Dengarkan Artikel
Generasi Putri Duyung: Punya Kaki, Tanpa Suara
Oleh: @Frida.Pigny
| https://superschool.ing/transform
Sebagian besar dari kita tumbuh dengan pelajaran yang tak pernah tertulis di buku pelajaran. Pelajaran tentang bagaimana menjadi ‘anak baik’, bagaimana diam ketika ingin protes, bagaimana menyembunyikan kebingungan di balik senyum, supaya tidak dimarahi.
Kita belajar bahwa nilai itu lebih penting daripada rasa ingin tahu, bahwa patuh lebih berharga daripada jujur, bahwa gagal itu memalukan dan salah berarti bodoh. Lalu tanpa sadar, hari ini, kita menjadi orang tua, guru, atau pengambil keputusan yang membawa semua pelajaran itu hidup bersama kita.
Kita bilang, “Anak-anak zaman sekarang susah diatur.” Padahal mungkin yang kita maksud adalah “Anak-anak sekarang tidak lagi takut seperti dulu kita takut.”
Kita bilang, “Anak-anak sekarang terlalu lemah.” Tapi bisa jadi yang kita maksud yaitu “Mereka tidak menoleransi kekerasan yang dulu kita anggap wajar.”
Pengalaman masa lalu bukan hanya membentuk cara kita berpikir, tapi juga menentukan di mana letak sensitivitas kita, dan di mana kebutaan kita. Anak-anak yang dulu tidak pernah diberi ruang bertanya, kini tumbuh menjadi orang dewasa yang menganggap pertanyaan sebagai gangguan. Anak-anak yang dulu harus menahan air mata saat dihukum karena salah satu huruf, kini menjadi guru yang berkata, “Saya begini juga baik-baik saja.” Tapi benarkah?
Pernahkah kita benar-benar sembuh?
Banyak dari kita mungkin tidak sadar bahwa pengalaman buruk masa kecil itu masih hidup. Ia menyamar jadi prinsip. Jadi gaya mengasuh. Jadi cara mendidik. Ia muncul saat kita bilang, “Dulu saya bisa kok, kenapa kamu nggak?” atau saat kita tertawa ketika anak kita takut, bukannya memeluknya.
Kisah ini mengingatkan pada dongeng klasik The Little Mermaid. Ariel, sang putri duyung, bermimpi berjalan di daratan. Ia mendapatkan kaki, tetapi harus membayar dengan kehilangan suaranya. Bukankah itu mirip dengan pendidikan kita? Anak-anak kita diberi “kaki” untuk melangkah maju: nilai, ijazah, ranking. Tetapi dalam prosesnya, mereka kehilangan suara. Mereka tidak tahu cara menyuarakan pikiran, mempertanyakan dunia, atau menolak ketidakadilan. Mereka bisa melangkah, tapi tak bisa bersuara.
Brene Brown, peneliti dan penulis terkemuka soal keberanian dan kerentanan, pernah mengatakan, “We cannot give our children what we don’t have. We cannot teach them courage if we are still ruled by fear.” Terjemahan bebasnya mungkin seperti ini, ‘Kita tidak bisa memberikan anak-anak kita apa yang tidak kita miliki. Kita tidak bisa mengajari mereka ketangguhan jika kita masih dikuasai oleh rasa takut.’
Dan sebenarnya, itulah akar dari banyak siklus pendidikan kita yang macet, di mana kita mencoba menciptakan generasi pemberani, padahal kita sendiri masih belum selesai dalam menghadapi rasa takut yang sudah lama tumbuh bersama diri kita sejak dicekoki beragam aturan yang dibungkus dalam balutan sistem pendidikan.
Namun di sini kita bukan sedang menyalahkan masa lalu. Ini tentang mencoba membawa kita untuk menyadari. Bahwa tidak semua yang membentuk kita harus kita wariskan kepada anak-cucu. Bahwa kita bisa memilih, apakah ingin menjadi penerus sistem, atau menjadi perintis perubahan.
📚 Artikel Terkait
Lihatlah Malala Yousafzai. Anak perempuan dari Lembah Swat, Pakistan, yang tumbuh dalam lingkungan yang ingin membungkam suara anak-anak perempuan secara massal. Malala bisa saja percaya bahwa pendidikan bukan tempat untuk dirinya. Tapi ayahnya, Ziauddin, memutuskan untuk tidak mewariskan ketakutan yang sama. Ia bilang, “I didn’t clip her wings.” atau “Aku tidak mematahkan sayapnya.” Itu saja sudah cukup untuk memulai revolusi kecil, dan kemudian ternyata menjadi sangat besar dan meninggalkan rekam-jejak global.
Di sisi lain, ada begitu banyak orang tua yang hari ini masih merasa takut melihat anaknya berbeda dari ‘normal’. Takut jika anaknya tidak mendapatkan ranking. Takut kalau anaknya tidak taat. Tapi dari mana rasa takut itu datang? Bukankah dari masa lalu yang menanamkan bahwa validasi hanya datang dari angka dan pujian?
