Dengarkan Artikel
Oleh Anies Septivirawan
Penulis
”Langit berpayung temaram
bilik hati sepoi bergumam”, dua larik puisi ini adalah kiriman teman sekolah pada saat pagi yang diselimuti mendung dan ditemani rinai, gerimis.
Memang pas dan klop situasinya. Dan entah siapa yang hadir lebih dulu. Berawal dari mendung dan gerimis lalu hadir puisi dua larik itu, atau, puisi dua larik yang lahir lebih dulu lalu tiba -tiba apakah kemudian langit melukis mendung dan menuntun gerimis ke pundak bumi? Entahlah, hanya skenario semesta yang mengerti.
Dua larik puisi naratif itu bukanlah yang pertama kali berpijak di laman WhatsAppku. Ia hadir di WhatsAppku setiap hari. Kadang kubaca, namun lebih sering belum kubaca karena kesibukanku.
Dan pagi ini, entah malaikat turun dari langit ke berapa seolah menuntun sepasang mata tuaku menuju notifikasi senyap. Kubaca rangkaian huruf itu membentuk serpihan puisi yang belum usai disulam. Ya, disulam demi menambal lembar batin yang robek nan gelisah.
Pengirim puisi dua larik belum rampung di beranda medsosku itu bernama Sarimun Effendi. Teman sekolah SD hingga SMP. Ia pegiat seni lukis sejak SD hingga sekarang. Dan kini beraktivitas di warung kopi yang dikelolanya sendiri, modal sendiri. Ia pengusaha kecil mandiri.
Ia lahir dan bersekolah, besar dan dewasa di Situbondo. Setamat SMA sempat hijrah sebentar di kota Atlas, Semarang, Jawa Tengah.
Berbekal bakat bawaan dari rahim sang ibu, melukis ia coba kembangkan di kota langganan banjir itu. Lalu terjun di tengah komunitas para pelukis dan perupa.
Sebelum meninggalkan kota kelahirannya untuk sementara, ia pun pernah meng-hadiahi berupa lukisan “Sepasang Bangau” di hari ulang tahunku. Aku memajang lukisannya di dinding ruang tamu saat aku jomblo kala itu. Setahun kemudian, aku menikah dan hidup berdua bersama istri. Lukisan “Sepasang Bangau” itu seperti mantra di atas kanvas. Obyek lukisan itu seolah memanjatkan doa dan doa itu terkabul: aku menjadi sepasang suami istri, seperti “Sepasang Bangau” di lukisan karya Sarimun Effendi.
Karya-karya goresan kuas di atas kanvas miliknya, pun tidak jarang menghiasi dinding – dinding event pameran. Setelah sekian tahun, aku tidak mendengar kabar tentang ia lagi.
Syahdan, pasca era pandemi Covid -19, aku bertemu kembali di kota kelahiran kami dan tali silaturahmi secara langsung ataupun via layanan pesan WhatsApp pun mulai intensif kembali.
Bahkan kini rumah leluhurnya disulap menjadi warung kopi yang selalu beraksi bisu atas pertemuan kami berdua beserta seluruh teman lain alumni sekolah, hadir setiap pagi atau malam, menyeduh kopi hitam, wedang kuwuh, teh bunga telang dan aneka minuman herbal lainnya.
Selain berbakat mengarsir cat minyak di atas kanvas, ia juga pernah menulis cerita pendek yang pernah dimuat di sebuah media cetak mainstream kala itu, tahun 90-an.
”Sekali itu saja, sampai sekarang saya tidak menulis lagi. Sekali berarti, sudah itu mati,” ujarnya, mengutip penggalan puisi Chairil Anwar, seraya tertawa kecil.
Situbondo, Kamis malam (13/11/25).
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






