POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menanam Kebaikan

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
October 27, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Don Zakiyamani

Dua hari yang lalu saya ngopi dengan seorang junior penjual pupuk. Kualitas pupuknya memang di atas rata-rata. Pernah suatu hari, seorang petani mengaku hasil pertaniannya lebih baik setelah menggunakan pupuk tersebut. Buah lebih banyak dan pertumbuhan pohon sesuai dengan keharusan. Berbeda halnya saat menggunakan pupuk murah bersubsidi.

Mengapa pupuk itu memiliki kelebihan, menurut penjual yang merupakan jebolan magister pertanian, ada beberapa sebab. Namun saya tidak akan menguraikan itu, karena hal yang dapat diambil dari fenomena tersebut adalah pelajaran tentang cara memupuk dan jenis pupuk. Bila yang kita tanam pohon A dan menginginkan hasil maksimal, maka jenis pupuk juga berkontribusi besar.

Pepatah lama memang mengatakan, “apa yang kamu tanam, itu yang akan kamu panen.” Namun belum tentu panen itu maksimal, bahkan bisa jadi pohon tersebut tidak berbuah. Menurut pandangan saya, pepatah itu lahir sebelum industri pertanian semaju saat ini, dan sebelum kerusakan lingkungan separah sekarang.

Sekarang, demi hasil maksimal, tanaman perlu perawatan, termasuk pupuk yang diberikan. Bila dahulu hasil pertanian barangkali hanya cukup untuk diri dan keluarga, kini proyek industri pertanian adalah swasembada hingga ekspor. Dalam usaha itu, dibutuhkan perawatan tanaman secara maksimal. Demikian pula bila kita menanam kebaikan.

Berbuat baik memang mendatangkan pahala dalam literatur Islam, namun bagaimana kemudian ia tumbuh dan berbuah? Bagaimana menanam kebaikan menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi banyak manusia? Lebih lanjut, bagaimana kebaikan itu menginspirasi orang lain sehingga semakin banyak pohon kebaikan di tengah-tengah kita?

Era individualistik bukan hanya memengaruhi cara interaksi manusia, tetapi juga memengaruhi cara manusia berbuat baik. Manusia berbuat baik sebatas agar dirinya masuk surga. Filosofi itu tidak salah, namun sebagaimana buah-buah dari pohon, kebaikan sejatinya dapat “diekspor” ke orang lain — dapat dirasakan banyak orang.

📚 Artikel Terkait

Merdeka Dari Apa, Jika Ruang Kelas Sampai Asrama Masih Mencungkil Martabat Anak?

Menggali yang Terkubur

Inisiasi Gerakan Pemulihan Pasca Banjir Bandang

Ketika Jalanan Menjadi Mimbar Demokrasi: Suara Rakyat yang Tak Boleh Dibungkam

Sering kali kita saksikan rasa simpati yang menghadirkan bantuan kepada seseorang setelah viral. Media sosial dipenuhi rasa haru; cerita-cerita penzaliman melahirkan tokoh-tokoh filantropi media sosial. Namun ibarat menanam pohon, buah yang dihasilkan tergantung pada unsur tanah dan keberuntungan. Bisa jadi berbuah, bisa jadi daun-daunnya dimakan ulat hingga pohon tak berbuah.

Kebaikan tidak cukup ditanam saja, tetapi harus dirawat dengan baik. Ada pemupukan, pemangkasan, penyemprotan—agar kebaikan tumbuh dan menghasilkan buah. Dengan demikian, menanam kebaikan membutuhkan usaha terencana dan terorganisir, serta konsistensi. Bukan musiman, sebagaimana yang kita saksikan akhir-akhir ini.

Bukan hanya baik saat kampanye, saat viral, di depan publik, atau pada momen tertentu. Ibarat pohon, kebaikan itu juga bervariasi: ada yang besar, sedang, dan kecil. Ada yang butuh belasan tahun baru berbuah, ada pula yang setiap bulan dapat dipanen. Itulah mengapa junior saya itu menyarankan agar menanam dua pohon di ladang yang sama—satu jenis jangka panjang dan satu jenis jangka pendek.

Bila diibaratkan dunia ini lahan, maka kebaikan yang kita tanam sebaiknya pun demikian. Ada kebaikan jangka panjang, seperti mendirikan institusi pendidikan, rumah sakit, atau mendidik generasi di sekolah; ada pula kebaikan jangka pendek, seperti menolong orang yang membutuhkan. Tentu saja keduanya tetap harus dirawat, dipupuk dengan jenis pupuk yang benar dan pada waktu yang tepat.

Kita juga harus sadar bahwa kebaikan kepada orang lain belum tentu mendapat respons yang sama. Dalam dunia pertanian, unsur tanah, cuaca, dan geografis juga menentukan. Demikian pula manusia. Menanam kopi di padang pasir tidak sama dengan menanam kopi di lahan pegunungan. Begitu pula dengan kebaikan yang kita tanam.

Jadi, mari kita ubah sedikit pepatah lama:
“Jika ingin panen sesuatu, tanam dan rawatlah dengan sungguh-sungguh apa yang ingin kamu panen di masa mendatang.”

Mari mulai menanam kebaikan, dan rawatlah dengan benar agar kebaikan itu menghasilkan buah dan sayur sesuai dengan yang kita harapkan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Edukasi Anti Penipuan Online Pada Ibu Rumah Tangga 

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00