Dengarkan Artikel
Oleh Agung Marsudi
Yogyakarta memang istimewa. Istimewa negerinya, istimewa orangnya, dan istimewa tradisinya. Tradisi membaca warga Yogya tak diragukan lagi, pantas disematkan padanya sebagai kota pelajar.
Ini buktinya! Jogja Book Fair 2025 kembali digelar pada 4-14 September 2025 di Kawasan Grhatama Pustaka, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY. Jogja Book Fair tahun ini pun istimewa karena diselenggarakan bertepatan dengan 13 tahun UU Keistimewaan DIY, dan Hari Literasi Internasional. Dibuka secara resmi, Kamis malam (4/9/2025).
Hadir dalam acara pembukaan, Penjabat (Pj.) Sekda DIY, Aria Nugrahadi, Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Aris Eko Nugroho, Ketua Komisi D DPRD DIY, R.B. Dwi Wahyu, Ketua IKAPI DIY, Wawan Arif, Kepala DPAD DIY, Kurniawan dan segenap tamu undangan.
Gelaran istimewa ini menghadirkan beragam kegiatan, bazar buku, kompetisi literasi, inkubasi literasi, talkshow, bedah buku, diskusi komunitas, hingga pertunjukan seni. Jogja Book Fair 2025 digelar berkat kolaborasi DPAD DIY, IKAPI Jogja, Paniradya Kaistimewan DIY, Dinas Koperasi dan UMKM DIY, dan Dinas Pariwisata DIY.
📚 Artikel Terkait
Dalam sesi pembukaan Kepala DPAD Yogya, Kurniawan mengatakan Jogja Book Fair 2025 ini bukan sekadar pameran buku, melainkan ruang inklusi di mana masyarakat bisa mengakses pengetahuan, berdiskusi, dan meneguhkan literasi sebagai bagian dari kesejahteraan.
Tema Jogja Book Fair 2025, “Literasi, Inklusif & Kesejahteraan” menurutnya cocok dengan kondisi Indonesia saat ini, di mana literasi bisa menyentuh semua lapisan golongan masyarakat. Gelaran literasi bukan sekadar pertemuan penerbit dan pembaca, tetapi bagian dari upaya menciptakan kesejahteraan.
Agenda tahunan ini diikuti oleh banyak penerbit terkenal, puluhan ribu judul buku yang ada di Bazar, membuat Jogja Book Fair 2025 merupakan pameran buku terbesar.
Ketua IKAPI DIY, Wawan Arif menilai Jogja Book Fair 2025 bukan sekadar pameran buku, tetapi ruang inklusi dan sinergi lintas sektor. “Di balik layar, penerbit, penerjemah, dan pelaku industri kreatif sibuk menghadirkan bacaan. Dari bacaanlah kebijakan lahir, pemikiran tumbuh, dan masyarakat bisa belajar banyak nilai dari para tokoh dunia,” ujarnya.
Buku berjudul KOPITALISME karya dua penulis beda genre Malika Dwi Ana dan Agung Marsudi, yang diterbitkan oleh Senarai Ide Bangsa, berada di display sisi selatan venue bazar, merupakan satu judul buku yang menarik, yang ikut dipamerkan, bersama puluhan ribu judul buku yang tertata rapi dalam perhelatan literasi ini.
Danur (43), seorang warga pecinta buku dari Sleman, Yogya, berkomentar pameran ini dapat meningkatkan minat baca masyarakat, terutama kawula muda, di tengah tradisi membaca sekarang yang terlihat menurun. Media sosial seperti menggerus tradisi itu. Buku Kopitalisme yang berada di display penerbit Senari Ide Bangsa, menarik perhatiannya. Covernya aja sudah eyecatching, apalagi isinya.
Penulis buku KOPITALISME, Malika Dwi Ana (53), yang berkesempatan hadir dalam acara pembukaan tak dapat menutupi kegembiraannya. Ia merasa senang, bangga, dan lebih terpacu untuk menggiatkan literasi lagi. “Masyarakat kalau melek literasi itu akan meningkatkan pengetahuan, memiliki pandangan luas, memiliki kesadaran untuk tidak mudah dibohongi, tidak mudah percaya “katanya-katanya”, kritis menanyakan kebijakan pemerintah misalnya, sehingga tidak asal terima,” ujar Malika, alumni jurusan Ilmu Politik Unair Surabaya ini. ***
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






