POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Aceh

Ketika Privatisasi Sumber Daya Alam Membawa Petaka

Feri Irawan by Feri Irawan
November 30, 2025
in Aceh, Banjir, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Mitigasi bencana
0
Ketika Privatisasi Sumber Daya Alam Membawa Petaka - IMG_8731 | Aceh | Potret Online

Oleh Feri Irawan

Bencana banjir bandang kembali melanda Aceh, 26 November 2025, menenggelamkan permukiman, jalanan, properti dan fasilitas publik lainnya.

Tanah pun marah. Bukit yang biasanya kokoh, lemah. Sungai yang biasanya tenang, mengamuk. Alam Aceh yang tersembunyi di balik syair-syair didong, berbalik jadi algojo.

Baca Juga
  • Ketika Privatisasi Sumber Daya Alam Membawa Petaka - IMG_5839 | Aceh | Potret Online
    Aceh
    HABA Si PATok
    04 Jul 2025
  • Ketika Privatisasi Sumber Daya Alam Membawa Petaka - 34cc3318 2b19 4a02 b58e c73f3f36eb71 | Aceh | Potret Online
    #Salem City
    Salem’s City Seal Controversy: Between Historical Legacy and Modern Sensitivities
    15 Jul 2025

Sementara, pejabat berdiri di depan kamera, berkata,”ini faktor tingginya intensitas hujan, kondisi hidrologis, dan topografi perbukitan yang memperlambat aliran air”.

Padahal, banjir dan longsor yang terjadi disebabkan karena faktor manusia yang merusak alam. Hal ini diperburuk begitu banyak bangunan yang dibangun di bantaran sungai. Aliran sungai tak lagi mengalir air jernih. Melainkan, mengalir dendam ekologis.

Baca Juga
  • Ketika Privatisasi Sumber Daya Alam Membawa Petaka - 71aa1b4a e360 49be 8260 87f25d385eac | Aceh | Potret Online
    # Ironi
    Kritik Rasio Sinis Atas Bencana dan Bunuh Diri Ekologis
    03 Des 2025
  • Ketika Privatisasi Sumber Daya Alam Membawa Petaka - 9477a530 dcd1 4dfb 9431 9f7c91f8f78b | Aceh | Potret Online
    Aceh
    Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?
    18 Mar 2026

Musibah pun terjadi, banjir bandang melanda. Ratusan nyawa hilang, ribuan jiwa terdampak seperti nomaden akhir zaman, infrastruktur hancur, jembatan putus seperti urat yang dipotong, listrik padam, kendaraan tenggelam, hingga terisolasi.

Status darurat bencana pun ditetapkan selama 14 hari ( 28 November s.d 11 Desember) oleh Mualem Gubernur Aceh.

Baca Juga
  • 01
    Aceh
    Syech Fadhil Minta Masyarakat Gelar Salat Istisqa
    28 Jul 2024
  • 02
    Aceh
    Dispora Tampilkan Catur Budaya Ekshibisi
    11 Agu 2018

Pohon yang ditebang atas izin negara kini jadi senjata pembunuh. Bagaimana tidak, setiap hektare hutan menjadi sawit monokultur yang rakus air, dan tambang yang menggali perut bumi. Sementara degradasi lebih luas akibat penebangan liar.

Padahal, UNESCO sudah memasukkan Gunung Leuser (Aceh) ke daftar “In Danger” sejak 2011. Tapi, siapa peduli?

Kini, Aceh sekarat di depan mata. Sebelum napas terakhir, ia kirim jutaan batang pohon yang kita bunuh, demi sawit, tambang, kembali sebagai peti mati terapung, fragmentasi habitat, konflik agraria, hingga degradasi UNESCO “In Danger”. Alfatiha untuk korban, nama, keluarga, masa depan yang lenyap di lumpur.

Allah SWT jelas berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 41, yang artinya, “ Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) .”

Setiap bencana yang menimpa manusia tidak lepas dari perbuatannya. Oleh karena itu, negara sebagai penjaga, wajib menjadi wadah kuat yang mampu menetapkan kebijakan yang mendidik sekaligus melindungi kelestarian alam dan keselamatan setiap individu.

Padahal, sistem islam mendorong pembangunan berbasis mitigasi, dengan regulasi yang menjaga ekosistem, mencegah perusakan lingkungan, dan memetakan potensi bencana sesuai kondisi geografis. Semua itu dilakukan demi keselamatan manusia dan kelestarian alam.

Islam juga melarang segala bentuk privatisasi sumber daya alam milik umum. Kawasan hutan, sungai dan kawasan resapan tidak bisa semena-mena dijadikan lokasi bisnis dengan alasan apapun. Karena penjagaan hutan yang optimal mampu menjadi resapan udara dan kantung-kantung oksigen yang jauh lebih berharga dari sekedar materi dunia.

Penulis adalah Kepala SMKN 1 Jeunieb

Previous Post

Di Tengah Banjir, Deforestasi, dan Sampah Plastik

Next Post

Predatory States and Silenced Voices: Reflections on the UN Forum on Minority Issues in Geneva

Next Post
Ketika Privatisasi Sumber Daya Alam Membawa Petaka - c846b84c 908e 4bf9 8ac8 c3f4d88eb3ac | Aceh | Potret Online

Predatory States and Silenced Voices: Reflections on the UN Forum on Minority Issues in Geneva

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah