• Latest
Yahudi Fiksi Di Itali Abad Pertengahan

Yahudi Fiksi Di Itali Abad Pertengahan

September 28, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Yahudi Fiksi Di Itali Abad Pertengahan

Redaksiby Redaksi
September 28, 2025
Reading Time: 4 mins read
Yahudi Fiksi Di Itali Abad Pertengahan
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh ReO Fiksiwan

„Bukankah seorang Yahudi punya mata? Bukankah seorang Yahudi punya tangan, organ, dimensi, indra, kasih sayang, nafsu?… Kalau kau tusuk kami, bukankah kami akan berdarah?” — Shylock, tokoh dalam drama William Shakespeare(1516-1616), Merchant of Venice(1600; Film 2004).

Italia adalah panggung panjang bagi sejarah Yahudi yang kompleks, penuh luka, dan kadang fiktif. 

Dalam drama The Merchant of Venice(1600) dari  William Shakespeare, tokoh Shylock(film 2004, pemeran Al Pacino) menjadi representasi paling terkenal dari stereotip Yahudi di Eropa abad pertengahan. 

Ia digambarkan sebagai pedagang yang kejam, penuh dendam, dan terobsesi pada hukum. 

Namun Shylock bukanlah Yahudi nyata; ia adalah konstruksi fiksi Shakespear yang lahir dari ketakutan dan prasangka Kristen Eropa terhadap komunitas Yahudi yang hidup di pinggiran kota-kota Italia, dari Venice hingga Genoa. 

Dalam fiksi itu, Yahudi menjadi simbol dari “yang lain”—yang tak bisa sepenuhnya diterima, tapi juga tak bisa dihapus.

Max I. Dimont dalam God, History, and the Jews(1962; Terjemahan 2018) menulis bahwa sejarah Yahudi adalah sejarah bertahan hidup. 

Selama lebih dari 4000 tahun, orang Yahudi telah berpindah dari satu pengasingan ke pengasingan lain, dari Babilonia ke Roma, dari Andalusia ke Polandia. 

Di Italia abad pertengahan, mereka hidup dalam ghetto, dipaksa mengenakan tanda khusus, dan dilarang memiliki tanah. 

Tapi mereka tetap bertahan, membangun komunitas, dan menyimpan nalar yang tak bisa dihancurkan. 

Baca Juga

db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026

Dalam The Indestructible Jews(1972), Dimont menyebut bahwa kekuatan Yahudi bukan pada senjata, tetapi pada ingatan dan teks. 

Mereka adalah bangsa yang hidup dari kata-kata, dari Taurat, dari tafsir, dari perdebatan.

Namun fiksi tentang Yahudi seperti Shylock tidak mati. Ia menjelma dalam propaganda, dalam kebijakan, dalam kebencian yang diwariskan. 

Ketika konflik Israel-Palestina meletus dan dunia terbelah antara dukungan dan penolakan, fiksi lama itu kembali muncul. 

Tapi yang menarik, di Italia hari ini, justru rakyatnya bangkit bukan untuk menghidupkan Shylock, tetapi untuk membela Palestina. 

Dari Milan hingga Napoli, dari Roma hingga Palermo, dukungan terhadap kemerdekaan Palestina melanda jalan-jalan, mural, dan ruang-ruang diskusi. Italia yang dulu menjadi tempat pengasingan Yahudi, kini menjadi tempat solidaritas bagi bangsa lain yang terasing: Palestina.

Roger Garaudy dalam The Founding Myths of Modern(2000; Terjemahan 2001) menelusuri akar ideologis pendirian negara Israel melalui gagasan Theodor Herzl, tokoh utama gerakan Zionis modern. 

Herzl menulis Der Judenstaat (Negara Yahudi) pada 1896, dan mengusulkan pembentukan negara Yahudi sebagai solusi atas antisemitisme Eropa. 

Namun dalam tafsir kritis Garaudy sebagai biogenetik Yahudi asal Perancis, proyek Zionisme bukan hanya tentang perlindungan, tetapi juga tentang kolonisasi. 

Ia mengaitkan dokumen-dokumen seperti Protokol Zion—yang meskipun kontroversial dan dianggap palsu oleh banyak sejarawan—sebagai bagian dari narasi yang digunakan untuk membenarkan ekspansi dan pendudukan atas tanah Palestina. 

Garaudy menyebut bahwa pendirian Israel pada 1948 bukanlah akhir dari penderitaan Yahudi, tetapi awal dari penderitaan bangsa lain: Palestina.

PBB menjatuhkan keputusan tentang pembagian wilayah Palestina pada 1947 melalui Resolusi 181, yang membuka jalan bagi pendirian negara Israel. Tapi keputusan itu juga memicu eksodus besar-besaran rakyat Palestina, yang hingga kini masih menjadi pengungsi di tanah sendiri. 

Dalam konteks ini, fiksi politik menggantikan realitas sejarah. Shylock menjadi metafora dari bangsa yang pernah ditolak, tapi kini menolak bangsa lain. 

Dan rakyat Italia, yang pernah menjadi saksi sejarah pengasingan Yahudi, kini berdiri untuk Palestina, bukan sebagai bentuk penolakan terhadap Yahudi, tetapi sebagai penolakan terhadap kekuasaan yang menjadikan sejarah sebagai alat dominasi.

ADVERTISEMENT

Dalam panggung sejarah ini, Shylock, Herzl, dan rakyat Palestina bukan tokoh-tokoh yang terpisah, tetapi bagian dari narasi besar tentang identitas, kekuasaan, dan kemanusiaan. Ketika rakyat Italia turun ke jalan, mereka sedang menulis ulang naskah itu. 

Mereka sedang mengatakan bahwa fiksi tidak bisa lagi menjadi dasar kebijakan. 

Bahwa kemerdekaan bukan milik satu bangsa, tapi hak semua manusia. 

Bahwa dari reruntuhan ghetto dan panggung teater, lahir harapan baru: dunia tanpa fiksi kebencian. Dunia dengan nalar kemanusiaan.

#coversongs: Lagu “Shylock” oleh Ar!ssh dirilis pada 24 November 2022 melalui platform musik BandLab. 

Lagu ini merupakan bagian dari proyek musik bertema klasik yang digarap oleh Arissh Prasad, seorang komposer asal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Lagu “Shylock” terinspirasi dari karakter ikonik dalam drama The Merchant of Venice karya William Shakespeare, dan kemungkinan besar mengangkat nuansa dramatis, konflik batin, serta tema identitas dan keadilan yang melekat pada tokoh Shylock.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

‎Kulihat Indonesia di Balik Jendela Sekolah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com