Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Pagi tadi, langit biru seakan menghamparkan karpet merah untuk menyambut HUT RI ke-80. Burung berkicau, bendera berkibar, dan semesta berbisik, “Bangunlah, rayakanlah kemerdekaanmu.” Tapi justru saat saya ingin menghidupkan mobil, kenyataan menampar lebih keras dari slapstick Srimulat. Ban depan kiri bocor. Di situlah absurditas hidup meletup. Albert Camus pernah berkata hidup itu omong kosong yang harus diterima dengan senyum getir. Maka saya pun tersenyum getir pada ban kempes, seakan ia berkata, “Merdeka itu hanyalah kata, aku bocor, dan engkau tak bisa ke mana-mana.”
Tentu, dalam absurditas selalu ada pilihan, marah atau sabar. Saya memilih sabar. Apakah bengkel buka di Hari Kemerdekaan, harus dicek. Saya cek dulu pakai motor, lima menit ke sana. Ternyata buka. Inilah absurditas tahap kedua, kita sering takut pada hal yang ternyata tidak perlu ditakuti. Betapa banyak orang cemas soal masa depan, padahal kadang yang ditakutkan hanya “bengkel tutup.”
Lalu masuklah tokoh eksistensial saya. Seorang montir asal Sibolga, marga Manulang, 28 tahun, bujangan, gajinya sejuta sebulan. Ia membuka ban sambil membuka luka batinnya. Pernah bekerja di pengeboran minyak di Kaltim, kontrak habis, karier ikut habis. Kini bekerja di bengkel tambal ban Pontianak, tapi jiwanya kempes lebih parah dari ban saya. “Kalau ada kebun sawit, bolehlah om saya kerja di situ. Udah bosan om kerja di bengkel,” katanya. Saya terdiam. Seperti Meursault dalam L’Étranger, ia jujur pada absurditas hidupnya, bosan, lelah, tapi tetap bergerak.
Ban saya selesai dibongkar. Lalu saya bawa ke bengkel, dicek dengan mesin modern. Hasilnya? Sebuah paku kecil, sepele, menusuk karet, membuat mobil tak berdaya. Saya termenung, bukankah hidup manusia sering runtuh hanya karena hal kecil? Cinta kandas karena salah chat, karier ambruk karena salah tanda tangan, negara gonjang-ganjing karena selembar kertas keputusan. Hari itu, kemerdekaan saya runtuh hanya karena paku.
Biaya tambal ban, 30 ribu. Murah, katanya. Tapi yang lebih berharga adalah filsafat yang ditanamkan paku itu. Bahwa absurditas hidup selalu hadir dari hal remeh. Saya lalu selipkan 15 ribu kepada si lae Manulang, uang rokok. Bukan sekadar rokok, tapi pengakuan bahwa ia manusia yang layak dihargai. Albert Camus mungkin akan tersenyum, di tengah absurditas, kita tetap bisa memberi makna, walau sekadar sebatang rokok.
📚 Artikel Terkait
Akhirnya ban selesai saya pasang sendiri. Keringat menetes, dada membusung, bukan karena nasionalisme Garuda di dada, tapi karena eksistensi manusia yang berjuang melawan paku. Hari itu, kemerdekaan saya tidak berupa upacara bendera, tapi berupa kunci ring, dongkrak, dan ban cadangan.
Inilah drama absurd saya di Hari Kemerdekaan RI ke-80. Sebuah tragedi sekaligus komedi, di mana paku kecil mampu menunda perjalanan, montir Sibolga bercerita tentang hidupnya, dan saya belajar bahwa merdeka bukan sekadar lepas dari penjajah, tapi juga berani menertawakan ban bocor.
Maka saya berdiri tegak, menatap bendera, sambil berbisik, “Merdeka! Bahkan ketika banmu bocor, engkau tetap bisa menambalnya.”
Hidup ini kadang memang tak ubahnya ban bocor, rapuh, mudah kempes, dan sering kali penyebabnya sepele. Tetapi justru dari hal-hal kecil itulah kita belajar tentang kesabaran, ketabahan, dan seni menambal luka. Ban yang bocor bisa ditambal, hati yang retak bisa dihibur, dan jalan yang terhenti bisa dilanjutkan kembali. Maka jangan pernah meremehkan paku-paku kecil dalam hidup, sebab dari merekalah kita diuji, apakah menyerah, atau tetap bergerak.
Dari lae Manulang kita belajar, bahwa di balik profesi yang terlihat sederhana, tersimpan kisah manusia yang berjuang melawan absurditas hidup. Hidupnya mungkin kempes karena gaji kecil, tapi semangatnya masih berputar seperti roda. Kemerdekaan sejati bukanlah terbebas dari paku dan bocor, melainkan keberanian untuk tetap berdiri, tetap bekerja, dan tetap memberi makna.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






