POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Merdeka Tanpa Keadilan adalah Luka Yang Tak Sembuh 

RedaksiOleh Redaksi
August 15, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh  Rizky Ardilla

Alumna Politeknik Kutaraja, Banda Aceh

Bukan sekadar Bebas, Tapi Sadar.

Setiap kali Agustus datang, kita kembali diingatkan pada satu kata yang menggema dari pelosok desa, hingga kota besar yaitu merdeka. Kata yang dulu diteriakkan di tengah medan perang, kini sering kita dengar dalam upacara bendera, lomba 17-an, atau unggahan Instagram bertema nasionalisme.

Tapi, di balik gegap gempita itu, ada luka yang menganga. Sebuah pertanyaan sunyi yang menggantung di langit-langit nurani: Apakah kita benar-benar telah merdeka?

Jawabannya, mungkin akan membuat dada kita sesak.

Sila kelima telah gugur… Bukan karena penjajah, tapi Karena Uang.

Kita menyebut Pancasila sebagai dasar negara, tetapi hari ini, satu demi satu maknanya terkoyak oleh kenyataan yang menyakitkan. Terutama sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Apa arti keadilan, jika hukum bisa dibeli? Apa arti keadilan, jika keputusan bisa berubah hanya karena segepok uang berpindah tangan?

Kita menyaksikan bagaimana orang kecil dijerat hukum dengan cepat dan tanpa ampun, sementara yang berdasi bisa melenggang bebas meski korupsinya menggunung. Di pengadilan, suara nurani dikalahkan oleh bisikan amplop. Di ruang pemerintahan, kebenaran dikalahkan oleh kepentingan pribadi dan partai.

Sila kelima itu seperti pusaka yang hilang dari singgasana bangsa. Ia gugur bukan oleh peluru musuh, tapi oleh pengkhianatan anak negeri sendiri.

Ketika Keadilan Tidak Lagi Milik Semua

Coba lihat ke sekitar. Berapa banyak petani yang kehilangan tanahnya karena proyek raksasa? Berapa banyak masyarakat adat yang tersingkir oleh izin tambang? Berapa banyak ibu yang menangis karena anaknya ditangkap hanya karena mencuri makanan, sementara para koruptor yang mencuri miliaran justru disambut dengan senyum di ruang tahanan ber-AC?

Inikah yang disebut merdeka?

📚 Artikel Terkait

Forkopinda Bersama Kacabdindik Aceh Selatan Ikut Penanaman Pohon

Memaknai Ramadan yang Ditunggu-Tunggu

Aceh dan Luka Panjang Hak Asasi Manusia

Meningkatkan Minat Baca Siswa di SMPN 1 Seunagan Menggunakan E Mading

Jika kemerdekaan hanya bisa dirasakan oleh segelintir orang yang punya kuasa dan koneksi, maka itu bukan kemerdekaan… itu kemewahan yang dipelihara oleh ketidakadilan.

Merdeka Harusnya Membebaskan, Bukan Menyisakan Luka

Merdeka bukan hanya soal tak lagi dijajah oleh bangsa asing. Merdeka adalah ketika setiap anak bangsa bisa berdiri dengan kepala tegak, tanpa rasa takut dan tanpa rasa tertindas. Merdeka adalah saat suara rakyat miskin didengar dengan sama seriusnya seperti suara pemilik modal.

Tapi hari ini, banyak dari kita yang hidup dalam diam dan takut. Takut bersuara karena dianggap pembangkang. Takut jujur karena kejujuran dianggap ancaman. Ketakutan seperti ini bukan bagian dari negeri yang merdeka—ini adalah sisa-sisa penjajahan dalam bentuk yang lebih kejam: penjajahan oleh sesama.

Hukum yang Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah

Kita hidup dalam sistem hukum yang timpang. Saat uang menjadi penentu keadilan, maka yang miskin akan selalu kalah. Bukan karena mereka salah, tapi karena mereka tidak mampu “membayar kebenaran.”

Berapa banyak kasus di mana korban justru dihukum? Berapa banyak pelaku yang kabur dari jerat karena koneksi atau sogokan? Lembaga hukum yang seharusnya jadi benteng terakhir rakyat, kini malah jadi panggung transaksi.

Jika keadilan bisa dibeli, maka untuk apa kita merayakan kemerdekaan? Bukankah perjuangan para pahlawan adalah untuk menghapus penindasan? Tapi kini, bentuk penindasan itu berganti wajah—lebih halus, lebih sistematis, dan lebih menyakitkan.

Merdeka Itu Harusnya Adil

Merdeka adalah saat semua orang bisa mendapatkan hak yang sama, bukan karena siapa dia, tapi karena dia manusia dan warga negara. Merdeka adalah saat tidak ada satu pun anak bangsa yang merasa kecil di hadapan hukum, sistem, atau negara.

Jika hari ini masih banyak yang menangis dalam diam karena merasa tak punya daya, maka tugas kita belum selesai. Kemerdekaan bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk diperjuangkan kembali—dengan cara kita masing-masing.

Kita Tidak Butuh Seremonial, Kita Butuh Kejujuran

Cukuplah kita terbuai oleh upacara tahunan. Merdeka tidak hidup dalam pidato, tapi dalam tindakan nyata. Dalam keberanian untuk bersuara. Dalam ketegasan untuk melawan ketidakadilan. Dalam ketulusan untuk membela yang lemah, walau itu berarti berhadapan dengan yang kuat.

Kita tidak butuh perayaan yang mewah, jika itu hanya menutupi luka bangsa. Kita butuh pemimpin yang jujur, penegak hukum yang adil, dan rakyat yang sadar akan kekuatan suaranya.

Mari Berduka, Tapi Jangan Diam.

Hari ini, mari kita rayakan kemerdekaan dengan cara yang berbeda: dengan membuka mata dan hati. Mengakui bahwa kita belum sepenuhnya merdeka, dan bahwa perjuangan belum selesai. Mari kita menangisi gugurnya keadilan, bukan untuk meratapi, tapi sebagai awal dari keberanian baru. Karena merdeka adalah merdeka. Bukan sekadar bebas, tapi juga adil.

Dan selama keadilan masih kalah oleh uang, selama suara rakyat masih dibungkam oleh kepentingan, maka kemerdekaan yang kita rayakan hanyalah bayangan dari mimpi yang belum jadi nyata.

#bulanmerdeka #potretonline #lombamenulisagustus

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Gelombang Riba di Era Finansialisasi Global

Gelombang Riba di Era Finansialisasi Global

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00