Dengarkan Artikel
Oleh Rizky Ardilla
Alumna Politeknik Kutaraja, Banda Aceh
Bukan sekadar Bebas, Tapi Sadar.
Setiap kali Agustus datang, kita kembali diingatkan pada satu kata yang menggema dari pelosok desa, hingga kota besar yaitu merdeka. Kata yang dulu diteriakkan di tengah medan perang, kini sering kita dengar dalam upacara bendera, lomba 17-an, atau unggahan Instagram bertema nasionalisme.
Tapi, di balik gegap gempita itu, ada luka yang menganga. Sebuah pertanyaan sunyi yang menggantung di langit-langit nurani: Apakah kita benar-benar telah merdeka?
Jawabannya, mungkin akan membuat dada kita sesak.
Sila kelima telah gugur… Bukan karena penjajah, tapi Karena Uang.
Kita menyebut Pancasila sebagai dasar negara, tetapi hari ini, satu demi satu maknanya terkoyak oleh kenyataan yang menyakitkan. Terutama sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Apa arti keadilan, jika hukum bisa dibeli? Apa arti keadilan, jika keputusan bisa berubah hanya karena segepok uang berpindah tangan?
Kita menyaksikan bagaimana orang kecil dijerat hukum dengan cepat dan tanpa ampun, sementara yang berdasi bisa melenggang bebas meski korupsinya menggunung. Di pengadilan, suara nurani dikalahkan oleh bisikan amplop. Di ruang pemerintahan, kebenaran dikalahkan oleh kepentingan pribadi dan partai.
Sila kelima itu seperti pusaka yang hilang dari singgasana bangsa. Ia gugur bukan oleh peluru musuh, tapi oleh pengkhianatan anak negeri sendiri.
Ketika Keadilan Tidak Lagi Milik Semua
Coba lihat ke sekitar. Berapa banyak petani yang kehilangan tanahnya karena proyek raksasa? Berapa banyak masyarakat adat yang tersingkir oleh izin tambang? Berapa banyak ibu yang menangis karena anaknya ditangkap hanya karena mencuri makanan, sementara para koruptor yang mencuri miliaran justru disambut dengan senyum di ruang tahanan ber-AC?
Inikah yang disebut merdeka?
📚 Artikel Terkait
Jika kemerdekaan hanya bisa dirasakan oleh segelintir orang yang punya kuasa dan koneksi, maka itu bukan kemerdekaan… itu kemewahan yang dipelihara oleh ketidakadilan.
Merdeka Harusnya Membebaskan, Bukan Menyisakan Luka
Merdeka bukan hanya soal tak lagi dijajah oleh bangsa asing. Merdeka adalah ketika setiap anak bangsa bisa berdiri dengan kepala tegak, tanpa rasa takut dan tanpa rasa tertindas. Merdeka adalah saat suara rakyat miskin didengar dengan sama seriusnya seperti suara pemilik modal.
Tapi hari ini, banyak dari kita yang hidup dalam diam dan takut. Takut bersuara karena dianggap pembangkang. Takut jujur karena kejujuran dianggap ancaman. Ketakutan seperti ini bukan bagian dari negeri yang merdeka—ini adalah sisa-sisa penjajahan dalam bentuk yang lebih kejam: penjajahan oleh sesama.
Hukum yang Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah
Kita hidup dalam sistem hukum yang timpang. Saat uang menjadi penentu keadilan, maka yang miskin akan selalu kalah. Bukan karena mereka salah, tapi karena mereka tidak mampu “membayar kebenaran.”
Berapa banyak kasus di mana korban justru dihukum? Berapa banyak pelaku yang kabur dari jerat karena koneksi atau sogokan? Lembaga hukum yang seharusnya jadi benteng terakhir rakyat, kini malah jadi panggung transaksi.
Jika keadilan bisa dibeli, maka untuk apa kita merayakan kemerdekaan? Bukankah perjuangan para pahlawan adalah untuk menghapus penindasan? Tapi kini, bentuk penindasan itu berganti wajah—lebih halus, lebih sistematis, dan lebih menyakitkan.
Merdeka Itu Harusnya Adil
Merdeka adalah saat semua orang bisa mendapatkan hak yang sama, bukan karena siapa dia, tapi karena dia manusia dan warga negara. Merdeka adalah saat tidak ada satu pun anak bangsa yang merasa kecil di hadapan hukum, sistem, atau negara.
Jika hari ini masih banyak yang menangis dalam diam karena merasa tak punya daya, maka tugas kita belum selesai. Kemerdekaan bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk diperjuangkan kembali—dengan cara kita masing-masing.
Kita Tidak Butuh Seremonial, Kita Butuh Kejujuran
Cukuplah kita terbuai oleh upacara tahunan. Merdeka tidak hidup dalam pidato, tapi dalam tindakan nyata. Dalam keberanian untuk bersuara. Dalam ketegasan untuk melawan ketidakadilan. Dalam ketulusan untuk membela yang lemah, walau itu berarti berhadapan dengan yang kuat.
Kita tidak butuh perayaan yang mewah, jika itu hanya menutupi luka bangsa. Kita butuh pemimpin yang jujur, penegak hukum yang adil, dan rakyat yang sadar akan kekuatan suaranya.
Mari Berduka, Tapi Jangan Diam.
Hari ini, mari kita rayakan kemerdekaan dengan cara yang berbeda: dengan membuka mata dan hati. Mengakui bahwa kita belum sepenuhnya merdeka, dan bahwa perjuangan belum selesai. Mari kita menangisi gugurnya keadilan, bukan untuk meratapi, tapi sebagai awal dari keberanian baru. Karena merdeka adalah merdeka. Bukan sekadar bebas, tapi juga adil.
Dan selama keadilan masih kalah oleh uang, selama suara rakyat masih dibungkam oleh kepentingan, maka kemerdekaan yang kita rayakan hanyalah bayangan dari mimpi yang belum jadi nyata.
#bulanmerdeka #potretonline #lombamenulisagustus
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






