POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Topan

RedaksiOleh Redaksi
November 1, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Yanimar

Tubuh ringkih itu berbaring di atas kasur. Sesekali tangan mungilnya bergerak lemah, menyapu wajahnya yang tirus. Tampak sebatang hidung mancung , dagu lancip dan bibir mungil menyisakan senyuman tipis.

Bocah kecil itu menghela nafasnya perlahan, hampir tidak kedengaran. Di kamar yang tidak seberapa luas itu, tampak seorang perempuan setengah baya, hanya menatap nanar ke arah bocah yang sedang tertidur. Perempuan itu seakan larut terbawa emosi. Dia sesekali tampak bergumam tak jelas sambil mengelus kepala bocah di depannya.

Kemudian tangannya merapikan selimut dan mengusap lembut wajah tirus, bocah kecil itu. Tampak dari pupil matanya. Bulir air mata, menitik perlahan. “ Topan, anak ibu.. Cepat sembuh ya..! “ Bisik suaranya, lirih.. “ Air matanya kembali luruh. Dia mengelus elus rambut anaknya, lalu menyapu keringat dari wajah imut, yang pucat pasi itu. “ Tidak lama, lagi Hari Raya Idul Fitri.. Ibu akan bawa Topan, jalan jalan pakai baju baru, Topan pasti kelihatan gagah..cepat sembuh ya nak..!?

Suara perempuan itu semakin parau, tangisnya hampir pecah, namun dia berusaha untuk menahan. Selalu begitu, dia berharap Topan akan menjawab dan membalas pembicaraannya. Namun selalu saja bocah kecil itu tidak pernah menjawab, apalagi berbicara. Ia, hanya melihat sesaat, membuka mata perlahan… Uuuh… Uuuhh… Aaaa… Aaaa.. Mmmmaa.. . Uuuuub bbbuuu

. Yaa, … Ini ibu.. . Sehat ya, nak..?!.. Suaranya terdengar bergetar., tanpa disadari air matanya ikut jatuh perlahan Segera diusapnya air mata, jangan sampai Topan melihatnya..

Windy.,perempuan setengah baya yang sesehari berjualan pisang goreng, terpaksa harus bekerja keras, walaupun dia mempunyai gaji Pensiun, dari almarhum suaminya. Uang tersebut tidak cukup untuk biaya sehari hari. Apalagi , Topan, yang sejak kecil telah mengindap Penyakit Hydrosepalus. Mau tidak mau, Windy harus bekerja keras untuk mengatasi kebutuhan rumah tangga dan biaya pengobatan Topan.

Kondisinya yang single parent, harus selalu, siap siaga, saat anaknya tiba tiba drop dan jatuh sakit. Segenap waktu dan tenaga diupayakan merawat dan menjaga Topan, agar bisa pulih dan bermain seperti anak anak normal lainnya. Hanya saja, harapan itu hanyalah harapan semu, Topan tetap dengan kondisi tidak sempurna, tidak bisa berbicara, tubuh ringkih, tatapan kosong dan terbaring lemah.

Windy,, sudah tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat untuk menyembuhkan sakit anaknya. Berbagai upaya sudah dilakukan, namun Topan tetap seperti itu, hanya bisa beringsut, sesekali duduk, dan berjalan tertatih,dengan tatapan kosong, selebihnya ia banyak menghabiskan hari harinya terbaring sakit, lemah tidak berdaya..**

📚 Artikel Terkait

Dari Kesulitan untuk Menyongsong Masa Depan dan Cita-cita

Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Pendidikan Pada Sebuah Persimpangan: Antara Teknologi dan Kemanusiaan

Windy tampak kelihatan mondar mandir,, sambil sesekali melirik sekelilingnya. Di luar hujan mulai gerimis, langitpun kelihatan lebih gelap dibandingkan malam malam sebelumnya. Yaa , musim hujan telah tiba, udara terasa dingin menusuk. Apalagi tempat tinggalnya, di Suak Indrapuri , yang notebene, dikelilingi laut dan pohon nyiur, hembusan angin lebih tajam menerpa rumah rumah penduduk. Tubuhnya yang kurus seakan tidak sanggup menahan gigil, sembari bergumam, ia menelan ludah, terasa pahit dan getir.

