Dengarkan Artikel
Oleh Heri Iskandar
Cara Mudah Merawat Logika
–‐————‐————————————
Jum’at, 05/9/2025 (Edisi 1493)
“Kau setuju tidak Khatib Jum’at tadi mengartikan DPR sebagai Dewan Penghina Rakyat Bib?”
“Kalau aku boleh tahu yang mereka hina rakyat mana saja kira-kira?”
“Semua lapisan masyarakat yang meminta DPR dibubarkan?”
“Guru, Dosen, Profesor dan Ulama ada yang ikut mendukung DPR dibubarkan tidak?”
“Ya pastilah kecuali mereka yang sudah merasakan nikmatnya fasilitas dari Senayan. Kenapa kau tanya itu?”
“Pantas tidak seorang kolektor black apa namanya itu mengatakan ulama atau guru sebagai manusia tertolol di dunia hanya karena ingin menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap aneka kezaliman yang tumbuh subur di DPR?”
“Maksudku kan lebih elok bila singkatan DPR bukan itu tapi ini?”
“Yang ini itu apa..?”
“Dewan Pengkhianat Rakyat!”
“Kalau itu rakyat bebas berimprovisasi sesuai kebencian masing-masing karena hari ini mereka sudah sangat terhina dan sudah dihinakan oleh Allah Zat Maha Menghukum.”
📚 Artikel Terkait
“Hal lain yang kau jadikan catatan dari khutbah tadi apa kira-kira?”
“Iblis itu, Allah laknat hingga nenjadi mahluk terkutuk sepanjang masa karena berlaku sombong, merasa lebih mulia dari Nabi Adam di depan Zat Yang Maha Berkehendak.”
“Yang mau kau simpulkan apa..?”
“Menurutku semua hal yang Khatib pertanyakan tadi cocok dengan apa yang ada di Gedung Dewan kita hari ini.”
“Itu yang kurang kusimak tadi, maksudnya bagaimana itu..?”
“Semua orang yang ada di Senayan menurut beliau berakal dan beragama tapi kenapa mereka meniru prilaku Iblis?”
“Prilaku yang bagaimana..?”
“Sombong, tamak dan serakah. Kalau hari ini mereka tidak insaf dan sadar juga sungguh mereka akan terhina selamanya seperti bunyi Surat Al A’raf 179.”
“Tentang apa itu..?”
“Tafsiran bebasnya kira-kira seperti ini, mereka punya hati, tapi tidak mau merasakan derita rakyat. Hari-hari mereka sibuk berfoya-foya dengan uang rakyat untuk memuaskan nafsu duniawi masing-masing.”
“Oo terus..?”
“Mereka punya mata, tapi tidak mau melihat derita rakyat. Baru setelah rakyat mengamuk mereka pura-pura peduli dan janji bertaubat.”
“Kalau aku bilang itu sifat kaum munafik apa kau setuju..?”
“Sebentar biar aku selesaikan dulu. Allah juga memberi mereka telinga yang normal dan terang, tapi tidak pernah mau mendengar jeritan rakyat. Namun setelah karma datang membalas baru menangis mengaku menyesal.”
“Yang kau bilang mereka akan terhina bagaimana itu..?”
“Allah yang bilang bukan aku. Di surat tadi jelas tertulis bahwa orang yang salah menggunakan hati, mata dan telinga, maka sesunggunya mereka lebih bodoh dari hewan..!”
——————————————————————
🙏Heri Iskandar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





