Dengarkan Artikel
Oleh: Basri A. Bakar
Siapa yang tidak kenal dengan sosok Cut Nyak Dhien (Tjoet Nja’ Dhien)? Tidak bisa dipungkiri, Cut Nyak Dhien adalah salah seorang pejuang wanita Aceh yang gagah berani, mampu mengobarkan semangat perlawanan rakyat Aceh meskipun dengan senjata seadanya, sehingga ia sangat ditakuti pihak kolonial Belanda. Pendidikan agama dan semangat juang yang mengalir dari ayahnya Teuku Nanta Seutia, Ulee Balang VI Mukim, pantas jika kemudian Cut Nyak Dhien tampil sebagai singa betina saat perang Aceh melawan Belanda dikobarkan selama 31 tahun (1873 – 1904).
Cut Nyak mulai maju ke medang pertempuran melawan penjajah Belanda dalam usia 25 tahun. Tidak ada waktu bersolek, nongkrong di warung kopi apalagi mengecap pendidikan tinggi seperti kebanyakan kaum milenial saat ini. Meskipun terlahir dari keluarga bangsawan, namun tidak membuat Cut Nyak Dhien merasa hebat dan bangga dengan silsilah. Satu hal yang dipikirkan yakni bagaimana membebaskan bangsanya dari cengkeraman penjajahan Belanda. Memang selain Cut Nyak Dhien (1848 – 1908), ada beberapa wanita Aceh pemberani lainnya seperti Laksamana Malahayati (1550 – 1606), Sulthanah Shafiatuddin (1641 – 1675), Pocut Meurah Intan (1833 – 1937), Teuku Fakinah (1856 – 1938), Cut Meutia (1870 – 1910), Pocut Baren (1880 – 1933), dan lain-lain. Mereka sudah ada jauh sebelum isu emansipasi dikembangkan oleh RA Kartini, sebab peran mereka kadang melebihi peran para laki-laki pada saat itu.
Cut Nyak Dhien tak gentar dengan senjata Belanda yang canggih, meski seorang janda saat itu karena suaminya gugur di medan juang, namun semangat juangnya tetap membara. Bahkan lebih bersemangat lagi melawan Belanda setelah pernikahan kedua dengan Teuku Umar. Suami keduanya Teuku Umar juga gugur saat Belanda menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899, sehingga ia berjuang sendirian di pedalaman Aceh Barat bersama pasukan yang sangat terbatas.
Kini Cut Nyak Dhien sudah tiada, meninggal dalam pengasingan setelah Belanda menangkapnya di hutan pedalaman Aceh. Saat itu fisiknya sudah lemah dan matanya sudah rabun, nyaris tak bisa melihat dengan jelas. Namun dia tahu mana pengkhianat dan mana kawan sejati. Belanda takut pengaruh Cut Nyak Dhien masih mampu mengobarkan semangat juang yang tidak pernah menyerah kepada penjajah, sehingga ia dibuang ke Sumedang. Tjoet Nya’ Dhien meninggal pada tanggal 6 November 1908, setahun dalam pengasingan dan dimakamkan di Gunung Puyuh, Sumedang, Jawa Barat.
Bumi Sumedang menjadi saksi sejarah bahwa ada pejuang wanita Aceh, seorang pahlawan nasional yang sedang istirahat panjang untuk membuktikan kepada generasi sekarang bahwa iatidak rela tanah airnya dirampas oleh penjajah. Ia rela hidup dalam pengasingan ketimbang harus tunduk atas kemauan kolonial yang sangat dibenci. Cut Nyak tidak mau menjadi pecundang karena terngiur jabatan dan harta yang ditawarkan Belanda. Hanya dua pilihan dalam hidupnya, terbebas dari penjajah atau mati dengan mulia. Ini memberi makna bahwa perjalanan panjang para pahlawan terdahulu untuk meraih kemerdekaan Indonesia harus diketahui dan dihormati oleh semua bangsa Indonesia. Karena kemerdekaan yang kita nikmati saat ini bukan datang begitu saja atau hadiah kolonial, tetapi dengan penuh susah payah, memerlukan pengorbanan besar jiwa dan raga.
Inspirasi bagi Generasi Milenial
Kiprah dan semangat heroik Cut Nyak Dhien sebenarnya membuat Belanda kagum. Pasalnya, kegigihan Cut Nyak Dhien mempertahankan prinsipnya dalam membela
tanah airnya Aceh hingga ke titik darah penghabisan patut diacungi jempol. Bahkan Snouck Hourgronje mengibaratkannya sebagai sosok wanita yang heroik yang mampu membangkitkan gelora perlawanan dalam melawan Belanda. Semangat inilah yang semestinya terhunjam dalam dada generasi milenial.
📚 Artikel Terkait
Istilah generasi millennial memang sedang santer terdengar.Dalam beberapa literatur disebutkan bahwa milenial berasal dari millennials yang dipopulerkan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Secara harfiah generasi milenial tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok mereka. Namun para pakar menggolongkan kelompok milenial berdasarkan tahun kelahiran awal dan akhir. Generasi Y disebutkan kelompok yang lahir antara 1980 – 1990, atau awal tahun 2000 dan seterusnya. Rata-rata mereka menghabiskan waktu di depan layar perangkat mobile phone sekitar tiga jam sehari. Angka tersebut melambung empat tahun kemudian menjadi 20 persen.
