• Latest

Hebat, Rahayu Saraswati Memilih Mundur Sendiri

September 11, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Hebat, Rahayu Saraswati Memilih Mundur Sendiri

Redaksiby Redaksi
September 11, 2025
in Artikel
Reading Time: 2 mins read
601
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Saya paling suka dan salut pada orang berani mundur. Itu namanya gentle. Tak perlu dipaksa mundur, ia mundur sendiri, hebat. Itulah ponakan Prabowo, Rahayu Saraswati. Yok kita kulik sambil seruput kopi sedikit susu kental manis, wak!

Di negeri ini, kursi kekuasaan sering lebih lengket dari permen karet di sandal jepit. Orang bisa ditangkap KPK, bisa diprotes mahasiswa, bisa dicaci di medsos, tapi tetap saja tak mau lepas. Maka ketika ada satu makhluk politik bernama Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, keponakan Presiden Prabowo, yang justru berani mundur dari DPR RI, kita patut berhenti sejenak, menaruh tangan di dada, dan bertanya, apakah ini mimpi?

Langkah itu diumumkan lewat video Instagram, 10 September 2025, tepat pukul senja ketika langit Jakarta sedang galau. Sara berkata dengan nada lirih, ia mundur, tapi ingin menuntaskan satu misi terakhir, pengesahan RUU Kepariwisataan di Komisi VII. Adegan ini seakan diambil dari film Hollywood, pahlawan sudah terluka parah, tapi masih bersikeras menekan tombol terakhir demi menyelamatkan umat manusia.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 30, 2026

Alasannya mundur? Bukan karena skandal uang haram, bukan pula karena ikut joget dangdut di ruang sidang. Justru lebih sederhana sekaligus mematikan, sebuah potongan wawancara dua menit yang viral, dianggap menyinggung kaum muda yang banting tulang membangun usaha. Sara mengaku salah, mengaku punya privilege, dan dengan jujur mengucapkan kata yang paling jarang dalam kamus politisi Indonesia, maaf.

Gerindra merespons dengan gaya yoga politik, tenang, adem, penuh kontrol napas. Mereka bilang, “Kami hormati keputusan beliau, akan diproses sesuai aturan. Sementara dinonaktifkan dulu.” Tidak ada drama, tidak ada teriakan. Tapi mari jujur, ini juga bagian dari damage control. Bagaimanapun, Sara bukan kader biasa. Ia adalah keponakan sang Presiden. Biarlah ia mundur dengan elegan, dari bikin bola liar yang menyerempet nama besar keluarga.

Di titik ini, kita masuk ke ranah filsafat. Mundur bukanlah tanda kekalahan. Mundur adalah seni memahami kapan panggung harus ditinggalkan. Dalam catur, kuda yang mundur bisa justru menyelamatkan raja. Dalam perang, pasukan yang mundur bisa menyusun strategi untuk menang esok hari. Dalam politik, mundur adalah langkah paling sulit karena kursi terlalu empuk untuk dilepas. Itulah sebabnya kita perlu memuji Sara, meski mungkin terlambat menyadari, setidaknya ia berani melangkah pergi.

Sejarah mundur di Indonesia kini bertambah. Dari Joao Angelo, Dirut Agrinas BUMN yang pernah saya juluki Bapak Mundur Indonesia, hingga kini Sara yang layak disebut Putri Mundur Senayan. Mereka sama-sama menunjukkan, lebih baik mundur dengan kepala tegak, dari dipertahankan dengan harga diri tercecer.

Di sini, pesan pentingnya, jangan tunggu rakyat yang memaksa. Bila merasa gagal, mundurlah. Mundurlah dengan berani, sebelum rakyat sendiri yang menyeretmu turun dari kursi dengan paksa.

ADVERTISEMENT

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Gelombang Riba di Era Finansialisasi Global

Menanti Buah Hati di Negeri Orang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com