Dengarkan Artikel
oleh Ananda Sukarlan
Ketika saya menerima pesan WhatsApp dari Fileski yang mengulas niat saya untuk menulis tembang puitik dari puisinya “Yang Menyala dalam Senyap,” saya sempat terkejut, karena betapa cepat ia memberikan tanggapan. Ia bahkan menuliskan sebuah esai tentang itu.
Respon publik pun beragam setelah membaca (atau sekedar melihat foto dan judul) artikel Fileski itu —ada yang heran mengapa karya musik bisa tercipta hanya dari goresan di atas kertas, di meja kerja, atau bahkan di kebun tanpa piano. Namun justru di situlah letak esensi tembang puitik: musik yang lahir dari apa yang ingin dideskripsikan dan dilukis menggunakan kata-kata sang penyair, bukan sekadar dari instrumen.
Perdebatan tentang perbedaan tembang puitik dan musikalisasi puisi kembali mencuat sejak Pertemuan Penyair Nusantara XIII. Fungsi piano di tembang puitik bukanlah iringan, melainkan terjemahan musikal dari jiwa puisi itu sendiri. Dalam musikalisasi puisi, “iringan” sering datang belakangan dan berfungsi sebagai pendamping teks. Bahkan jika puisinya menggambarkan sesuatu yang “tidak enak”, maka musik pun berani mengekspresikan ketidaknyamanan itu. Di sinilah letak keberanian seni: menghadirkan realitas batin tanpa topeng estetika yang memoles segalanya menjadi enak didengar.
Tradisi tembang puitik (art song, dalam bahasa Inggris) di Indonesia, sayangnya, sempat terputus sejak wafatnya komponis seperti Mochtar Embut dan Trisutji Kamal, yang dahulu kerap memadukan puisi Chairil Anwar atau Rendra ke dalam komposisi musik. Di Eropa, tradisi itu berlanjut secara organik, sehingga saya secara alamiah terus melahirkan karya-karya dari puisi Federico Garcia Lorca hingga Emily Dickinson atau sonet dari William Shakespeare, kemudian juga secara alamiah menyambung ke para penyair Indonesia.
Di situlah saya menemukan sebuah jurang: kita sangat kekurangan vokalis klasik yang mumpuni, padahal mereka adalah jembatan utama agar tembang puitik bisa hidup. Dari lebih dari 600 tembang puitik yang saya sudah tulis, separuh adalah dari penyair Indonesia. Yang di Eropa, semua sudah dipentaskan, tapi yang dari penyair Indonesia, mungkin baru separuh yang telah dinyanyikan.
📚 Artikel Terkait
Di Indonesia, istilah “penyanyi” kerap dipakai serampangan. Dari karaokean hingga pejabat yang berlagak diplomat budaya, semua merasa sah menyandang sebutan itu. Tetapi vokalis klasik—(mezzo- )soprano, tenor, bariton—nyaris tak terdengar. Padahal seorang vokalis klasik tidak sekadar menyanyi, tetapi menafsir, memahami bahasa puitis, dan menghidupkan makna lewat teknik vokal yang cermat melalui teknik yang mumpuni. Nama-nama seperti Pepita Salim, Mariska Setiawan atau Isyana Sarasvati hanyalah segelintir pengecualian. Inilah titik kritis: tanpa regenerasi vokalis klasik yang berwawasan, dunia tembang puitik Indonesia akan senyap.
Saya mendirikan Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) untuk menjawab kebutuhan itu. Kata “Plus” menandai keterbukaan: bukan hanya piano, tetapi juga instrumen lain termasuk vokal klasik. Kompetisi ini bukan sekadar lomba, melainkan ruang kaderisasi. Sebab seni tidak akan hidup hanya dari individu-individu berbakat yang kebetulan lahir; seni butuh ekosistem yang melatih, mendidik, dan menumbuhkan generasi baru. Masalah kita bukan sekadar kurangnya talenta, melainkan kurangnya sistem yang menghargai proses. Tahun lalu KPN+ melahirkan dua pemenang vokal yang sangat mumpuni: Ratnaganadi Paramita (soprano) dan Wirawan Cuanda (bariton), saya sangat antusias mengikuti karir mereka ke depannya.
