Dengarkan Artikel
Oleh: Fileski Walidha Tanjung
Dalam ruang kelas, seorang guru kerap dipandang sebagai pengajar yang sibuk mengurai teori, menegakkan disiplin, dan menuntun murid pada jalur yang dianggap benar. Namun, di balik meja yang penuh dengan tumpukan administrasi, rapat-rapat yang menyita waktu, dan benturan kepentingan dalam struktur birokrasi sekolah, ada kegelisahan yang tak terucapkan.
Guru juga manusia yang bisa terluka, merasa tidak didengar, bahkan tersisih oleh arus deras sistem pendidikan. Pada titik inilah menulis sastra menjadi jalan sunyi yang menyelamatkan. Sastra bukan sekadar permainan imajinasi, melainkan medium menjaga kewarasan batin.
Sartre pernah menulis bahwa “menulis adalah suatu bentuk kebebasan.” Kebebasan inilah yang menjadi oase bagi guru, ketika di dunia kerja mereka tidak selalu memiliki ruang untuk bersuara.
Menulis cerpen, puisi, atau novel bukan sekadar pelarian, melainkan strategi menjaga kejernihan jiwa. Dalam dunia kerja, benturan dengan hati nurani hampir tak terhindarkan: perbedaan persepsi dengan rekan sejawat, tekanan dari atasan, atau bahkan kekecewaan melihat kondisi bangsa yang kian jauh dari cita-cita keadilan sosial.
Namun, alih-alih meluapkannya secara gegabah di media sosial—yang seringkali menjebak dalam pusaran ujaran kebencian dan rentan pelanggaran hukum—sastra menghadirkan ruang yang lebih bijak.
Kebijaksanaan sastra terletak pada kemampuannya menyalurkan keresahan tanpa harus melukai pihak lain. Nama tokoh dan tempat yang fiktif memberi jarak yang aman bagi penulis sekaligus pembaca. Fiksi bukan sekadar “tidak nyata” atau fiktif belaka, melainkan realitas yang ditransformasikan. Ia bukan liputan berita yang mengurai fakta-fakta mentah, melainkan jalan sunyi perenungan.
Sastra justru memungkinkan kita berbicara tentang kenyataan dengan cara yang lebih dalam. Fokus sastra bukan siapa atau di mana, melainkan bagaimana manusia seharusnya hidup lebih adil, lebih setara, dan lebih manusiawi.
Guru yang menulis sastra sejatinya sedang melakukan perlawanan halus terhadap keterkungkungan hidup sehari-hari. Dalam tulisannya, ia bukan sekadar anak buah kepala sekolah, bukan sekadar pegawai negeri yang terikat aturan birokrasi, melainkan pengatur jalan cerita. Ia melampaui dirinya sendiri, melepaskan beban sosial dan fisik, menjelma sebagai kreator yang terbebaskan.
Melalui tokoh-tokoh fiksi, ia dapat menyampaikan gagasan besar yang mungkin tak bisa ia ucapkan di rapat sekolah atau forum formal. Inilah bentuk kemerdekaan yang tak ternilai.
📚 Artikel Terkait
Dalam perspektif psikologi, menulis sering dianggap sebagai bentuk terapi.
Mengeluarkan beban pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan mencegah penumpukan yang berbahaya bagi kesehatan jiwa. Guru yang menulis sastra sedang menyehatkan dirinya: membebaskan yang tersumbat, mengalirkan yang tertekan, dan merawat luka yang tak terlihat.
Albert Camus suatu ketika berkata, “Menciptakan berarti dua kali hidup.” Kalimat ini menegaskan bahwa menulis bukan hanya aktivitas intelektual, melainkan aktivitas eksistensial. Dengan menulis, seorang guru menjalani kehidupan kedua: kehidupan yang lebih bebas, reflektif, dan penuh makna.
Di titik ini, menulis sastra tidak hanya menyelamatkan guru sebagai individu, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas. Ketika seorang pendidik berani menulis, ia sedang menanamkan teladan bahwa pengetahuan tidak hanya bisa dituturkan, tetapi juga diabadikan dalam karya. Murid-murid yang melihat gurunya menulis akan belajar bahwa literasi bukan sekadar kewajiban akademis, melainkan jalan hidup.
Bayangkan jika setiap guru di negeri ini menulis puisi atau cerpen tentang kegelisahan sosial, mungkin bangsa ini akan memiliki arsip batin kolektif yang lebih jujur, lebih berani, dan lebih manusiawi daripada sekadar laporan resmi yang kaku.
Namun, menulis sastra sebagai guru juga sebuah keberanian. Keberanian untuk jujur pada diri sendiri, keberanian untuk keluar dari kebiasaan instan media sosial, dan keberanian untuk menawarkan perspektif baru yang mungkin bertentangan dengan arus besar opini publik.
Sastra memungkinkan kritik terhadap keadaan, tetapi dengan bahasa yang sublim, dengan estetika yang membuat kritik terasa indah sekaligus tajam. Di sinilah sastra membuktikan dirinya bukan sekadar hiburan, melainkan salah satu wujud etika.
Pertanyaan pentingnya kemudian: beranikah para guru menulis sastra di tengah kesibukan, tekanan, dan rutinitas? Beranikah mereka memilih jalan sunyi ini sebagai sarana menjaga kewarasan, ketika dunia seolah mendikte mereka untuk hanya fokus pada administrasi dan beban kerja?
Jika jawabannya ya, maka sastra bisa menjadi benteng terakhir bagi jiwa-jiwa yang tak ingin menyerah pada banalitas zaman. Jika jawabannya tidak, maka kita perlu bertanya kembali: bagaimana mungkin seorang guru bisa menyalakan cahaya bagi muridnya, jika ia sendiri dibiarkan meredup tanpa ruang untuk merenung dan menyuarakan nurani?
Menulis sastra bagi guru bukanlah sekadar tambahan aktivitas, melainkan kebutuhan batin. Sebuah kebutuhan untuk tetap waras di tengah dunia yang serba tergesa-gesa, dunia yang kerap melupakan makna terdalam dari pendidikan itu sendiri. Pada akhirnya, tulisan ini ingin mengajak kita merenung: mungkinkah jalan sastra yang sunyi dan personal ini justru menjadi jalan yang paling otentik untuk menjaga kemanusiaan kita?
Dan bila benar, tidakkah sudah saatnya setiap guru mengambil pena, bukan hanya sebagai alat mengoreksi jawaban murid, tetapi juga sebagai senjata untuk menyembuhkan dirinya sendiri. (*)
Fileski Walidha Tanjung adalah seorang penulis dan pendidik di SMAN 2 Madiun. Lahir di Madiun pada tahun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, dan esai di berbagai media nasional. Buku terbarunya di 2025; Gubuk Kecil dan Rintik Hujan, Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, dan Interludium Kapibara.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






