Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Di negeri yang setiap harinya disuguhi drama politik lebih seru dari sinetron Ramadan, hanya ada satu perekat yang tak pernah gagal: humor. Dan siapa lagi yang paling ahli mengubah luka bangsa menjadi tawa bijak kalau bukan warga Nahdlatul Ulama terutama Gus Dur.
NU Itu Berbeda, Tapi Satu Direkatkan oleh Humor
Untuk memahami karakter kader NU, tak cukup membaca buku tebal karya ilmuwan asing. Harus nyantri, makan nasi jagung di dapur pesantren, mendengar guyonan kiai di sela-sela ngaji kitab kuning, dan sesekali tertawa di antara aroma kopi dan kayu bakar. Di sanalah “politik kebatinan” orang NU bekerja serius tapi santai, lucu tapi tajam.
Indonesia memang bukan Jawa, tapi sulit menampik kenyataan bahwa Jawa adalah cermin besar Indonesia. Bukan hanya karena jumlah penduduknya yang dominan, tetapi karena dari sanalah muncul sebagian besar presiden republik ini.
Dulu, ketika Tan Malaka meminta Sutan Sjahrir agar Tan Malaka menjadi presiden Indonesia, Sjahrir menolak dengan alasan sederhana: “Soekarno itu representasi rakyat terbanyak yaitu orang Jawa.”
Sebuah kalimat jujur sekaligus cermin politik realis yang masih hidup hingga kini.
Politik Pesantren: Antara Kesalehan dan Kejenakaan
Membaca Gus Dur berarti membaca politik pesantren: ketaatan santri kepada kiai, tapi juga keberanian berpikir out of the box. Kiai NU sering tampak lucu di luar, tapi tajam di dalam.
Tak heran setiap calon presiden menjadikan kunjungan ke pesantren sebagai agenda wajib bukan semata meminta doa kiai, tapi juga restu budaya. Sebab di Indonesia, politik tanpa restu kiai itu seperti kopi tanpa gula terasa pahit dan bikin ngantuk.
Kepemimpinan pesantren inilah yang melahirkan karakter khas NU: sabar, santai, tapi tak bisa diremehkan. Orang NU bisa diam lama, tapi sekali bicara, biasanya sudah lewat tengah malam dan penuh hikmah. Seperti Gus Dur yang menjawab tudingan politik dengan lelucon, tapi justru membuat lawannya tersudut tanpa sadar.
Surau Minangkabau: Semangat Egaliter
Namun jangan lupa, di luar Jawa, terutama di Minangkabau, juga tumbuh model kepemimpinan serupa berbasis pendidikan surau. Anak laki-laki Minang tidur di surau, belajar agama, dan ditempa budaya egaliter. Dari surau, itulah lahir tokoh seperti Mohammad Hatta dan Mohammad Natsir.
Kepemimpinan surau dan pesantren sejatinya bersaudara dalam semangat untuk sama-sama membentuk manusia yang berpikir, beriman, dan berani berdiri di depan kekuasaan dengan tenang, bukan dengan teriakan.
Budaya surau dan pesantren adalah dua sisi dari satu jiwa kepemimpinan Indonesia: berakar di bumi, tapi berorientasi ke langit. Dari sana tumbuh pemimpin yang tidak haus jabatan, tapi haus makna. Mereka memimpin bukan karena ingin dikenal, tapi karena tak tahan melihat rakyat dibiarkan sendirian.
Gus Dur dan Natsir: Dua yang Berbeda Tapi Satu Cita
Gus Dur adalah wajah kepemimpinan pesantren: lucu, lembut, tapi kokoh dalam prinsip. Natsir adalah wajah kepemimpinan surau: tenang, jernih, tapi tajam dalam berpikir. Keduanya lahir dari pendidikan yang mengajarkan bahwa ilmu dan iman tak boleh berjarak dari kemanusiaan.
Dalam sakit pun, Mohammad Natsir tetap menerima tamu. Katanya, “Mendengarkan keluhan rakyat mungkin tak menyelesaikan masalah mereka, tapi bisa mengurangi beban di hati.”
Begitu pula Gus Dur bahkan tengah malam pun masih menerima tamu kiai, aktivis, atau rakyat kecil yang datang tanpa janji. Rumahnya bukan istana, tapi tempat di mana rakyat bisa menaruh beban dan pulang dengan senyum.
Mereka membuktikan bahwa pemimpin rakyat tidak harus tinggal di istana. Kadang justru mereka yang paling dekat dengan rakyat itulah yang paling jauh dari kekuasaan formal. Tapi sejarah kita memang lucu: orang yang terlalu jujur dan lurus justru sering “dipersingkat masa baktinya.”
