POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

151 SD Gurunya Mogok Ngajar Gara-gara TPP Dipotong

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
September 18, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Saya paling gedek bangat bila ada guru disakiti. Bawaannya mau war. Ini ada guru di 151 sekolah dasar harus mogok ngajar. Hak mereka dipotong. Mari kita gilas, eh salah, kupas derita guru sambil seruput kopi tanpa gula, wak!

Kutai Barat, tanah yang katanya subur makmur, kini melahirkan tragedi paling absurd dalam sejarah pendidikan, guru-guru mogok. Bukan guru satu dua, tapi ribuan, dari 151 sekolah, termasuk SDN 001 Barong Tongkok yang biasanya jadi pusat tawa murid-murid kecil. Tiba-tiba ruang kelas di sana lebih sepi dari kuburan tengah malam. Kapur putih menjerit tak dipakai, buku-buku menganga kosong, murid hanya menatap papan tulis seperti menatap takdir bangsa yang entah ke mana.

Semuanya gara-gara TPP (Tambahan Penghasilan Pegawai) yang katanya menyusut. Dulu Rp3,5 juta, kini tinggal Rp2,35 juta. Angka yang tidak salah tulis, angka yang bikin guru tercekik. Lalu Pemkab dengan gagah berkata, “Itu hoaks!” Hoaks dari mana? Masa rekening BRI bisa memfitnah? Masa slip gaji bisa merampot? Kalau benar hoaks, sudah pasti guru langsung balik ke kelas dengan senyum selebar spanduk. Faktanya, mereka tetap mogok, tetap diam, tetap berdiri di garis absurd.

Kepala Dinas Pendidikan, Bandarsyah, tampil seperti nabi kesabaran. Katanya, masalah ini butuh kajian ilmiah, melibatkan Lembaga Administrasi Negara (LAN). Serius benar, seolah TPP guru ini masalah persenjataan nuklir. Guru hanya butuh makan, bukan riset ala NASA. Tapi jawaban resmi itu terdengar seperti filsafat Plato yang dijadikan bahan seminar, indah, tapi tak bisa dipakai bayar beras.

Bupati pun muncul, suaranya lantang. “Tidak ada pemotongan 35%, itu hoaks!” Sayang, para guru sudah kebal. Mereka tahu, yang berkurang bukan kabar burung, tapi nasi di piring. Di rumah kontrakan, dapur mereka lebih jujur dari pidato pejabat. Murid pun bingung. “Kalau hoaks, kenapa Bu Guru tak datang mengajar?” Pertanyaan sederhana itu jauh lebih menusuk daripada ribuan klarifikasi.

📚 Artikel Terkait

Brain Rot dan Krisis Pendidikan Digital di Indonesia

Bayang-Bayang Perang Dunia Ketiga dan Tanggung Jawab Kemanusiaan Kita

HOBI YANG MENGHASILKAN UANG

Puisi-Puisi Cut Putri Dinata

Ironi bertambah pekat. Murid-murid SD, SMP, SMA, SMK di Kutai Barat jadi korban. Orang tua kecewa. Anak-anak yang mestinya belajar membaca “Indonesia Raya”, kini hanya belajar membaca wajah muram orang dewasa. Pendidikan berubah jadi eksperimen filsafat, apakah negeri bisa berdiri tanpa guru, cukup dengan janji dan baliho pejabat?

Lihatlah epiknya mogok ini. Ribuan guru bersatu, lebih solid dari pasukan perang Troya. Mereka tidak menghunus pedang, tapi senjata mereka lebih dahsyat, diam, berhenti mengajar. Diam mereka lebih nyaring dari sirine ambulans. Diam mereka menusuk hati orang tua, dan seharusnya juga menusuk telinga pejabat yang suka bilang “hoaks”.

Janji pemerintah? Seperti biasa, “Paling lambat 19 September 2025 akan difasilitasi pertemuan.” Janji lagi, janji terus. Entah pertemuan itu akan jadi solusi, atau sekadar rapat penuh teh manis dan notulen basi. Guru sudah kenyang dengan janji. Mereka mogok bukan karena malas, tapi karena terlalu sering dipermainkan.

Beginilah absurditas negeri. Guru yang disebut pahlawan tanpa tanda jasa, justru dipaksa jadi martir tanpa panggung. Mereka mogok, murid menderita, tapi pejabat malah sibuk main kata-kata. Kalau ini dibiarkan, jangan salahkan kalau generasi kita nanti hanya bisa menghafal, “TPP, hoaks, kajian ilmiah” tanpa pernah bisa menghafal Pancasila.

Mungkin mogok guru ini bukan sekadar aksi. Ia adalah doa yang berubah bentuk. Doa agar negeri sadar, tanpa guru, bangsa hanyalah papan tulis kosong. Tanpa guru, pendidikan hanyalah janji manis yang dibacakan dengan nada tinggi tapi tanpa makna. Kalau pejabat masih bilang ini hoaks, biarlah sejarah yang menjawab, siapa sebenarnya yang berbohong, guru atau penguasa.

Foto Ai, hanya ilustrasi.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Masjid Sebagai Ruang Keadilan Sosial

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00