Dengarkan Artikel
Oleh: Muhammad Syawal Djamil
Tahun 2025 menandai titik balik penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia. Setelah puluhan tahun siswa akrab dengan Ujian Nasional (UN), kini tongkat estafet berpindah ke Tes Kemampuan Akademik (TKA). Ujian ini akan mulai dijalankan pada November 2025 bagi siswa SMA dan SMK kelas 12, lalu berlanjut ke tingkat SD dan SMP pada 2026. Kehadiran TKA bukan sekadar mengganti nama ujian lama, melainkan mengubah cara kita memandang evaluasi: dari sekadar lulus atau tidak, menjadi sarana belajar untuk memahami diri dan memperbaiki mutu pendidikan.
Berbeda dengan UN yang cenderung menekankan hafalan, TKA dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS), literasi, dan pemecahan masalah. Langkah ini sejalan dengan tuntutan abad ke-21, di mana keterampilan kritis, adaptif, dan kolaboratif jauh lebih penting daripada sekadar mengingat fakta.
Namun, perubahan ini bukan sekadar ganti nama. TKA membawa misi untuk menilai capaian akademik siswa secara adil, merata, dan berkualitas, dengan tetap peka terhadap perbedaan latar belakang sosial, ekonomi, dan geografis. Tantangannya jelas: soal harus bebas dari bias, pelaksanaan transparan, dan hasilnya digunakan untuk memperbaiki pembelajaran, bukan sekadar memberi peringkat.
📚 Artikel Terkait
Meski begitu, ada catatan penting: TKA tidak otomatis memperbaiki kualitas pendidikan. Tanpa peningkatan kompetensi guru, pemerataan fasilitas, serta pembiasaan belajar berbasis pemahaman sejak dini, TKA berisiko menjadi “kemasan baru dengan masalah lama.” Karena itu, strategi pendampingan, pembiasaan soal HOTS, serta dukungan psikologis bagi siswa menjadi kunci.
Lebih jauh, TKA seharusnya dipahami bukan sebagai vonis, melainkan kompas pembelajaran. Hasil tes adalah peta untuk melihat posisi siswa, kelemahan yang perlu diperbaiki, dan potensi yang bisa dikembangkan. Inilah semangat evaluasi formatif: penilaian yang membantu siswa dan guru bertumbuh bersama, bukan sekadar menilai angka akhir.
UNESCO pernah menegaskan empat pilar pendidikan: learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be. TKA harus mendukung keempat pilar ini, agar penilaian tidak berhenti pada angka, melainkan benar-benar membentuk manusia yang literat, kritis, berkarakter, dan siap hidup dalam masyarakat yang beragam.
Dengan begitu, TKA 2025 bukan hanya soal ujian baru, melainkan peluang untuk membangun pendidikan yang memerdekakan—yang menempatkan manusia di atas skor, dan pembelajaran di atas peringkat.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






