Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan
„Bukankah seorang Yahudi punya mata? Bukankah seorang Yahudi punya tangan, organ, dimensi, indra, kasih sayang, nafsu?… Kalau kau tusuk kami, bukankah kami akan berdarah?” — Shylock, tokoh dalam drama William Shakespeare(1516-1616), Merchant of Venice(1600; Film 2004).
Italia adalah panggung panjang bagi sejarah Yahudi yang kompleks, penuh luka, dan kadang fiktif.
Dalam drama The Merchant of Venice(1600) dari William Shakespeare, tokoh Shylock(film 2004, pemeran Al Pacino) menjadi representasi paling terkenal dari stereotip Yahudi di Eropa abad pertengahan.
Ia digambarkan sebagai pedagang yang kejam, penuh dendam, dan terobsesi pada hukum.
Namun Shylock bukanlah Yahudi nyata; ia adalah konstruksi fiksi Shakespear yang lahir dari ketakutan dan prasangka Kristen Eropa terhadap komunitas Yahudi yang hidup di pinggiran kota-kota Italia, dari Venice hingga Genoa.
Dalam fiksi itu, Yahudi menjadi simbol dari “yang lain”—yang tak bisa sepenuhnya diterima, tapi juga tak bisa dihapus.
Max I. Dimont dalam God, History, and the Jews(1962; Terjemahan 2018) menulis bahwa sejarah Yahudi adalah sejarah bertahan hidup.
Selama lebih dari 4000 tahun, orang Yahudi telah berpindah dari satu pengasingan ke pengasingan lain, dari Babilonia ke Roma, dari Andalusia ke Polandia.
Di Italia abad pertengahan, mereka hidup dalam ghetto, dipaksa mengenakan tanda khusus, dan dilarang memiliki tanah.
Tapi mereka tetap bertahan, membangun komunitas, dan menyimpan nalar yang tak bisa dihancurkan.
Dalam The Indestructible Jews(1972), Dimont menyebut bahwa kekuatan Yahudi bukan pada senjata, tetapi pada ingatan dan teks.
Mereka adalah bangsa yang hidup dari kata-kata, dari Taurat, dari tafsir, dari perdebatan.
Namun fiksi tentang Yahudi seperti Shylock tidak mati. Ia menjelma dalam propaganda, dalam kebijakan, dalam kebencian yang diwariskan.
📚 Artikel Terkait
Ketika konflik Israel-Palestina meletus dan dunia terbelah antara dukungan dan penolakan, fiksi lama itu kembali muncul.
Tapi yang menarik, di Italia hari ini, justru rakyatnya bangkit bukan untuk menghidupkan Shylock, tetapi untuk membela Palestina.
Dari Milan hingga Napoli, dari Roma hingga Palermo, dukungan terhadap kemerdekaan Palestina melanda jalan-jalan, mural, dan ruang-ruang diskusi. Italia yang dulu menjadi tempat pengasingan Yahudi, kini menjadi tempat solidaritas bagi bangsa lain yang terasing: Palestina.
Roger Garaudy dalam The Founding Myths of Modern(2000; Terjemahan 2001) menelusuri akar ideologis pendirian negara Israel melalui gagasan Theodor Herzl, tokoh utama gerakan Zionis modern.
Herzl menulis Der Judenstaat (Negara Yahudi) pada 1896, dan mengusulkan pembentukan negara Yahudi sebagai solusi atas antisemitisme Eropa.
Namun dalam tafsir kritis Garaudy sebagai biogenetik Yahudi asal Perancis, proyek Zionisme bukan hanya tentang perlindungan, tetapi juga tentang kolonisasi.
Ia mengaitkan dokumen-dokumen seperti Protokol Zion—yang meskipun kontroversial dan dianggap palsu oleh banyak sejarawan—sebagai bagian dari narasi yang digunakan untuk membenarkan ekspansi dan pendudukan atas tanah Palestina.
Garaudy menyebut bahwa pendirian Israel pada 1948 bukanlah akhir dari penderitaan Yahudi, tetapi awal dari penderitaan bangsa lain: Palestina.
PBB menjatuhkan keputusan tentang pembagian wilayah Palestina pada 1947 melalui Resolusi 181, yang membuka jalan bagi pendirian negara Israel. Tapi keputusan itu juga memicu eksodus besar-besaran rakyat Palestina, yang hingga kini masih menjadi pengungsi di tanah sendiri.
Dalam konteks ini, fiksi politik menggantikan realitas sejarah. Shylock menjadi metafora dari bangsa yang pernah ditolak, tapi kini menolak bangsa lain.
Dan rakyat Italia, yang pernah menjadi saksi sejarah pengasingan Yahudi, kini berdiri untuk Palestina, bukan sebagai bentuk penolakan terhadap Yahudi, tetapi sebagai penolakan terhadap kekuasaan yang menjadikan sejarah sebagai alat dominasi.
Dalam panggung sejarah ini, Shylock, Herzl, dan rakyat Palestina bukan tokoh-tokoh yang terpisah, tetapi bagian dari narasi besar tentang identitas, kekuasaan, dan kemanusiaan. Ketika rakyat Italia turun ke jalan, mereka sedang menulis ulang naskah itu.
Mereka sedang mengatakan bahwa fiksi tidak bisa lagi menjadi dasar kebijakan.
Bahwa kemerdekaan bukan milik satu bangsa, tapi hak semua manusia.
Bahwa dari reruntuhan ghetto dan panggung teater, lahir harapan baru: dunia tanpa fiksi kebencian. Dunia dengan nalar kemanusiaan.
#coversongs: Lagu “Shylock” oleh Ar!ssh dirilis pada 24 November 2022 melalui platform musik BandLab.
Lagu ini merupakan bagian dari proyek musik bertema klasik yang digarap oleh Arissh Prasad, seorang komposer asal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Lagu “Shylock” terinspirasi dari karakter ikonik dalam drama The Merchant of Venice karya William Shakespeare, dan kemungkinan besar mengangkat nuansa dramatis, konflik batin, serta tema identitas dan keadilan yang melekat pada tokoh Shylock.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






