sini berisi materi yang berhubungan dengan pelajaran.

Kemudian ada satu-dua buku yang berisi ilmu pengetahuan umum dan sastra, tetapi isinya terasa berat buat ukuran otakku yang masih muda dan terbatas. Aku menginginkan bacaan-bacaan yang lebih lewes, ringan, menarik, dan berisi intisari kehidupan atau pengalaman kehidupan sehari-hari. Dan ternyata buku-buku yang berisi seperti itu ada dalam buku-buku sastra. Tetapi buku-buku sastra sangat kurang di perpustakaan ini. Maka aku mulai melebarkan jaringan mengunjungi perpustakaan-perpustakaan yang ada di Kota Banda Aceh seperti Perpustakaan Wilayah di Lamnyong, Perpustakaan Pusat Dokumentasi dan Informasi Daerah di dekat Blang Padang, dan Perpustakaan Kodya di Peuniti. Tapi yang sangat sering kusambangi kala senggang adalah Perpustakaan Wilayah, karena perpustakaan ini mempunyai banyak koleksi buku-buku yang sesuai dengan minat baca dan kegemaranku.

Baca Juga
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU
  • Kanal Khiev, Finalis Kamboja’s Got Talent Mempertunjukkan Tarian Spektakulernya di IMLF II

​Terus terang, buku-buku yang paling banyak menyita perhatianku adalah buku-buku sastra. Entah karena termotivasi oleh pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah yang diasuh oleh guru muda itu, entah karena pengaruh suasana jiwaku yang mulai labil, yang jelas setiap ke perpustakaan pertama-tamayang kutuju adalah rak buku sastra. Di sinilah aku mulai berkenalan dengan roman-roman masa lalu, kisah-kisah populer masa kini, dan tokoh-tokoh sastra setiap angkatan kesustraan Indonesia, maupun tokoh sastra dunia. Dan satu hal yang membuat minatku semakin termotivasi ke dunia sastra adalah pengalaman masa lalu saat aku SMP dulu. Pengalaman mondok di pesantren dan tinggal di samping perpustakaan di masa lalu itu telah menjadikan aku seakan menemukan jembatan yang menghubungkannya ke masa kini. Buku-buku roman yang kubaca sangat terbatas dulu, kini seakan-akan semakin luas memberi jalan menuju ke dunia yang tiada batas. 

​Pernah suatu ketika, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Kenapa namaku singkat sekali? Tidak seperti nama-nama rata-rata temanku yang kukenal? Dan mengapa aku tidak pernah menemukan nama orang lain yang sama dengan namaku? Beda sekali dengan nama Mustafa, Muslim, Ismail, misalnya. Nama-nama seperti ini dapat kita temukan puluhan di sekitar kita. Tapi BUSSAIRI? (BUSHAIRI, sewaktu masuk SD namaku salah ditulis oleh guru, mestinya H tertulis S) Tak ada nama lain, selain namaku.

Baca Juga
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU
  • Karena Aku Guru

​Apa latar belakang Abang sulungku, memberikan nama itu untukku. Ya, ibu pernah bercirita dulu padaku, bahwa namaku itu diberikan oleh Abang sulungku yang waktu itu dia sedang mondok di Pesantren Mudi Mesra Samalanga Aceh Utara, tahun 1965. Nama itu sengaja dikirimkannya kepada orang tuaku di kampung via surat kala itu. Sebagai kenang-kenangan, katanya dalam surat.

​Tapi dengan membacalah akhirnya aku menemukan jawaban, ada apa dengan namaku itu. Suatu hari (aku sudah lupa hari apa) aku sedang membolak-balik sebuah buku yang dikarang oleh seorang sastrawan sekaligus ulama besar yang sangat kukagumi. Judul buku itu “Tatasauf Moderent”, ditulis oleh Buya HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah), seorang ulama sekaligus sastrawan yang sangat terkenal dengan romannya “Tenggelamnya Kapal Vanderwijd”. Di bagian terakhir buku yang kubaca itu aku menemukan sebuah nama seperti namaku, BUSHAIRI. Lengkapnya Imam Syarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Zaid Al-Bushairi, sastrawan terkenal Mesir, pengarang Kitab Al Banzanji yang sering dibaca saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW itu. Masya Allah! 

Baca Juga
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU
  • SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Share234SendTweet146Share
Bussairi D Nyak Diwa

Bussairi D Nyak Diwa

Bussairi D. Nyak Diwa kerap menggunakan nama pena Bussairi Ende, atau B.S. Ende; lahir di Bakongan Aceh Selatan pada 10 Juli 1965. Saat ini menjabat Kepala SMP Negeri 4 Kluet Utara, Aceh Selatan. Alumni Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unsyiah, 1992. Pernah memimpin Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) sebagai Ketua Umum Periode 1988-1992. Pendiri Majalah Mahasiswa FKIP Unsyiah KALAM, 1990. Bersama Said Fadhil, Agam Ismayani, dan Mohd. Harun mendirikan Majalah Mahasiswa Unsyiah Monomen, 1991. Menulis puisi, cerpen, dan esai sastra di beberapa koran lokal. Bulan November 2009 diundang ke Jakarta sebagai Finalis Lomba Menulis Cerita Pendek Guru Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Cerpen dengan judul “Bulohseuma” terpilih sebagai 15 Cerpen Terbaik Tingkat Nasional 2009 dan memperoleh Tropi dari Depdiknas. Sementara Kumpulan Puisi dengan judul Ziarah Hati, memperoleh Juara III Tingkat Nasional dalam Lomba Menulis Buku Pengayaan Tahun 2010 yang diselenggarakan oleh Pusat Perbukuan Depdiknas Jakarta. Untuk menerima hadiah diundang ke Jakarta bersamaan dengan peringatan Hari Buku Nasional yang disiarkan langsung oleh TVRI Pusat Jakarta 9 Juni 2010. Penulis juga tercatat sebagai penulis Indonesia dalam Buku Ensiklopedi Penulis Indonesia Jilid 7.  Hingga hari ini Penulis telah menghasilkan beberapa buku, di antaranya; Ziarah Hati (Kumpuln Puisi, Pusbuk, 2010), Senyum Terakhir Siti Sara (Kumpuln Cerpen, Fam Publishing 2017), Doa Sajadah (Kumpulan Puisi, Fam Publishing 2019), dan beberapa Buku Kumpulan Puisi Bersama. Sedangkan Buku yang bakal terbit dalam waktu dekat adalah Kumpulan Cerpen Ayah dan Anak (2021).

Next Post
Seandainya Aku Tak Menjadi Guru - d97b075c 1aeb 4547 b8a4 3f3519c36fd7 | Biografi | Potret Online

Begini Cara Kerja Mafia Hukum

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com