• Latest
Menikmati Film Jumbo Serasa Mengunyah Ayam Goreng - 1000497232_11zon 1 1 | #Film Anak | Potret Online

Menikmati Film Jumbo Serasa Mengunyah Ayam Goreng

April 12, 2025
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0

Membaca Konsep Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Membangun Budaya Literasi  di Aceh

April 19, 2026
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
Senin, April 20, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Menikmati Film Jumbo Serasa Mengunyah Ayam Goreng

Redaksi by Redaksi
April 12, 2025
in #Film Anak, Filem Anak
Reading Time: 4 mins read
0
Menikmati Film Jumbo Serasa Mengunyah Ayam Goreng - 1000497232_11zon 1 1 | #Film Anak | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Amelia Fitriani


Jika ingin menjadi pencerita yang baik, maka harus bisa menjadi pendengar yang baik. Pesan itu aku tangkap secara mendalam setelah nonton film animasi terbaru buatan anak negeri berjudul “Jumbo” di sebuah bioskop di Kota Bogor pada Jumat sore yang diguyur hujan,12 April 2025.

Aku membawa serta dua anak laki-lakiku, yang berusia 9 dan 6 tahun, serta satu keponakan laki-lakiku yang berusia 6 tahun dan juga eyangnya anak-anak yang berusia 69 tahun. Hal yang menyenangkan adalah, film ini bisa dinikmati dan dicerna oleh segala usia. Apalagi, saat pesan tiket rupanya hampir 90 persen kursi bioskop di film “Jumbo” itu terisi penuh. Jadilah kami tidak dapat best seats. Tapi tidak juga mengurangi kenikmatan menonton film itu.

Hal yang membuat aku tertarik nonton film “Jumbo”, selain karena sedang viral di media sosial, utamanya adalah karena ini adalah film animasi karya dalam negeri, aku senang dan ikut bangga akan hal ini. Dan karena aku suka nonton stand up comedy, aku tahu bahwa “kepala” di balik film ini adalah comedian ternama Ryan Adriandhy. Ini semakin membuatku penasaran: isi kepala komedian yang juga animator di cerita anak-anak akan seperti apa bentuknya.

Film ini menceritakan soal seorang anak laki-laki yatim piatu bernama Don yang sering diejek “Jumbo” karena memiliki badan yang besar dan dianggap lambat saat bermain ketangkasan, seperti kasti dan bola. Dia kemudian ingin dianggap oleh teman-temannya, sehingga berupaya menampilkan pentas yang keren di festival. Pentas itu sendiri dibuat dari kisah buku dongeng peninggalan kedua orangtua Don yang penuh imajinasi.

Kupikir film ini hanya soal upaya Don dan temah-teman circle kecilnya untuk tampil keren di pentas, ternyata tidak. Muncul tokoh hantu bernama Meri yang membawa masalah lain serta terkait dengan kepala desa di tempat mereka tinggal. Rangkaian masalah itu pun kemudian berupaya diselesaikan doleh Don dan teman-temannya hingga di akhir cerita, semua masalah itu terlihat keterhubungannya.

Menariknya, meski memasukkan karakter hantu dan juga rangkaian masalah tadi, Don dan teman-temannya tetap tidak lepas dari karakter mereka sebagai anak-anak yang polos, lugu, spontan dan kadang ceroboh. Hal inilah yang membuat film ini lucu. Seperti saat Don berhasil merebut radio milik kepala desa, Don sadar bahwa dia tidak tau cara menggunakannya, kepolosan dialognya membuat aku, anak-anakku, keponakanku dan eyangnya anak-anak tiba-tiba tertawa, padahal adegan di film sebelumnya sedang serius.

Hal yang juga menarik adalah ketika dimasukkan sedikit unsur horor, seperti saat misi Don cs merebut radio, mereka membuat jebakkan berupa bayangan serupa hantu. Menurutku, adegan ini dibuat dengan porsi yang sangat pas untuk anak-anak. Karena aku memperhatikan reaksi anak-anak dan keponakanku, mereka kaget dan sempat ikut tegang saat adegan ini.

Dari semua karakter di film ini, aku paling tertarik dengan karakter Atta. Karena aku sering menemukan karakter seperti Atta di kehidupan. Dia seorang yang di awal cerita digambarkan sering merundung dan mengusili Don. Tapi seiring cerita berkembang, aku sebagai penonton diajak untuk melihat sisi lain, bahwa Atta sebenarnya adalah anak yang baik namun kesepian dan memiliki luka serta berada di situasi kehidupan yang kurang kondusif. Aku salut banget, karena film ini tidak hitam-putih, tapi memberikan ruang bagi setiap karakter untuk dimengerti sebagai seorang anak, sebagai seorang manusia.

Pun pada karakter Don, tidak diglorifikasi sebagai tokoh utama yang “wah”. Tapi ada sisi lain Don yang kurang baik sebagai seorang anak. Seperti digambarkan pada adegan saat Don tampak ambisius pada pentasnya hingga melalaikan janjinya pada Meri.

Film ini berkesan banget buat aku karena “Jumbo “berhasil membalut isu-isu serius seperti relasi orang tua-anak, tekanan di sekolah, upaya berteman serta ambisi dan rasa takut gagal dengan cara yang ringan, hangat, dan tetap menghibur. Anak-anak dan keponakanku ikut tertawa di beberapa bagian yang lucu dan termenung di adegan-adegan yang menyentuh.

Pesan kuat dari film ini aku tangkap dengan kuat di akhir cerita, terutama mengenai bagaimana keinginan untuk didengar dan kemampuan mendengar adalah sesuatu yang universal, dirasakan oleh anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa.

Setelah film berakhir, aku bertanya pada anak-anakku, ponakanku dan eyangnya anak-anak soal apa yang menurut mereka menarik dari film itu.

Jawaban anakku yang 9 tahun: Filmnya bagus, karena ada orang mati yang bisa keliatan dan bantuin cari orangtuanya.

Jawaban anakku yang 6 tahun: Ada kambingnya lucu.

Jawaban ponakanku: Keretanya bisa terbang.

Jawaban eyangnya anak-anak: Pelajarannya, jadi orang itu harus mendengarkan temennya dan jangan maunya sendiri.

Untuk aku sendiri, film ini seperti ayam goreng yang hangat. Bisa dinikmati dengan asyik dan dikunyah dengan renyah oleh anak-anak, orang dewasa maupun orang tua. Rasa yang dihadirkan universal, sehingga bisa dinikmati lintas generasi. Pesan yang dibawa sederhana tapi mendalam. ***

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Menikmati Film Jumbo Serasa Mengunyah Ayam Goreng - 1000496500_11zon | #Film Anak | Potret Online

Negara Defisit, Rakyat Dijepit

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com