Dengarkan Artikel
Oleh: Devi Mulia Sari,
Ketua Satuan Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Politeknik Aceh
Senat Politeknik Aceh baru saja menuntaskan sebuah proses penting dalam perjalanan institusi, yakni menetapkan dua calon Direktur Politeknik Aceh periode 2025–2029. Proses ini tidak sekadar memenuhi amanah Tata Pamong, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi kita semua tentang bagaimana menyiapkan pemimpin yang visioner untuk membawa Politeknik Aceh ke arah yang lebih maju.
Sebagai Ketua Satuan Penjaminan Mutu Internal (SPMI), saya melihat bahwa tahap seleksi ini memiliki makna lebih dari sekadar administrasi. Melalui survei yang dilakukan, muncul empat nama dosen internal dengan dukungan suara terbanyak: Fitriady, Ardian, Safwan, dan Rismadi. Namun, setelah penilaian mendalam atas kelengkapan persyaratan, hanya dua nama—Fitriady dan Ardian—yang dinyatakan memenuhi semua kriteria, mulai dari pengalaman mengajar, kompetensi manajerial, hingga kualifikasi akademik.
Keputusan ini bukanlah sekadar angka atau formalitas. Di baliknya, terdapat pesan bahwa seorang pemimpin perguruan tinggi harus memiliki integritas, kapasitas manajerial, dan visi yang jelas. Tidak hanya memenuhi persyaratan administratif, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan, menjaga mutu pendidikan, dan menjawab tantangan zaman.
📚 Artikel Terkait
Senat juga menegaskan bahwa masa jabatan direktur sebelumnya, Dr. Hilmi, S.E., M.Si, tidak diperpanjang karena adanya aturan yang mengharuskan dosen PNS kembali ke kampus induk. Hal ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan di Politeknik Aceh harus berjalan sesuai regulasi sekaligus membuka ruang regenerasi.
Kini, dua nama yang telah diajukan kepada Wali Kota Banda Aceh dan Yayasan Politeknik Aceh bukan sekadar calon, tetapi simbol harapan. Harapan akan hadirnya sosok pemimpin yang tidak hanya mengelola, tetapi juga memimpin dengan visi. Visi untuk membawa Politeknik Aceh menjadi institusi vokasi unggul yang mampu melahirkan lulusan kompeten, adaptif, dan berdaya saing global.
Menyiapkan pemimpin visioner bukan hanya tugas Senat atau Yayasan, melainkan tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika. Kita perlu terus mengawal, memberi masukan, serta memastikan bahwa kepemimpinan yang lahir benar-benar berpihak pada mutu pendidikan dan masa depan mahasiswa.
Periode 2025–2029 akan menjadi babak baru. Dengan calon yang telah ditetapkan, mari kita jadikan momentum ini sebagai titik tolak untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memperluas jejaring kerjasama. Karena pada akhirnya, keberhasilan Politeknik Aceh bukan hanya diukur dari siapa yang memimpin, tetapi sejauh mana kita bersama-sama mewujudkan visi yang telah dicanangkan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






