• Latest
Bangku Besi Perampas Kehidupan

Bangku Besi Perampas Kehidupan

November 23, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Bangku Besi Perampas Kehidupan

Ririe Aikoby Ririe Aiko
November 23, 2025
Reading Time: 4 mins read
Bangku Besi Perampas Kehidupan
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Ririe Aiko (Puisi esai ini diangkat dari kisah nyata Muhammad Hisyam, siswa kelas 7 SMPN 19 Tangerang Selatan yang menjadi korban perundungan sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Puncak kekerasan terjadi pada 20 Oktober 2025, ketika kepalanya dipukul menggunakan bangku besi oleh teman sekelasnya. Ia sempat mengalami tubuh lemas, kehilangan penglihatan, dan akhirnya meninggal dunia […]

Oleh: Ririe Aiko

(Puisi esai ini diangkat dari kisah nyata Muhammad Hisyam, siswa kelas 7 SMPN 19 Tangerang Selatan yang menjadi korban perundungan sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Puncak kekerasan terjadi pada 20 Oktober 2025, ketika kepalanya dipukul menggunakan bangku besi oleh teman sekelasnya. Ia sempat mengalami tubuh lemas, kehilangan penglihatan, dan akhirnya meninggal dunia pada 16 November 2025 di RS Fatmawati, Jakarta.) (1)

—000—

Di sebuah ruang kelas yang mestinya menjadi rumah bagi ilmu,
suara kapur tulis tiba-tiba kalah
oleh dentum sebuah bangku besi.

Di tengah deret meja yang sunyi,
masa depan seorang anak berusia tiga belas tahun
retak dalam sekejap,
dihantam tangan-tangan sebaya
yang kehilangan nurani sebagai manusia

Hisyam, anak remaja yang menulis mimpi
indah di bangku sekolah (2)
Kini namanya tertulis dibantu nisan
Sejarah mencatatnya bukan sebagai pahlawan
Tapi sebagai korban perundungan yang kejam

Lorong-lorong sekolah menjadi saksi
luka penindasan yang berkerak dalam diam,
menggores hati yang masih rangu
untuk menanggung cemooh
yang menghujam hari-harinya.

—000—

Oktober 2025,
Bulan ketika para pemuda-pemudi Indonesia mengucap sumpah bersatu
Nyatanya ada generasi muda bangsa yang berakhir dalam duka pilu
Hari yang seharusnya penuh semangat
berbuah menjadi palung gelap.

Sebuah bangku besi,
yang harusnya menopang tubuh belajar,
diangkat menjadi senjata
Oleh tangan sebaya
Yang tega merampas satu nyawa

Pukulan itu bukan hanya dering besi di kepala,
melainkan rekahnya sebuah sistem
yang terlalu jinak pada dosa usia belia.

Meski tubuh mereka kecil,
dan umur mereka masih remaja
Nyatanya kejahatan tak pandang usia tangan-tangan itu memegang senjata
Tega…
mengakhiri hidup manusia

—000—

Di mana anak-anak
yang dulu berebut layangan di lapangan?
Ke mana perginya tawa yang meloncat
lebih tinggi daripada benang yang putus oleh angin?
Mengapa mereka yang lugu
kini hilang dari dirinya sendiri?

Apakah sekolah hanya sibuk menghitung angka
hingga lupa mengenalkan rasa kemanusiaan?

Bagaimana empati bisa tumbuh
jika rasa tak pernah diajarkan,
jika hati dibiarkan kosong
sementara kepala dijejali rumus dan hafalan?

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Di Antara Takbir dan Keranda

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026

Ke mana peran keluarga?
yang mestinya jadi rumah pertama
tempat anak belajar memeluk dunia.

Ke mana peran pendidikan?
yang mestinya jadi ladang
tempat karakter tumbuh seperti padi
merunduk ketika matang.

Mengapa satu anak bisa berlaku begitu kejam,
seolah di dalam dirinya
ada ruang gelap yang tak pernah disapa,
ada luka yang tak pernah disembuhkan,
ada teladan yang tak pernah hadir?

Atau…
kita kah yang membuat mereka membatu?
Kita kah yang lebih memilih gawai
daripada percakapan?
Lebih sibuk mengejar ranking
daripada kepekaan?
Lebih suka memberi hukuman
daripada mendengarkan?

Barangkali, kekejaman itu
adalah bayangan panjang
dari dunia orang dewasa
yang menetes ke jiwa mereka.

ADVERTISEMENT

—000—

Seorang anak tumbuh
di bawah bayangan buruk
bisa menjadi pelaku,
atau menjadi korban.

Bullying seakan menjadi trend (3)
Pelaku tak jera dan masalah terus menggurita,
hukum hanya sebatas poster di mading,
sementara nyawa anak manusia terus melayang

Viral
kata yang lebih ditakuti sekolah
daripada luka di tubuh muridnya.
Selama kasus tak sampai ke media,
mereka menganggap semuanya baik-baik saja.
Selama laporan bisa disapu
maka tragedi hanya akan dianggap “kekhilafan remaja.”

Hisyam terkubur dalam diam
Tubuhnya sudah terbungkus kafan,
tapi pekik deritanya memantul
di tiap bangku kosong,
tiap papan tulis yang menunggu huruf baru,
tiap langkah murid yang melintas
tanpa tahu mereka berjalan
di atas sejarah yang berdarah.

Jika hari ini seorang anak mati
karena tangan pembully
maka besok siapa lagi?

CATATAN:

(1)https://news.detik.com/berita/d-8213993/7-fakta-siswa-smpn-di-tangsel-di-bully-hingga-meninggal-usai-dirawat
(2)https://www.beritasatu.com/banten/2942206/kisah-pilu-hisyam-takut-sekolah-dan-sembunyikan-bullying-dari-ibu
(3)https://bphn.go.id/berita-utama/kasus-perundungan-meningkat-tajam-bphn-dorong-sinergi-lintas-sektor-jadi-kunci-pencegahan

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Badut-Badut Jalanan

Badut-Badut Jalanan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com