POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Nalar Kuasa

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
November 18, 2025
Tags: ArtikelFiilsafat
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Don Zakiyamani

Seorang anak kecil menangis tersedu-sedu. Keinginannya memiliki jajanan belum terpenuhi. Ia akan terus melakukan itu hingga keinginannya dipenuhi. Apabila berhasil, ia akan mengulangi taktik itu untuk keinginan berikutnya. Bila gagal, ia akan mengubah strategi. Demikianlah bentuk awal dari will to power yang sudah muncul sejak kecil: dorongan untuk menegaskan diri, mencari cara mendapatkan apa yang diinginkan, dan menguji batas diri di hadapan dunia.

Banyak manusia membawa dorongan itu hingga dewasa. Kita ingin memengaruhi keadaan, mengatur situasi, bahkan kadang mengatur orang lain—meski sering kali kemampuan mengatur diri sendiri justru masih rapuh. Seorang suami yang memukul istrinya, atau seorang atasan yang memarahi bawahan hingga memotong gajinya, adalah contoh bagaimana dorongan untuk berkuasa dapat muncul tanpa diiringi kedewasaan dalam kendali diri.

Nama-nama besar pun tidak lepas dari jebakan ini. Hitler, Mao Zedong, Mussolini, Soeharto—mereka memegang kekuasaan atas jutaan manusia, namun pada akhirnya tidak berkuasa atas dirinya sendiri. Mereka menjadi tawanan dari rasa takut, ketamakan, dan kecanduan akan dominasi. Kekuasaan yang mereka genggam justru memperlihatkan betapa lemahnya kendali mereka terhadap dorongan-dorongan batiniah.

Mereka sering disalahpahami sebagai contoh will to power, padahal yang mereka tampilkan justru penerapan yang keliru—hasil dari tafsir dangkal dan manipulatif yang dipopulerkan oleh Elizabeth Förster-Nietzsche, adik Nietzsche, demi agenda politik nasionalisme dan otoritarianisme.

Jika merujuk pada Nietzsche sendiri, will to power bukanlah dominasi atas orang lain; bukan kekejaman, bukan pemaksaan, bukan teriakan amarah, bukan tangan besi yang menindas. Will to power adalah kemampuan melampaui diri sendiri, mengubah batas menjadi kemungkinan baru, menjadikan kekurangan sebagai energi kreatif, dan mencipta nilai baru ketika nilai lama sudah membusuk. Dalam aspek tertentu, ini memiliki kemiripan dengan konsep penguasaan diri dalam spiritualitas Islam—bukan tentang menaklukkan orang lain, melainkan menaklukkan diri sendiri. Al-Qur’an memberi isyarat kuat mengenai penguasaan diri ini:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).


Perubahan sejati dimulai dari dalam, bukan dari dominasi terhadap luar. Itulah bentuk kepemimpinan yang lebih sejati. Kepemimpinan bukan semata soal memerintah orang lain, tetapi menjadi pribadi yang sedemikian kuat dalam pengendalian diri sehingga orang lain mengikuti dengan sendirinya.

📚 Artikel Terkait

JEJAK SIRAH

Predatory States and Silenced Voices: Reflections on the UN Forum on Minority Issues in Geneva

Menyimak Pengalaman Ibex Mengembangkan Distro di Aceh

Aku Memiliki Ibu yang Hebat

Nabi Muhammad adalah contoh paling terang: bukan karena paksaan, tetapi karena keteguhan dan integritas diri. Gandhi dan Mandela pun memimpin dengan cara ini: tanpa kekerasan, tanpa dominasi, tetapi dengan kekuatan batin yang menciptakan nilai moral baru—sejalan dengan semangat Nietzsche tentang penciptaan nilai, meskipun berdiri di landasan etika yang berbeda.

Sebaliknya, para diktator tadi memulai dengan ilusi kekuatan namun berakhir sebagai bukti bagaimana seseorang dapat dikalahkan oleh dirinya sendiri. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada pemimpin negara. Dalam berbagai ruang sosial—termasuk kalangan ulama, ilmuwan, akademisi, dan guru besar—dorongan berkuasa kadang muncul dalam bentuk halus: memaksakan pendapat, mempertahankan status, atau menghalalkan cara demi pengaruh.

Bagaimana dengan kita? Banyak dari kita mengenali dorongan itu dalam diri masing-masing. Keinginan untuk diakui, didengar, menang dalam perdebatan, atau menguasai situasi bisa tumbuh tanpa terasa. Dalam proses itu, tidak jarang keinginan tersebut justru mengekang diri kita sendiri. Kita mengira sedang kuat, padahal sedang lemah. Kita mengira sedang menguasai, padahal sedang dikuasai keinginan sendiri.

Dan di situlah letak tragedi manusia: kita sibuk mengatur dunia sekitar, sementara diri sendiri jarang benar-benar kita pimpin.

Itu sebabnya Nietzsche mengingatkan: will to power bukan tentang menguasai dunia, tetapi tentang layak tidaknya kita menjadi penguasa bagi diri sendiri. Penguasaan ini membutuhkan latihan tanpa henti. Islam memerintahkan puasa—menahan diri dalam urusan biologis, sosial, dan psikologis; serta mengajarkan zakat, infak, sedekah, wakaf, dan hibah agar manusia tidak dijajah oleh harta. Untuk lisan, Nabi bersabda:

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ini bukan sekadar anjuran moral, melainkan latihan pengendalian diri tingkat tinggi.

Bila kita yang menguasai informasi, maka selalu ada verifikasi. Berpikir ala saintis: menguji setiap informasi meski informasi itu tampak ilmiah. Proses ini tidak merugikan, justru melindungi. Bahkan air yang kita minum harus melewati beberapa proses sebelum aman dikonsumsi. Kopi sebelum sampai ke meja harus diproses tahap demi tahap.

Kini informasi hadir lebih cepat dari hembusan napas kita. Maka kemampuan berpikir dan memverifikasi harus lebih kuat dari sebelumnya. Dengan demikian, kita mampu menguasai informasi, bukan dikuasai informasi sampai menyebarkan kekeliruan. Berlatihlah menguasai diri sehingga menguasai segala yang di luar diri. Ciptakan nilai baru sehingga hidup lebih bernilai. Karena yang bernilai selalu dicari, di mana pun itu.

Selamat ngopi.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: ArtikelFiilsafat
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Melayarkan Kembali Kapal Kebanggaan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00