Masih terngiang ngiang ditelinganya pembicaraan,tadi sore dengan dr Santi, , dokter yang selama ini merawat Topan . “ Apakah anak saya, bisa sembuh dok” Windy bertanya dengan wajah pias. Suaranya bergetar, dari pupil matanya, tak terasa, air mata mulai menitik. .Ia menekan nada suara, berusaha setegar mungkin.. “ Saya tidak tega melihat Topan kejang kejang terus.. Kalaulah boleh ditukar, biar saya saja yg sakit …Asal..Jangan Topan… Tubuhnya tidak sanggup menanggung sakit seperti ini.. “ Windy masih sesugukan, menahan emosinya,, agar tidak menangis…

Dr Santi menatapnya sejenak.. Lalu sambil menghela nafas berkata. “ Bu..tidak ada orang yang ingin sakit..semua kita, pasti berharap sehat. dan ibu juga harus percaya, bahwa semua penyakit, pasti ada obatnya . . Kita, manusia selain berusaha, terus, berdoa kepada Allah, untuk kesembuhan Topan.. Ibu jangan putus asa, tetap semangat, agar ibu kuat dan yakin untuk kesembuhannya., Ibu akan bisa melewati cobaan ini.. “ Suara dokter Santi, sayup sayup terdengar seperti berbisik. Windy hanya manggut manggut, seperti biasa dr Santi selalu memberi semangat untuknya. “ Ini saya beri obat nya, bu, mudah mudahan ada perubahan dan Topan akan lebih membaik lagi. “ sambung dr Santi, sambil menyerahkan secarik kertas berisi resep obat.

Windy seperti melayang, diraupnya kertas tersebut, tanpa membaca isinya. Suara dr Santi menguap begitu saja… Sekilas ia menatap nanar , dia tau, selalu saja dr Santi akan berkata seperti itu, setiap dia, membawa Topan berobat. Kata kata dr Santi, hanya untuk menghiburnya. Dan dia juga tau, bahwa Penyakit Hydrosefalus yang menyerang anaknya adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. , Namun perempuan itu selalu yakin jika anaknya dirawat dengan telaten, setidaknya Topan akan lebih baik , bisa bergerak leluasa dan tidak hanya terbaring tak berdaya di atas tempat tidur.

Tiba tiba ia dikejutkan dengan suara gaduh dari luar. Wejangan dr Santy, sore tadi , terlupakan begitu saja., Ternyata suara gaduh yang didengarnya adalah suara hujan yang semakin lebat,, dan deru angin yang diselingi suara petir bersahut sahutan. Agin malam terasa semakin menusuk, dingin ,hingga ke ubun ubun. Windy berjalan perlahan menuju tempat Topan terbaring , . Ia melihat bocah itu terlelap. Suara hujan,, angin dan petir dari luar , seperti berlalu , seolah olah suara itu seperti nyanyian tidur baginya. Topan tidak bergeming sedikitpun.. Mungkin juga karena, ia telah diberi obat, hingga bisa tertidur pulas.

Dari kejauhan Windy mendengar deru ombak menepi ke bibir pantai, sesekali juga suara camar bersahut sahutan,.pertanda malam semakin larut. Windy juga masih mendengar suara hujan, suara angin dan suara petir .. namun ia juga mendengar suara yang lebih gaduh lagi..yaa suara suara bathinnya yg ikut bergetar, bergemuruh dan porak poranda… Entahlah… Dia pun tidak perduli, apakah Alam ikut merasakan sakit yg mendera Topan , atau apakah Alam ikut bersedih seperti dirinya, atau Alam ikut menyatu dengan sakit dan kepiluan jiwanya….Ia pun pasrah karena, hanya Allah yang tau, rahasia apa di balik semua ini.

