POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Numerasi Dalam Perspektif TKA Tingkat SMP Sederajat

RedaksiOleh Redaksi
November 6, 2025
Numerasi Dalam Perspektif TKA Tingkat SMP Sederajat
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Dian Apriliyanti / SMP Negeri 4 Payung-Bangka Selatan

Numerasi, sebagai kemampuan untuk memahami, menerapkan, dan menganalisis konsep matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari, memainkan peran krusial dalam tes kemampuan akademik di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat. Di Indonesia, numerasidi tingkat SMP sederajat dirancang untuk membangun fondasi dasar, memastikan siswa mampu menghadapi transisi ke pendidikan menengah atas. 

Di tengah gempuran Kurikulum Merdeka yang menjanjikan pembelajaran pembelajaran berbasis proyek, realitas di lapangan justru menunjukkan bahwa kemampuan numerasi tetap diukur dengan cara yang kaku, berorientasi skor, dan sering kali mematikan kreativitas. 

Opini ini akan mengupas mengapa numerasi begitu dominan di tingkat SMP, dampaknya terhadap anak usia 13-15 tahun, serta jalan keluar agar numerasi tidak lagi lagi menjadi momok, melainkan menjadi sayap.

Pertama, mari kita telaah definisi dan ruang lingkup numerasi di tingkat SMP. Menurut Kerangka Programme for International Student Assessment (PISA) yang diadopsi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), numerasi melibatkan kemampuan mengenali masalah matematis dalam situasi nyata, menggunakan alat matematika untuk menyelesaikannya, dan menginterpretasikan hasilnya. 

Dalam Asesmen Nasionan(AN) yang diterapkan untuk siswa kelas 8 SMP, numerasi diuji melalui soal-soal berbasis literasi membaca dan kuantitatif. Tes ini bersifat diagnostik, bukan hanya selektif, bertujuan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa untuk perbaikan kurikulum sekolah.

Keberadaan numerasi dalam tes kemampuan akademik tingkat SMP sangat strategis karena usia 13-15 tahun adalah periode kritis perkembangan kognitif. Menurut teori Jean Piaget, siswa SMP berada di tahap operasi formal, di mana mereka mulai berpikir abstrak dan hipotetis-deduktif. 

Numerasi membantu mengasah kemampuan ini melalui pemecahan masalah kontekstual. Namun, penekanan numerasi di tingkat ini sering dikritik karena menciptakan tekanan berlebih pada siswa yang masih dalam fase eksplorasi. 

📚 Artikel Terkait

Brain Rot dan Krisis Pendidikan Digital di Indonesia

Ketika Dunia Terasa Terlalu Luas untuk Dipahami

Belajar Entrepreneurship Sejak Usia Dini

Skandal Disertasi Bahlil: Menjaga Marwah UI

Banyak orang tua dan guru mengeluh bahwa tes numerasi membuat matematika terasa menakutkan, bukan menyenangkan yang sering disebut sebagai fenomena “MathAnxiety” atau kecemasan matematika.

Untuk mengatasi tantangan, beberapa rekomendasi patut dipertimbangkan. Pertama, diversifikasi format tes. Selain pilihan ganda, tambahkan soal open-ended yang meminta siswa menjelaskan alasan, mendorong berpikir kritis. Kedua, integrasi teknologi ramah anak. Gunakan platform pendidikan untuk simulasi tes dengan gamifikasi, sehingga membuat numerasi menyenangkan. 

Ketiga, pemerataan akses seperti yang saat ini sedang Pemerintah lakukan melalui program IFP. Keempat, pendekatan inklusif dengan menyertakan soal berbasis budaya lokal. Kelima, kolaborasi dengan orang tuaseperti sosialisasi numerasi dalam keluarga agar bisa mengurangi “math anxiety” di rumah.

Selain itu, evaluasi tes harus berkelanjutan. Asesmen Nasional ataupun Tes Kemampuan Akademik (TKA) bisa dikombinasikan dengan portofolio siswa, seperti laporan proyek sains, untuk penilaian holistik, di mana numerasi dinilai melalui tugas berkelompok. 

Selain itu, sekolah bisa mengintegrasikan numerasi dalam ekstrakurikuler seperti klub robotik atau analisis data olahraga. Dengan begitu, tes bukan beban, tapi motivasi.

Pada akhirnya, numerasi dalam perspektif tes kemampuan akademik (TKA) di tingkat SMP sederajat adalah investasi masa depan bangsa. Ia bukan hanya mengukur, tapi membentuk siswa menjadi warga yang cerdas data dan bijak keputusan. 

Jadi, diharapkan numerasi dalam TKA membekali anak dengan kemampuan berpikir jernih, bukan membunuh rasa ingin tahu mereka dengan tes berbasis waktu. Numerasi bukan monster, ia adalah teman yang mungkin pernah belum benar saat diperkenalkan. Saatnya memperkenalkan ulang numerasi kepada anak-anak SMP dengan cara yang manusiawi, kontekstual dan penuh kasih sayang. .

Jika dikelola dengan baik, numerasi akan menjadi jembatan emas dari SMP ke dunia yang penuh angka. Mari kita pastikan setiap anak, dari Sabang sampai Merauke, memiliki kesempatan yang sama untuk bersinar melalui numerasi. Karena di balik setiap angka, ada seni berhitung dan cerita potensi yang menunggu untuk digali.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Ironi “Iron Lady” dan Politik Identitas yang Retak

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00