Dengarkan Artikel
Oleh Don Zakiyamani
Seorang senior tampak lesu menatap buku hasil karyanya. Seolah kurang puas dengan hasil edit naskah. Bahkan bisa dibilang tidak ada penyuntingan naskah sama sekali. Lalu mengapa hal itu dapat terjadi?
Setelah merenung panjang hingga dua gelas kopi lenyap, barulah dapat jawaban. Mereka memiliki rasa percaya penuh tanpa curiga sedikit pun. Penulis dan penyunting naskah sama-sama saling percaya pada kemampuan masing-masing. Penyunting percaya bahwa penulis merupakan penulis senior yang mustahil melakukan kesalahan.
Penulis pun demikian, editor merupakan orang yang sudah dikenal. Punya reputasi bagus sehingga percaya bahwa hasil editnya pasti memuaskan. Demikianlah hasil sebuah rasa percaya penuh tanpa ragu sedikit pun. Padahal sikap itu tidak ilmiah, mengaburkan nilai kebenaran, bahkan berpotensi menyesatkan atau minimal menimbulkan rasa kecewa di kemudian hari.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kasus-kasus serupa meski tak sama sering kita dapati. Kasus hamil sebelum nikah, selingkuh nyonya dengan bawahan, atau paling sering kecewa pada orang yang didukung untuk mendapat posisi tertentu namun kemudian berkhianat.
Bila hal-hal di atas melibatkan orang lain, percaya penuh pada logika, perasaan, dan pengetahuan sendiri juga berdampak demikian. Misalnya, kita begitu percaya sepenuhnya pada kebenaran menurut versi logika dan perasaan kita. Kemudian kita mudah menyalahkan orang lain, bahkan menghardik. Kita pun enggan, bahkan malas merefleksikannya, malas mengevaluasinya.
Francis Bacon memberi istilah itu dengan idols of mind. Fanatisme terhadap pikiran dan perasaan sendiri terkadang memenjara kita dalam gua, jika meminjam istilah Plato. Itulah mengapa kita kemudian enggan membaca buku, mencoba hal baru, memiliki perspektif baru, karena kita begitu yakin bahwa kita tahu banyak, kita tahu segalanya, kebenaran sudah mutlak. Padahal sebaliknya, ketika kita merasa tahu, sebenarnya kita tidak tahu apa-apa.
📚 Artikel Terkait
Dampaknya nyata dapat kita lihat dan rasakan di mana-mana. Lihatlah sesuatu begitu mudah viral, respons berlebihan alias mengikuti tren pendapat orang banyak seolah itulah kebenaran. Inilah yang disabdakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Umat Islam akan mayoritas namun seperti buih di lautan.” Kalaupun bukan buih, seperti debu yang terkena angin.
Jadi, rasa ragu merupakan kebutuhan. Selalu sisakan rasa ragu bahkan pada diri sendiri. Minimal, rasa ragu itulah yang akan membantu ketika harapan tidak sesuai kenyataan. Artinya, kita tetap memiliki kenyataan meski kecil. Bayangkan bila kita menaruh harapan seratus persen tanpa ragu dan harapan berbanding terbalik dengan kenyataan.
Menyisakan ragu juga sangat berguna di era banjir informasi. “Ada pria menceraikan istrinya karena lulus PPPK.” Tanpa ragu, seorang pejabat pun menjadi lelucon, misalnya ia mengambil tindakan pemecatan. Padahal tidak ada aturan menceraikan istri berdampak pada pemecatan. Di kasus lain pun banyak kita temui hal yang sama.
Lihatlah bagaimana kasus-kasus penipuan, asusila, nyaris semua dilakukan oleh orang-orang dekat korban. Mengapa? Karena rasa ragu tidak tersisa. Kalaupun bukan orang-orang dekat, mereka menggunakan nama dan foto orang-orang dekat korban. Sebagaimana saya uraikan di atas, bahkan dengan diri sendiri pun kita sering tertipu.
Karenanya, mari sisakan ragu dalam segala hal. Hubungan kerja, personal, bahkan dalam urusan ibadah sekalipun. Jangan merasa sudah bertumpuk pahala lalu jumawa, siapa tahu malah semua itu pembayar dosa, sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami ialah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki harta benda.”
Beliau bersabda:“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi ia datang juga dengan membawa (dosa) karena telah mencaci orang lain, menuduh orang lain, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, dan memukul orang lain. Maka orang-orang itu diberikan pahala kebaikannya satu per satu. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum dosa-dosanya dibayar, maka dosa mereka diambil dan dibebankan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim No. 2581).
Sebelum mengakhiri tulisan senda gurau ini, izinkan saya sisakan rasa ragu bahwa Anda benar-benar paham akan pentingnya rasa ragu. Mulai saat ini, setiap ada informasi di media sosial, media online, cetak, TV, maupun dari orang terdekat Anda, jangan buru-buru merespons dengan amarah atau senang berlebihan. Sisakan rasa ragu. Karena Imam asy-Syafi‘i berpesan, “Ketika engkau marah, diamlah. Saat engkau sedang gembira, timbanglah ucapanmu.”
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