Perlahan Windy, beranjak ke kamar mandi, sembari membersihkan tubuh, lalu mengambil Wudhu. Selalu, .. saja dalam ketakberdayaan dan kegalauan panjang, Windy, terus bermunajad, , dan bermohon tanpa lelah keharibaan Allah SWT, agar ia, diberi kekuatan untuk merawat Topan, dan selalu berdoa untuk kesembuhan nya. Hanya Allah satu satunya tempat ia mengadu dan berserahdiri. Dalam riuh rendahnya suara hujan dan angin, Windy lalu melaksanakan Sholat Isya. Kini perempuan setengah baya itu bahkan tidak lagi mendengar suara hujan, suara angin dan suara petir, yang bersahut sahutan. Ia seakan larut dalam doa doa dan zikir zikir di sepanjang malam yang semakin kelam.*

Lelaki itu bernama Husin, perawakannya sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Kulitnya sawo matang, hidung mancung dan matanya sedikit sipit. Sekilas dilihat orangnya biasa biasa saja. Tidak ada yang menonjol dari penampilannya. Dalam keseharian, dia tampak sederhana, berpakaian seadanya.

Di toko yang tidak begitu besar, ia sibuk mengatur barang dagangannya. Sesekali ia merapikan bajunya yang tampak sedikit lusuh, karena bercambur debu yang bertebaran di sepanjang Pasar Lhueng Nak Aye Meulaboh. Husin bersegera beranjak pergi, tampaknya ia terburu buru. Baru saja, ia menerima telpon dari Windy, memintanya untuk segera pulang.

Tak biasa Windy menelpon Husin pada siang hari, karena Windy biasa menelpon sore hari, saat toko tidak begitu ramai. Ini tentu ada hal yang sangat penting. Sekilas tadi Husin sempat mendengar, Windi menyebut nama Topan. Ada apa yaa, dengan Topan, suara bathinnya mulai bergejolak. Apakah Topan kambuh lagi sakit nya? Atau…?..Ach..buru buru ditepisnya pikiran negatif yang tiba tiba muncul dibenaknya..Astagfirullah.. , mudah mudahan, tidak terjadi hal hal buruk terhadap Topan. Yaa Allah, lindungilah anakku .. Jantung Husin berdegub kencang, keringat dingin dikeningnya mulai menitik. Ia segera menyapu. bergegas keluar dari toko, kembali pulang ke rumah., dengan pikiran tidak menentu. Ketika tiba di rumah, Husin masih kelihatan gugup dan gelisah, iapun coba mengatur langkah, tetapi tidak berhasil. Husin berjalan perlahan melewati koridor rumah. Dia tidak melihat siapapun ada disana. Sambil melihat sekitarnya dia langsung menuju kamar. Dilihatnya Windy sedang mengusap usap keringat yang bertebaran di seluruh permukaan wajah Topan. Lelaki remaja bermuka tirus itu tampak meringis, dengan wajah pucat pasi.. “ Bagaimana keadaan Topan..? “ Suara Husin terdengar berbisik. Dia takut suaranya mengganggu Topan. “ Sudah agak mendingan, barusan sudah diberi obat. “ sahut Windy pelan. Wanita setengah baya itu masih kelihatan cemas, dan berkeringat Sesekali ia menghela nafas., sambil membelai Topan. “ Topan, cepat sembuh ya. “ Terdengar suaranya perlahan. Ditatapnya tubuh ringkih yang terkulai itu. Tanpa sengaja air matanya luruh. Segera diusapnya dia tidak ingin, Topan melihat kesedihannya.,karena walaupun Topan tidak bisa, berbicara, tapi dia bereaksi tiap kali Windy bersedih. Windy terkadang tidak bisa menyembunyikan dukanya.Padahal dia, selalu berusaha untuk tetap tegar dan kuat. Tapi dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Ada banyak masalah dan kesedihan yang dialaminya bersama Topan, anak lelakinya, yang sangat dia sayangi. Meskipun sepanjang tahun bersama, Windy tidak pernah membenci Topan apalagi merasa terbebani. Ia yakin, Tuhan memberi titipan kesabaran yang luar biasa, dan menerima apa adanya kondisi Topan., .. Bahkan dalam setiap Sholat dan do’anya, ia selalu berharap kesembuhan anaknya. “ Bagaimana, apa Topan segera kita bawa ke dokter ?“Suara Husin membuyarkan lamunannya. “ Tidak usah, kelihatannya Topan sudah tenang.. dan sebentar lagi dia akan tertidur “ Windy menjawab, sembari berdiri lalu merapikan selimut Topan, .Kemudian dia menatap kerah Husin, lalu tersenyum tipis. “ Tadi aku begitu panik dengan kondisi Topan..” Makanya aku menghubungi mu. .tetapi setelah kuberi obat, seketika kejang kejang Topan berhenti. “Husin memaklumi keadaan istrinya.,selalu saja dia panik, saat Topan jatuh sakit. Kini Husin ikut merasa lega, keadaan sudah membaik, kemudian dia beranjak keluar, meninggalkan Windy di kamarnya. Windy masih mengamati keadaan Topan. Dia merasa agak lega sekarang,,karena masa krisis anaknya sudah berlalu. Apalagi sejak ia menikah dengan Husin,,keadaan lebih membaik. Sekarang dia tidak sendiri menjaga Topan, ada Husin yang selalu siap siaga , bersama merawat anaknya. Husin selalu perhatian dan memberi kasih sayang kepada Topan, , walaupun Husin bukan ayah kandungnya , …. ….Dari kejauhanWindy mendengar suara ombak bersahut sahutan, dan deburnya menepi pantai, ia juga mendengar bisikan bayu yg sesekali sampai ketelinganya. Windy merasa derita, dan kesedihannya, seakan juga dirasa oleh alam, lingkungan dan tempat tinggalnya. Ia, juga, percaya bahwa ia tidak sendirian mengalami hal seperti ini. Ada begitu banyak cerita sedih yang terjadi dimuka bumi ini. Karena itulah Windy masih selalu bersyukur dan berterima kasih kepada Allah Yang Maha Kuasa,. Walaupun Topan belum sembuh seperti anak anak lainnya, saat ini Windy, tidak sendiri, tetapi ada Husni, ayah sambung Topan, yang setia mendampinginya dan merajut kehidupan bersama dalam suka dan duka..