Tan Malaka, Sjahrir, Hatta, Natsir, hingga Gus Dur, semuanya memiliki satu kesamaan: dihentikan sebelum waktunya, tapi dikenang sepanjang masa.
Politik Kita: Dari Ruang Gagasan ke Ruang Gosip
📚 Artikel Terkait
Sayangnya, politik kita kini bergeser jauh dari ruang perdebatan ide menjadi ruang gosip emak-emak kompleks: ramai, emosional, tapi tanpa arah.
Kita lebih sibuk membicarakan siapa yang makan siang bareng siapa daripada siapa yang punya gagasan menekan harga beras.
Padahal, kata Gus Dur, “Politik itu harusnya membuat rakyat tertawa bahagia, bukan tertawa getir.”
Kini, kita terlalu sering memilih pemimpin berdasarkan gaya pencitraan, bukan pemikiran. Maka jangan heran jika politik Indonesia lebih mirip reality show ketimbang ruang perumusan masa depan bangsa.
Kita lebih banyak menertawakan kebodohan politik di televisi, padahal kitalah yang ikut ditertawakan.
Pelajaran dari Pesantren dan Surau
Baik pesantren di Jawa maupun surau di Minang sama-sama menanamkan nilai: kepemimpinan adalah pengabdian, bukan posisi. Pemimpin sejati adalah ia yang tetap membuka pintu rumah meski tak lagi berkuasa; yang mendengarkan keluhan rakyat tanpa kamera; dan yang menolong tanpa panggung.
Di titik itu, Gus Dur dan Natsir sebenarnya satu semangat: sama-sama menyalakan lilin di tengah gelapnya politik yang sering pura-pura terang.
Kita bisa menghidupkan nilai-nilai mereka.
Bahwa politik seharusnya bukan medan caci-maki, melainkan ruang berbagi tawa, pikiran, dan doa. Bahwa menjadi pemimpin bukan soal asal-usul etnis atau partai, melainkan soal keberanian untuk tetap manusiawi di tengah kebisingan kekuasaan.
Gitu Aja Kok Ribut
Kalau Gus Dur masih hidup hari ini, mungkin ia akan tertawa melihat kita: berdebat soal hal remeh di media sosial, sibuk saling menyindir tapi lupa menanam pohon, saling klaim paling Pancasilais tapi lupa harga cabai. Ia mungkin hanya akan mengangkat tangan dan berkata pelan, “Gitu aja kok ribut?”
Dan itulah kearifan terbesar dari seorang pemimpin bangsa: mengajarkan kita untuk tertawa tanpa kehilangan makna, dan berbeda tanpa kehilangan cinta.
Mungkin sekaranglah waktunya pesantren dan surau kembali bersatu bukan dalam bentuk organisasi, tapi dalam semangat kepemimpinan yang jujur, sabar, dan lucu tapi serius.
Karena kalau bangsa ini terus tegang dan kehilangan rasa humor, mungkin bukan politik yang akan membuat kita gila tapi ketiadaan tawa.
Apakah Anda sepakat dengan saya?
Atau seperti kata Gus Dur, “Gitu aja kok repot?”
Daftar Pustaka.
Azra, A. (2003). Surau: Pendidikan Islam tradisional dalam transisi dan modernisasi. Jakarta: Logos.
Barton, G. (2002). Biografi Gus Dur: The authorized biography of Abdurrahman Wahid. Jakarta: LKiS.
Dhofier, Z. (1982). Tradisi pesantren: Studi tentang pandangan hidup kiai. Jakarta: LP3ES.
Hatta, M. (2011). Untuk negeriku: Sebuah otobiografi. Jakarta: Kompas.
Madjid, N. (1993). Islam, kemodernan, dan keindonesiaan. Bandung: Mizan.
Malaka, T. (2000). Dari penjara ke penjara. Yogyakarta: Narasi.
Natsir, M. (1954). Capita selecta. Jakarta: Bulan Bintang.
Sjahrir, S. (1951). Renungan dan perjuangan. Jakarta: Dian Rakyat.
Wahid, A. (1998). Gitu aja kok repot. Jakarta: LKiS.
Wahid, A. (2010). Humor Gus Dur yang mengguncang dunia. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Biografi Singkat Penulis
Novita Sari Yahya adalah penulis yang suka menulis dengan satire. Ia pengamat yang memetakan karakter manusia Indonesia dan mencintai Indonesia dengan tawa. Sejumlah karya dan kolomnya mengeksplorasi hubungan antara humor, budaya, dan politik dalam konteks sosial Indonesia.
Melalui tulisan-tulisannya, Novita mengajak pembaca untuk tertawa sambil berpikir—karena bagi dirinya, “humor adalah jalan paling serius menuju kebijaksanaan.”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






