Dengarkan Artikel
Mahmudi Hanafiah, S.H., M.H.
Dosen UNISAI Samalanga Kabupaten Bireuen
Dulu, perjalanan antar kabupaten atau kota dianggap sebuah perjalanan panjang dan untuk menempuhnya sudah dipersiapkan persiapan dan perencanaan jauh hari. PP (Pergi dan pulang) sangat tidak mungkin dilakukan dalam satu hari, misal untuk perjalanan dari Batee Iliek yang berada di penghujung Kabupaten Bireuen menuju ke Simpang Ulim yang ada di Kabupaten Aceh Timur, di mana perjalanan tersebut melintasi Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.
Beda halnya dengan sekarang ini, perjalanan antar kabupaten/kota terasa singkat. Walaupun bukan dengan kendaraan pribadi, perjalanan antar kabupaten/kota bisa ditempuh PP dalam satu hari, walaupun harus malam dalam perjalanan pulang. Hal itu sering saya alami, termasuk sekarang ini.
Dalam perjalanan pun bisa kita gunakan waktu untuk menulis ide dalam bentuk artikel singkat, sambil menikmati perjalanan. Walaupun tidak senyaman perjalanan dengan kereta cepat sebagaimana yang ada di pusat ibu kota negara atau bahkan negara-negara maju seperti Cina, namun angkutan umum yang ada di Aceh, seperti L300, masih bisa dikatakan layak dan lumayan nyaman untuk perjalanan antar kota. Belum lagi kalau kita memilih mini bus Hiace atau bus-bus lain, seperti Putra Pelangi, Sempati Star atau Aero Bus, itu bahkan sudah sangat nyaman untuk perjalanan antar Propinsi.
Hal itu menandakan bahwa, perkembangan dalam bidang transportasi sedikit banyaknya sudah terlihat bila dibandingkan dengan masa-masa dahulu. Namun di sini juga kadang-kadang terbesit dalam pikiran kita beberapa pertanyaan yang memilukan, mengingat masih ada juga minusnya dalam perjalanan dari sisi fasilitas jalan yang masih belum sepenuhnya bisa dikatakan bagus secara maksimal, sehingga saat kita menumpang mini bus seperti L300, terasa kurangnya kenyamanan di beberapa daerah akibat kerusakan jalan.
Di antara pertanyaan yang muncul, bagaimana seandainya alokasi anggaran dilakukan dengan benar oleh pemerintah, tanpa ada kecurangan…? Pastinya anggaran atas nama dana otsus yang sudah diberlakukan beberapa tahun bisa memperbaiki berbagai fasilitas umum, juga bisa mewujudkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Namun sangat disayangkan, sejauh ini fasilitas umum yang memadai belum sepenuhnya terwujud. Masih banyak daerah pedalaman yang belum memiliki akses jalan yang layak, sehingga kadang-kadang guru yang ingin mengajar demi mencerdaskan anak bangsa harus mengarungi jalan bebatuan atau berlumpur.
📚 Artikel Terkait
Masyarakat susah mendapatkan pelayanan kesehatan akibat akses jalan yang sangat sulit. Bahkan, ironisnya, daerah-daerah tersebut merupakan kawasan industri yang menjadi salah satu sumber perekonomian negeri. Akan tetapi, masyarakat penghasil sumber perekonomian tersebut hanya bisa menikmati hasilnya dalam harga yang sangat kecil dengan dalih sulitnya diakses oleh para pembeli.
Pemerintah harus menanggapi permasalahan tersebut dengan serius. Perhatian pemerintah dalam menyejahterakan rakyat sangat dibutuhkan. pemerintah harus sadar bahwa mereka diamanatkan oleh rakyat dalam mengurus administrasi dan kesejahteraan mereka. Sebagai imbalannya, rakyat menyediakan gaji dan berbagai fasilitas bagi pemerintah dari hasil kerja keras mereka.
Artinya, rakyat begitu serius dalam memperhatikan kenyamanan pemerintah dalam bertugas menjaga kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, pemerintah pun diharapkan untuk serius dalam menjaga amanah tersebut.
Sekitar dua bulan yang lalu kita baru saja merayakan 8 dekade kemerdekaan. Dalam perayaan tersebut, tepatnya pada sesi karnaval kita bisa melihat dan membaca beragam unek-unek yang ada dalam batin masyarakat. Berbagai karakter pejabat pemerintahan dipertontonkan oleh peserta karnaval. Dan, dominannya, karakter tersebut bermuara kepada protes terhadap banyaknya kasus korupsi yang terjadi di negeri ini.
Pertunjukan tersebut memang terkesan humoris. Namun, di balik humornya tertancap makna yang sangat mendalam. Karakter-karakter tersebut mengisyaratkan agar pemerintah benar-benar tegas dalam menyikapi kecurangan dalam penggunaan anggaran. Ribuan bahkan jutaan anak bangsa masih berada di bawah kemiskinan. Banyak anak terlantar. Banyak anak yang harus berjuang dalam mengobati rasa lapar. Banyak pengangguran yang harus bersabar. Jumlah anggaran yang diselewengkan seharusnya bisa meminimalisirkan sampai menghilangkan masalah-masalah tersebut.
8 dekade kita sudah merdeka. Namun, banyak rakyat yang masih merasa dijajah. Dijajah oleh berbagai kebijakan yang sifatnya seperti pisau, tajam ke bawah tumpul ke atas. Ungkapan sang proklamator kita sudah sangat familiar. Di mana beliau mengatakan bahwa, Pejuang kemerdekaan berjuang dari penjajahan asing, sedangkan kita sebagai anak cucu beliau berjuang melawan bangsa sendiri. Kita sudah sangat sering mendengar dan membaca ungkapan itu. Kita sangat tidak berharap hal itu terjadi. Akan tetapi, apakah benar hal itu belum terjadi…?
Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan tulisan atau perkataan. Realita dan fakta di lapangan lah yang menjadi jawabannya.
Kita seperti sudah tersesat begitu jauh dan tidak tau jalan pulang. Maka kita harus kembali menelusuri jejak para pendahulu kita, agar kesesatan kita menemukan titik ujung dan kita bisa segera kembali menuju jalan pulang.
Kemerdekaan yang sudah berusia 8 dekade harus kita jadikan sebagai pemandu menuju kemakmuran yang sesungguhnya. Kemajuan jangan lagi Hanya sebatas slogan, akan tetapi harus terwujud sebagai kenyataan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