Umumnya gaya hidup dan perilaku generasi ini sangat berbeda dengan generasi Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, RA Kartini dan lain-lain. Terdapat anomali life style yakni bagian dari kebutuhan sekunder manusia yang bisa berubah bergantung zaman atau keinginan seseorang untuk mengubah gaya hidupnya.
Di bidang politik, generasi milenial mulai bosan dengan perdebatan politik dalam negeri. Hal ini sesuai hasil survey yang dilakukan Lembaga Penelitian Masyarakat Millennial (LPMM).Menurut Direktur Eksekutif LPMM Alamsyah Wijaya, kebosanan tersebut disebabkan karena elite politik dan penggembira saling menjatuhkan satu sama lain.
Selain itu ciri lainnya era digital saat ini, dimana perkembangan teknologi IT sangat pesat. Akhir-akhir ini yang menonjol di berbagai daerah misalnya kasus kriminal, kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak, narkoba, game dan judi on line.Kelompok ini kerap menjadi pribadi yang mau gampang-gampang saja. Kebanyakan mahasiswa yang tinggal di kost atau rumah sewa misalnya, persoalan konsumsi sehari-hari tidak menjadi persoalan. Mereka mudah memesan makanan siap saji melalui aplikasi “go food”, demikian pula kebiasaan duduk berlama-lama di warung sampai larut malam terutama bagi pria sambil menggunakan WiFi gratis. Bahkan di beberapa tempat, kebiasaan ini berlaku juga bagi kaum wanita.
Teladan dari Cut Nyak Dhien
Banyak teladan yang baik yang dapat menjadi inspirasi generasi milenial saat ini. Beberapa kelebihan dan sifat Cut Nyak Dhien antara lain cerdas dalam menggunakan strategi perang. Selain itu tidak mudah putus asa dalam menghadapi kenyataan, sebaliknya ia memiliki kepercayaan diri yang luar biasa. Selain itu Cut Nyak memiliki keberanian dan ketegasan dalam melawan penjajah serta cinta pada tanah air.
Tidak sedikit sisi positip dari sosok pribadi Cut Nyak Dhien untuk menjadi pelajaran bagi generasi milenial saat ini. Salah satunya sikap tegas dan idealisme terhadap hal-hal yang sifatnya harga diri dan bangsa. Ini perlu diwariskan ke dalam jiwa generasi muda dalam menentukan pilihan yang tepat lebih-lebih menyangkut agama dan keyakinan. Selain sikap tegas, Cut Nyak Dhien dikenal berani membela kebenaran, bahkan tidak gentar menghadapi musuh Belanda yang kadang harus berhadapan dengan senapan sekalipun. Tatkala serdadu Belanda ingin menangkap Cut Nyak di sebuah pedalaman di Aceh Barat karena ada pengawalnya yang dianggap berkhianat membocorkan tempat persembunyian, Cut Nyak yang saat itu matanya sudah rabun dan sakit menjadi marah besar dan meludahi serdadu Belanda karena memegang tubuhnya saat ditandu dan dibawa ke ibukota.
Selain itu Cut Nyak Dhien seorang nasionalisme sejati mempertahankan negerinya hingga titik darah terakhir agar tidak dijajah oleh kafir Belanda. Bagi wanita hebat ini, berperang atau mati syahid merupakan semboyan yang tidak bisa diganggu gugat. Sebagai generasi penerus harus dapat mengambil hikmah dan keteladanan para pahlawan yang telah mendahukui terutama pejuang Cut Nyak Dhien. Bagi generasi milenial harus mengadopsi sikap ini dalam menjaga keutuhan bangsa, jangan sampai ada penjajah-penjajah baru yang ingin menguasai negeri ini. Pemuda milenial harus punya wawasan kenegaraan dan rela berkorban apa saja demi mempertahankan kedaulatan negara yang sudah diperjuangkan oleh pendahulu kita. Ini bermakna generasi muda bangsa Indonesia harus selalu meningkatkan semangat patriotisme dan rasa nasionalisme yang tinggi demi pembangunan dan kelestarian bangsa Indonesia ke depan.
Generasi milenial harus mampu menggunakan teknologi IT untuk hal-hal positip. Masa Cut Nyak Dhien dahulu, segala sesuatu masih berlangsung secara manual dan tradisional, namun mampu berkomunikasi dan mengatur siasat perang dengan baik.Cut Nyak piawai dalam membangkitkan semangat juang melawan penjajah Belanda dengan menggunakan media yang saat itu berlaku. Seyogianya generasi milenial harus lebih mampu memanfaatkan media sosial yang saat ini demikian maju untuk mendakwahkan kebenaran, memberantas narkoba, judi online, prostitusi dan kemungkaran lainnya. Anak-anak muda hari ini jangan dilalaikan dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, tidak produktif, konsumtif dan membuang-buang waktu percuma dan kurang peduli dengan suasana sekitar. Untuk membangun Indonesia yang gemilang, maka peran generasi milenial saat ini sangat menentukan. Sebab di tangan merekalah Indonesia ke depan akan maju atau hancur. Cut Nyak Dhien sesungguhnya sudah memberi contoh teladan kepada kita semua.

POTRET Gallery lebih lengkap
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