Pengalaman saya dalam perjalanan ke berbagai kota untuk kompetisi ini memperlihatkan betapa banyak potensi yang tersia-siakan. Bulan September lalu saya menemukan puisi yang luar biasa, seperti “Suara dari Pengungsian” karya Nissa Rengganis atau “Amnesia” karya Yon Bayu Wahyono yang kemudian langsung saya bikin musik, sekarang kita menunggu vokalis yang menjembatani mereka ke ranah musik. Puisi-puisi itu seakan menunggu disentuh agar dapat bersuara di ruang yang lebih luas. Ketika saya menemukan puisi Fileski di kamar hotel saya, di tengah malam yang hening setelah riuh kompetisi, saya merasakan klik yang sama. Musik itu lahir bukan dari ambisi panggung, melainkan dari keheningan yang jujur.
Namun, di balik proses kreatif ini, ada kritik yang tidak bisa diabaikan. Dunia seni kita sering terjebak dalam formalitas acara, festival seremonial, dan kompetisi instan yang hanya mencari pemenang, bukan proses. Kita seolah lebih sibuk merayakan hasil ketimbang merawat perjalanan. Pemerintah kerap menggunakan “seni” sebagai alat pencitraan, mengirim pejabat menyanyi atau menari di luar negeri dengan dalih diplomasi budaya. Tetapi apakah diplomasi semu itu betul-betul mewakili kekayaan seni kita? Apakah dunia luar akan mengenal Indonesia dari nyanyian dan tarian para pejabat, bukan dari kedalaman tembang puitik atau keunikan teater tradisional kita?
Kita perlu berani menawarkan perspektif baru: seni bukan sekadar hiburan atau diplomasi, melainkan ruang kritik dan permenungan. Tembang puitik, justru karena kesenyapannya, menawarkan alternatif di tengah hiruk pikuk budaya populer yang serba instan. Ia mengingatkan bahwa tidak semua harus meriah untuk bermakna; kadang justru dalam diam, sebuah bangsa bisa menemukan kembali suaranya.
Jika kita ingin dunia mengenal Indonesia bukan hanya dari Bali atau batik, melainkan juga dari suara puitik yang otentik, maka ekosistem seni kita harus dibangun dengan keseriusan yang sama seperti kita membangun infrastruktur fisik.
Kalau anda (kenal dengan) vokalis klasik, mengapa tidak bergabung untuk menjadi peserta KPN+ ? Yang menang di Surabaya dan Jogja, akan terus konser didampingi saya di Yogya tanggal 30 November, juga dengan pianis Ukraine Dr. Taras Filenko. Syaratnya hanya menyanyikan tembang puitik Indonesia dan satu pilihan, bisa saja Indonesia juga atau yang sudah klasik seperti Franz Schubert, Robert Schumann dll.
Banyak fasilitas yang kami berikan untuk mendukung karir kalian, yang diharapkan juga berkontribusi banyak untuk dunia musik dan sastra Indonesia. Bisa cek Instagram @pianonusantaraplus . Masih terbuka pendaftaran untuk Sumatra Selatan, Jawa Tengah dan Yogyakarta, Jawa Timur dan terakhir Jakarta.
Ada sesuatu yang senyap di dunia tembang puitik Indonesia. Sesuatu yang tidak menyala karena kita terlalu sibuk dengan panggung semu. Tetapi kesenyapan itu juga menyimpan potensi besar: ruang untuk refleksi, kritik, dan penciptaan yang lebih jujur. Tugas kita bukan hanya membuat musik, tetapi menghidupkan kembali tradisi yang memberi makna. Dan itu hanya mungkin jika kita berani melawan arus, memilih yang hening, dan menyalakan api kecil di tengah kegelapan yang gaduh.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






