• Latest

‎Lukisan Sepasang Bangau, Cerita Pendek dan Puisi Dua Larik di Warung Kopi

November 14, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

‎Lukisan Sepasang Bangau, Cerita Pendek dan Puisi Dua Larik di Warung Kopi

Redaksiby Redaksi
November 14, 2025
Reading Time: 2 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


‎Oleh Anies Septivirawan

Penulis
‎
‎
‎
‎”Langit berpayung temaram
‎bilik hati sepoi bergumam”,  dua larik puisi ini adalah kiriman teman sekolah pada saat pagi yang diselimuti mendung dan ditemani rinai, gerimis.
‎
‎Memang pas dan klop situasinya. Dan entah siapa yang hadir lebih dulu.  Berawal dari mendung dan gerimis  lalu hadir puisi dua larik itu, atau, puisi dua larik yang lahir lebih dulu lalu  tiba -tiba apakah kemudian langit melukis mendung dan menuntun gerimis ke pundak bumi?  Entahlah, hanya skenario semesta yang mengerti.
‎
‎Dua larik puisi naratif itu bukanlah yang pertama kali berpijak di laman WhatsAppku. Ia hadir di WhatsAppku setiap hari. Kadang kubaca, namun lebih sering belum kubaca karena kesibukanku.
‎
‎Dan pagi ini, entah malaikat turun dari langit ke berapa seolah menuntun sepasang mata tuaku menuju notifikasi senyap. Kubaca rangkaian huruf itu membentuk serpihan puisi yang belum usai disulam. Ya, disulam demi menambal lembar batin yang robek nan gelisah.
‎
‎Pengirim puisi dua larik belum rampung di beranda medsosku itu bernama Sarimun Effendi. Teman sekolah SD hingga SMP. Ia pegiat seni lukis sejak SD hingga sekarang. Dan kini beraktivitas di warung kopi yang dikelolanya sendiri, modal sendiri. Ia pengusaha kecil mandiri.
‎
‎Ia lahir dan bersekolah, besar dan dewasa di Situbondo. Setamat SMA sempat hijrah sebentar di kota Atlas, Semarang, Jawa Tengah.
‎
‎Berbekal bakat bawaan dari rahim sang ibu, melukis ia coba kembangkan di kota langganan banjir itu. Lalu terjun di tengah komunitas para pelukis dan perupa.
‎
‎Sebelum meninggalkan kota kelahirannya untuk sementara, ia pun pernah meng-hadiahi berupa lukisan “Sepasang Bangau” di hari ulang tahunku. Aku memajang lukisannya di dinding ruang tamu saat aku jomblo kala itu. Setahun kemudian, aku menikah dan hidup berdua bersama istri. Lukisan “Sepasang Bangau” itu seperti mantra di atas kanvas. Obyek lukisan itu seolah memanjatkan doa dan doa itu terkabul: aku menjadi sepasang suami istri, seperti “Sepasang Bangau” di lukisan karya Sarimun Effendi.
‎
‎Karya-karya goresan kuas di atas kanvas miliknya, pun tidak jarang menghiasi dinding – dinding event pameran. Setelah sekian tahun, aku tidak mendengar kabar tentang ia lagi.
‎
‎Syahdan, pasca era pandemi Covid -19, aku bertemu kembali di kota kelahiran kami dan tali silaturahmi secara langsung ataupun via layanan pesan WhatsApp pun mulai intensif kembali.
‎
‎Bahkan kini rumah leluhurnya disulap menjadi warung kopi yang selalu beraksi bisu atas pertemuan kami berdua beserta seluruh teman lain alumni sekolah, hadir setiap pagi atau malam, menyeduh kopi hitam, wedang kuwuh, teh bunga telang dan aneka minuman herbal lainnya. 
‎
‎Selain berbakat mengarsir cat minyak di atas kanvas, ia juga pernah menulis cerita pendek yang pernah dimuat di sebuah media cetak mainstream kala itu, tahun 90-an.
‎
‎”Sekali itu saja, sampai sekarang saya tidak menulis lagi. Sekali berarti, sudah itu mati,”  ujarnya, mengutip penggalan puisi Chairil Anwar, seraya tertawa kecil.
‎
‎
‎Situbondo, Kamis malam (13/11/25).
‎

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 363x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Ketika Tsunami Aceh

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com