Dengarkan Artikel
Anda, saya dan kita semua, pasti pernah merasa benar akan sesuatu. Misalnya soal dunia yang penuh tipu-tipu, atau dunia penuh dengan orang-orang baik. Dan berbagai pandangan lainnya. Lalu, kita ketemu dengan pandangan yang berbeda. Biasanya akan terjadi debat. Sekarang, coba kita ubah sedikit, bagaimana kalau kita mengkritisi pandangan sendiri.
Proses kritik pandangan sendiri bukanlah proses biasa. Ego manusia, konstruksi personal, agama, sosial, serta keterbatasan pemahaman, adalah beberapa faktor internal dan eksternal yang sulit dihadapi. Faktor-faktor itu sering mendistorsi kritik terhadap pandangan sendiri. Sehingga mengaktualisasi pandangan salah dipertahankan, bahkan langsung menolak kebenaran yang dianggap tidak benar.
Situasi itu memandu kita memasuki fanatisme pada pandangan sendiri. Bangunan pikiran rapuh disebabkan karena dibangun tanpa melalui verifikasi kelayakan. Terjadi mark-up pandangan yang bukan hanya tidak disadari oleh orang lain, bahkan kita sebagai pemilik pun lalai bahwa mark-up pandangan akan merusak bangunan pikiran.
Konsekuensinya, kita akan sering menghakimi, reaksioner, bahkan beberapa berujung pada kekerasan fisik. Sebagaimana Rumi pernah ingatkan kisah manusia buta memegang partikular gajah. Mereka kemudian menyampaikan pandangan bahkan ngotot pandangannya sangat benar. Pemikiran partikular itu biasanya disesuaikan dengan keinginan, ditambah faktor-faktor yang saya sebutkan di atas.
Kita memang cenderung senang berada di gerbong benar. Itu sebabnya, sering kali kita bersemangat berbohong agar di gerbong benar. Konstruksi ini berlaku dalam pandangan kita, bila pandangan kita dianggap benar maka ada rasa senang di sana. Padahal, kebenaran itu tidak berafiliasi dengan manis dan pahit, senang atau tidak senang.
Kebenaran bukan fondasi realitas, bukan pula fondasi otoritas, termasuk akal dan nalar serta keyakinan kita. Bukan milik akal, nalar, maupun keyakinan kita. Mereka hanya instrumen menemukan kebenaran, hanya supporting system bagi kita. Mereka tidak berhak menjajah kita agar kita tidak melirik dan memeluk kebenaran.
📚 Artikel Terkait
Sampai di titik itu, kesadaran akan pentingnya mengkritisi pandangan sendiri adalah pembebasan dari fanatisme pandangan sendiri. Kita akan berangsur menjadi manusia yang bebas dari sikap merasa paling benar. Perlahan, rendah hati, jernih pikiran, serta jalan pikiran yang nyaman akan selalu bersama kita.
Di sekitar jalan pikiran, ada pemandangan menawan, ada kerusakan pikiran yang dilakukan para pembabat hutan kebenaran. Di depan, barangkali ada warkop yang menyajikan kopi polos, kopi bergula, robusta atau arabika. Istirahat sejenak sambil berpikir, apakah pandangan kita sudah benar, atau itu hanya konstruksi budaya, agama, sosial, pendidikan serta keyakinan yang seperempat saja kita pahami. Coba periksa dengan instrumen yang diberikan Allah Azza wa Jalla.
Bukan kemustahilan bila ternyata pandangan kita adalah keinginan algoritma nafsu, hasrat, strata, iri, dengki, dan komponen penyebab kita terjajah pandangan sendiri. Apalagi pandangan yang hanya hasil mentah dari media sosial, bacaan, apa yang kita dengar, termasuk yang kita lihat langsung. Fenomena yang kita saksikan langsung bahkan kita rasakan sendiri, sering kali kita definisikan sebelum itu terjadi maupun setelahnya dengan pandangan yang otomatis.
Algoritma pandangan itu kemudian menjadi dogma. Jangankan diubah, disentuh pun haram. Tidak ada amandemen pandangan apalagi revolusi pandangan. Semua etalase pandangan harus tunai, tidak ada pay later maupun COD. Tidak ada negosiasi harga, apalagi diskon. Biasanya pembeli hanya mereka yang memiliki pandangan sejalan. Pesta pora pandangan bersama kemudian menghina pandangan berbeda. Di ruang publik biasanya tradisi ini terjadi. Kita merasa menang dengan kuantitas meski produk pikiran itu milik orang yang kita pahami menurut keinginan kita. Meski produk itu barang usang yang rapuh.
Kerapuhan itu tampak nyata dalam pengamalan. Bias kognitif itu terjadi di segala lini. Mengakui diri lemah namun di saat yang sama kerap menantang Yang Maha Kuasa. Menolak kapitalisme namun setiap hari memperkaya pemilik media sosial. Menolak pejabat korupsi namun proposal kegiatan mark-up. Menangkap pelaku zinah namun membiarkan pelaku dosa zinah yang lebih besar (riba). Dan bias-bias lain yang didasarkan pada pandangan seolah-olah sangat benar.
Dengan demikian, pandangan yang kita anggap sangat benar itu, hanya retorika. Karenanya, bagaimana kalau kita amandemen pandangan kita. Merevisinya sesuai realitas misalnya. Berdasarkan nilai baru jika merujuk pemikiran Nietzsche, atau konstruksi ulang bila menurut Derrida. Coba selidiki, oligarki dalam diri kita. Dalam hal ini, argumen-argumen terbatas yang kita pahami, argumen partikular, atau keterbatasan akal dan nalar memahami sebuah argumen.
Coba refleksi lagi, bagaimana konstruksi pikiran kita agar pandangan kita mampu melihat berbagai bunga dan pohon di taman pikiran. Pemandangan menjadi indah seindah keindahan yang indah tanpa mengurangi substansinya. Atau jika kita sudah memiliki ladang pikiran, ada beragam buah-buahan di ladang pikiran kita yang dapat dikonsumsi sesuai kebutuhan atau sekedar menanam pohon lalu menjual serta mensedekahkannya pada orang lain. Jika belum sampai tahap itu, masih tahap menikmati, jangan paksa orang mengakui pepaya lebih enak dari durian maupun sebaliknya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






