• Latest

Menulis Sastra: Jalan Sunyi untuk Menjaga Kewarasan

Oktober 6, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Menulis Sastra: Jalan Sunyi untuk Menjaga Kewarasan

Redaksiby Redaksi
Oktober 6, 2025
Reading Time: 4 mins read
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Fileski Walidha Tanjung

Dalam ruang kelas, seorang guru kerap dipandang sebagai pengajar yang sibuk mengurai teori, menegakkan disiplin, dan menuntun murid pada jalur yang dianggap benar. Namun, di balik meja yang penuh dengan tumpukan administrasi, rapat-rapat yang menyita waktu, dan benturan kepentingan dalam struktur birokrasi sekolah, ada kegelisahan yang tak terucapkan. 

Guru juga manusia yang bisa terluka, merasa tidak didengar, bahkan tersisih oleh arus deras sistem pendidikan. Pada titik inilah menulis sastra menjadi jalan sunyi yang menyelamatkan. Sastra bukan sekadar permainan imajinasi, melainkan medium menjaga kewarasan batin.

Sartre pernah menulis bahwa “menulis adalah suatu bentuk kebebasan.” Kebebasan inilah yang menjadi oase bagi guru, ketika di dunia kerja mereka tidak selalu memiliki ruang untuk bersuara. 

Menulis cerpen, puisi, atau novel bukan sekadar pelarian, melainkan strategi menjaga kejernihan jiwa. Dalam dunia kerja, benturan dengan hati nurani hampir tak terhindarkan: perbedaan persepsi dengan rekan sejawat, tekanan dari atasan, atau bahkan kekecewaan melihat kondisi bangsa yang kian jauh dari cita-cita keadilan sosial. 

Namun, alih-alih meluapkannya secara gegabah di media sosial—yang seringkali menjebak dalam pusaran ujaran kebencian dan rentan pelanggaran hukum—sastra menghadirkan ruang yang lebih bijak.

Kebijaksanaan sastra terletak pada kemampuannya menyalurkan keresahan tanpa harus melukai pihak lain. Nama tokoh dan tempat yang fiktif memberi jarak yang aman bagi penulis sekaligus pembaca. Fiksi bukan sekadar “tidak nyata” atau fiktif belaka, melainkan realitas yang ditransformasikan. Ia bukan liputan berita yang mengurai fakta-fakta mentah, melainkan jalan sunyi perenungan. 

Sastra justru memungkinkan kita berbicara tentang kenyataan dengan cara yang lebih dalam. Fokus sastra bukan siapa atau di mana, melainkan bagaimana manusia seharusnya hidup lebih adil, lebih setara, dan lebih manusiawi.

Guru yang menulis sastra sejatinya sedang melakukan perlawanan halus terhadap keterkungkungan hidup sehari-hari. Dalam tulisannya, ia bukan sekadar anak buah kepala sekolah, bukan sekadar pegawai negeri yang terikat aturan birokrasi, melainkan pengatur jalan cerita. Ia melampaui dirinya sendiri, melepaskan beban sosial dan fisik, menjelma sebagai kreator yang terbebaskan. 

Melalui tokoh-tokoh fiksi, ia dapat menyampaikan gagasan besar yang mungkin tak bisa ia ucapkan di rapat sekolah atau forum formal. Inilah bentuk kemerdekaan yang tak ternilai.

Dalam perspektif psikologi, menulis sering dianggap sebagai bentuk terapi. 

Baca Juga

db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

Mengeluarkan beban pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan mencegah penumpukan yang berbahaya bagi kesehatan jiwa. Guru yang menulis sastra sedang menyehatkan dirinya: membebaskan yang tersumbat, mengalirkan yang tertekan, dan merawat luka yang tak terlihat. 

Albert Camus suatu ketika berkata, “Menciptakan berarti dua kali hidup.” Kalimat ini menegaskan bahwa menulis bukan hanya aktivitas intelektual, melainkan aktivitas eksistensial. Dengan menulis, seorang guru menjalani kehidupan kedua: kehidupan yang lebih bebas, reflektif, dan penuh makna.

Di titik ini, menulis sastra tidak hanya menyelamatkan guru sebagai individu, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas. Ketika seorang pendidik berani menulis, ia sedang menanamkan teladan bahwa pengetahuan tidak hanya bisa dituturkan, tetapi juga diabadikan dalam karya. Murid-murid yang melihat gurunya menulis akan belajar bahwa literasi bukan sekadar kewajiban akademis, melainkan jalan hidup. 

Bayangkan jika setiap guru di negeri ini menulis puisi atau cerpen tentang kegelisahan sosial, mungkin bangsa ini akan memiliki arsip batin kolektif yang lebih jujur, lebih berani, dan lebih manusiawi daripada sekadar laporan resmi yang kaku.

Namun, menulis sastra sebagai guru juga sebuah keberanian. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri, keberanian untuk keluar dari kebiasaan instan media sosial, dan keberanian untuk menawarkan perspektif baru yang mungkin bertentangan dengan arus besar opini publik. 

Sastra memungkinkan kritik terhadap keadaan, tetapi dengan bahasa yang sublim, dengan estetika yang membuat kritik terasa indah sekaligus tajam. Di sinilah sastra membuktikan dirinya bukan sekadar hiburan, melainkan salah satu wujud etika.

Pertanyaan pentingnya kemudian: beranikah para guru menulis sastra di tengah kesibukan, tekanan, dan rutinitas? Beranikah mereka memilih jalan sunyi ini sebagai sarana menjaga kewarasan, ketika dunia seolah mendikte mereka untuk hanya fokus pada administrasi dan beban kerja? 

ADVERTISEMENT

Jika jawabannya ya, maka sastra bisa menjadi benteng terakhir bagi jiwa-jiwa yang tak ingin menyerah pada banalitas zaman. Jika jawabannya tidak, maka kita perlu bertanya kembali: bagaimana mungkin seorang guru bisa menyalakan cahaya bagi muridnya, jika ia sendiri dibiarkan meredup tanpa ruang untuk merenung dan menyuarakan nurani?

Menulis sastra bagi guru bukanlah sekadar tambahan aktivitas, melainkan kebutuhan batin. Sebuah kebutuhan untuk tetap waras di tengah dunia yang serba tergesa-gesa, dunia yang kerap melupakan makna terdalam dari pendidikan itu sendiri. Pada akhirnya, tulisan ini ingin mengajak kita merenung: mungkinkah jalan sastra yang sunyi dan personal ini justru menjadi jalan yang paling otentik untuk menjaga kemanusiaan kita? 

Dan bila benar, tidakkah sudah saatnya setiap guru mengambil pena, bukan hanya sebagai alat mengoreksi jawaban murid, tetapi juga sebagai senjata untuk menyembuhkan dirinya sendiri. (*) 

Fileski Walidha Tanjung adalah seorang penulis dan pendidik di SMAN 2 Madiun. Lahir di Madiun pada tahun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, dan esai di berbagai media nasional. Buku terbarunya di 2025; Gubuk Kecil dan Rintik Hujan, Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, dan Interludium Kapibara. 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Wanti dan Di: Identitas yang Dikubur Sejarah, Martabat Wangsa yang Dirampas dari Sejarah Aceh

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com