POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Bangku Besi Perampas Kehidupan

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
November 23, 2025
Bangku Besi Perampas Kehidupan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Ririe Aiko

(Puisi esai ini diangkat dari kisah nyata Muhammad Hisyam, siswa kelas 7 SMPN 19 Tangerang Selatan yang menjadi korban perundungan sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Puncak kekerasan terjadi pada 20 Oktober 2025, ketika kepalanya dipukul menggunakan bangku besi oleh teman sekelasnya. Ia sempat mengalami tubuh lemas, kehilangan penglihatan, dan akhirnya meninggal dunia pada 16 November 2025 di RS Fatmawati, Jakarta.) (1)

—000—

Di sebuah ruang kelas yang mestinya menjadi rumah bagi ilmu,
suara kapur tulis tiba-tiba kalah
oleh dentum sebuah bangku besi.

Di tengah deret meja yang sunyi,
masa depan seorang anak berusia tiga belas tahun
retak dalam sekejap,
dihantam tangan-tangan sebaya
yang kehilangan nurani sebagai manusia

Hisyam, anak remaja yang menulis mimpi
indah di bangku sekolah (2)
Kini namanya tertulis dibantu nisan
Sejarah mencatatnya bukan sebagai pahlawan
Tapi sebagai korban perundungan yang kejam

Lorong-lorong sekolah menjadi saksi
luka penindasan yang berkerak dalam diam,
menggores hati yang masih rangu
untuk menanggung cemooh
yang menghujam hari-harinya.

—000—

Oktober 2025,
Bulan ketika para pemuda-pemudi Indonesia mengucap sumpah bersatu
Nyatanya ada generasi muda bangsa yang berakhir dalam duka pilu
Hari yang seharusnya penuh semangat
berbuah menjadi palung gelap.

Sebuah bangku besi,
yang harusnya menopang tubuh belajar,
diangkat menjadi senjata
Oleh tangan sebaya
Yang tega merampas satu nyawa

Pukulan itu bukan hanya dering besi di kepala,
melainkan rekahnya sebuah sistem
yang terlalu jinak pada dosa usia belia.

Meski tubuh mereka kecil,
dan umur mereka masih remaja
Nyatanya kejahatan tak pandang usia tangan-tangan itu memegang senjata
Tega…
mengakhiri hidup manusia

—000—

📚 Artikel Terkait

Ide Bisnis di Sekitar Kita

Tak Sempat Menulis – Ulasan Artikel

Semangat Bangsa Milenial Muda di Hari Sumpah Pemuda

Dreaming To Be a Business Owner

Di mana anak-anak
yang dulu berebut layangan di lapangan?
Ke mana perginya tawa yang meloncat
lebih tinggi daripada benang yang putus oleh angin?
Mengapa mereka yang lugu
kini hilang dari dirinya sendiri?

Apakah sekolah hanya sibuk menghitung angka
hingga lupa mengenalkan rasa kemanusiaan?

Bagaimana empati bisa tumbuh
jika rasa tak pernah diajarkan,
jika hati dibiarkan kosong
sementara kepala dijejali rumus dan hafalan?

Ke mana peran keluarga?
yang mestinya jadi rumah pertama
tempat anak belajar memeluk dunia.

Ke mana peran pendidikan?
yang mestinya jadi ladang
tempat karakter tumbuh seperti padi
merunduk ketika matang.

Mengapa satu anak bisa berlaku begitu kejam,
seolah di dalam dirinya
ada ruang gelap yang tak pernah disapa,
ada luka yang tak pernah disembuhkan,
ada teladan yang tak pernah hadir?

Atau…
kita kah yang membuat mereka membatu?
Kita kah yang lebih memilih gawai
daripada percakapan?
Lebih sibuk mengejar ranking
daripada kepekaan?
Lebih suka memberi hukuman
daripada mendengarkan?

Barangkali, kekejaman itu
adalah bayangan panjang
dari dunia orang dewasa
yang menetes ke jiwa mereka.

—000—

Seorang anak tumbuh
di bawah bayangan buruk
bisa menjadi pelaku,
atau menjadi korban.

Bullying seakan menjadi trend (3)
Pelaku tak jera dan masalah terus menggurita,
hukum hanya sebatas poster di mading,
sementara nyawa anak manusia terus melayang

Viral
kata yang lebih ditakuti sekolah
daripada luka di tubuh muridnya.
Selama kasus tak sampai ke media,
mereka menganggap semuanya baik-baik saja.
Selama laporan bisa disapu
maka tragedi hanya akan dianggap “kekhilafan remaja.”

Hisyam terkubur dalam diam
Tubuhnya sudah terbungkus kafan,
tapi pekik deritanya memantul
di tiap bangku kosong,
tiap papan tulis yang menunggu huruf baru,
tiap langkah murid yang melintas
tanpa tahu mereka berjalan
di atas sejarah yang berdarah.

Jika hari ini seorang anak mati
karena tangan pembully
maka besok siapa lagi?

CATATAN:

(1)https://news.detik.com/berita/d-8213993/7-fakta-siswa-smpn-di-tangsel-di-bully-hingga-meninggal-usai-dirawat
(2)https://www.beritasatu.com/banten/2942206/kisah-pilu-hisyam-takut-sekolah-dan-sembunyikan-bullying-dari-ibu
(3)https://bphn.go.id/berita-utama/kasus-perundungan-meningkat-tajam-bphn-dorong-sinergi-lintas-sektor-jadi-kunci-pencegahan

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Badut-Badut Jalanan

Badut-Badut Jalanan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00