Yanimar W Yusuf, adalah Penyair dan Pegiat Sastra, lahir di Meulaboh, 16 Januari 1964. Anak dari pasangan K.M.Yusuf Ismar dan Rohana Tapi. Yanimar W.Yusuf, menikah dangan Drh. Amri, dan memiliki anak Zulfasha, S. Com, Rahmad Fadhillah, S. Arts, dan Ulfa Rahmah, S. Com. .Bakat seninya turun dari Ayahandanya, seorang teatreawan, dan Musisi di era Tahun 70 an., dan mendapat anugerah Budaya “Teuku Chik Lila Perkasa Award”, pada, PKAB, tahun 2016 dan Anugerah Budaya “ Syah Alam” Pada PKA 7, tahun 2018. Sejak kecil Yanimar W Yusuf sudah tertarik pada Seni Sastra,, sering menjuarai lomba Puisi dan Baca Cerpen dan Juara Lomba Pidato di Meulaboh. Karya puisi dan cerpen sering dimuat di Harian Serambi, Waspada, Potret Online, Elipsis dan media lainnya. Puisi dan cerpen juga dimuat dibuku Antologi Sastra” Seulawah,, Kelu, Bulir MutiaraPantai Barat,, Deru Pesisir Pantai Barat,Pasie Karam, Gelombang Kemanusiaan, Malaysia, Puisi Cinta Untuk P alestina, Padang Panjang, dan Antologi Sastra Tunggalnya “ Membingkai Perdamaian. Karena, kepeduliannya kepada Seni dan Budaya, Yanimar W Yusuf mendapat Anugerah, Sebagai Perempuan Inspiratif Bidang Seni Budaya oleh Bupati Aceh Barat tahun 2023,,dan mendapat Anugerah Budaya Tajul Alam pada PKA 8 tahun 2023 di Banda Aceh.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share7SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Ayyash di Bawah Langit Terluka

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00