Saya teringat seorang anak kerabat yang waktu itu kami tanya, “Siapa teman dekatmu di sekolah?” Jawabannya sungguh menggambarkan bagaimana sistem telah meresap ke dalam identitas anak. Ia tidak menyebutkan nama. Ia menjawab, “Yang ranking dua sama yang ranking tiga.” Bukan karena tidak tahu nama, tapi karena dalam benaknya, kedekatan pun dikaitkan dengan prestasi. Ini bukan salah anak. Ini adalah cermin dari dunia yang tanpa sadar mengajarkan bahwa angka lebih penting daripada jiwa.
Psikolog anak terkemuka, Dr. Shefali Tsabary, menyebut ini sebagai generational unconsciousness atau ketidaksadaran turun-temurun yang membuat pola lama terus berulang. “Anak-anak datang bukan untuk kita bentuk, tapi untuk membentuk kita,” katanya. Tapi selama kita masih hidup dari naskah lama yang belum kita ubah, kita justru mencetak ulang luka itu ke halaman hidup mereka yang baru.
Bukan hanya teori. Penelitian neuroscience menunjukkan bahwa trauma masa kecil, bahkan yang tidak ekstrim sekalipun, bisa tertanam dalam otak dan membentuk respons stres yang terbawa hingga dewasa. Ini menjelaskan kenapa kita bisa merasa “terpicu” oleh hal-hal sepele saat mendidik anak, seperti tangisan, pertanyaan kritis, atau penolakan. Karena itu bukan soal anak, tapi soal kita yang belum berdamai dengan diri kita yang dulu.
Dan jika kita telusuri lebih dalam, yang diuntungkan dari generasi yang patuh, tapi tidak sadar adalah sistem, senioritas, struktur, dan kekuasaan. Bukan kemanusiaan. Bukan pendidikan.
Nelson Mandela pernah berkata, “Education is the most powerful weapon which you can use to change the world.” Tapi pendidikan macam apa yang benar-benar mengubah dunia? Pendidikan yang dimulai dari keberanian untuk menyembuhkan. Karena dunia tidak akan berubah oleh anak-anak yang takut, melainkan oleh anak-anak yang diberi izin untuk berpikir, bertanya, dan merasa layak, apapun yang terjadi.
Hari ini, kita punya kesempatan langka. Untuk berhenti sejenak, dan bertanya:
Apakah saya sedang membesarkan anak saya, atau mengulang versi kecil dari saya yang dulu?
Apakah saya ingin anak saya merasa dicintai karena dirinya, atau hanya jika dia memenuhi ekspektasi saya?
Kita tidak bisa menghapus masa lalu, tapi kita bisa mengubah apa yang kita niat lanjutkan. Dan mungkin, dari sanalah pendidikan baru bisa lahir. Bukan dari silabus baru. Bukan dari aturan baru. Tapi dari kesadaran manusia, kesadaran orang tua, yang memilih untuk tidak lagi menurunkan beban yang sama kepada generasi selanjutnya. Yang memilih untuk memanusiakan anak, tanpa perlu menunggu sistem dari pusat untuk berubah duluan.
Dan mungkin, dari titik itu juga, kita bisa mulai menyusun ulang narasi yang lebih manusiawi. Narasi dimana pendidikan bukan tentang ketakutan, tapi tentang rasa aman. Bukan tentang kompetisi, tapi tentang kolaborasi. Bukan tentang kepatuhan, tapi tentang koneksi. Karena jika kita berani berubah, anak-anak kita tidak perlu lagi tumbuh sambil memikul warisan luka yang aslinya bukan milik mereka.
Sejauh mana pengalaman kita membentuk cara pandang terhadap anak dan pembelajaran?
Jawabannya adalah sejauh kita belum menyadari, sejauh itu pula luka itu bekerja diam-diam.
Tapi begitu kita menyadari, kita bisa memilih ulang. Dan pilihan itu bisa menyelamatkan satu generasi penuh.
Sebuah sistem hanya akan berubah jika orang-orang di dalamnya berani melihat ke dalam dirinya sendiri terlebih dahulu dengan jujur.
James Baldwin pernah mengingatkan, “Sejarah itu bukan cuma soal masa lalu. Ia hidup di masa kini. Kita membawanya ke mana-mana, dan tanpa sadar, banyak hal yang kita lakukan masih dikendalikan olehnya.”
Hari ini, mungkin waktunya kita bertanya: apakah kita ingin anak-anak kita tumbuh sebagai manusia yang utuh yang menjalankan hidupnya sesuai fitrahnya, atau sebagai generasi putri duyung, yang punya kaki untuk melangkah, tapi kehilangan suara untuk berbicara? (*)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






