Dengarkan Artikel
Oleh : Akaha Taufan Aminudin
Di tengah riuh dunia modern, upaya mengenang maestro sastra anak Indonesia, Martinus Dwianto Setyawan, lewat agenda baca puisi dan orasi sastra menjadi oase kebermaknaan.
Dipandu oleh sosok fenomenal Romo Sindhunata, acara yang digagas HP3N Kreatif Batu dan SATUPENA Jawa Timur ini bukan hanya pertemuan penulis, melainkan refleksi mendalam tentang esensi sastra anak sebagai cermin budaya dan harapan bangsa. Mari bersama menelisik proses dan makna lewat cerita dari Romo Sindhunata dan para sastrawan generasi sekarang.
Dalam dunia yang serba cepat dan seringkali dangkal, romantisme sastra kadang terlupakan. Namun, ketika Himpunan Penulis Pengarang & Penyair Nusantara (HP3N) Kreatif Batu berkolaborasi dengan SATUPENA Jawa Timur menggelar agenda membaca puisi dan orasi sastra mengenang Martinus Dwianto Setyawan—sosok legenda yang menancapkan akar kuat di ranah sastra anak—seolah memberi napas baru bagi kancah dunia tulis Indonesia.
Siapa yang tidak kenal dengan sosok Romo Sindhunata? Bukan hanya imam Katolik dan filsuf, beliau adalah jembatan hidup antara kearifan budaya Jawa dan arus pemikiran global. Sejak kecil di lereng Gunung Panderman, Romo Sindhunata telah menapak jejak pemikiran dan seni dengan jalan yang unik: mengurai misteri kehidupan lewat karya-karya yang menggabungkan filsafat, humor, dan kemanusiaan yang mendalam.
Ungkapan Romo Sindhunata yang penuh syukur — “Matur suwun, Mas Akaha Taufan Aminudin. Sudah banyak penulis yang merampungkan tulisannya dan memenuhi syarat kurasi ya. Alhamdulillah. Moga lancar dan bisa segera direalisir rencananya Baca Puisi dan Orasi Sastra. Suwun.” — bukan sekadar basa-basi. Kalimat singkat itu menyimpan optimisme dan ketulusan perjuangan di balik layar.
Di mana setiap kata, setiap puisi, telah dikurasi dengan cermat agar substansi sastra tetap terjaga kualitasnya. Ini bukan acara sembarangan, melainkan sebuah ruang sakral bagi jiwa kreatif Indonesia.
Zoom meeting yang menjadi wadah baca puisi dan orasi bukan hanya sekadar forum maya; ia merupakan media penghubung antar generasi, saling mengisi dan memperkaya.
Di sana, suara Romo Sindhunata mewakili keluarga besar Martinus Dwianto Setyawan, memperkuat makna kebersamaan dan penghormatan kepada maestro yang telah membuka cakrawala sastra anak Indonesia. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa warisan sastra bukan hanya teks di atas kertas, tetapi energi hidup yang berdenyut dalam interaksi sosial dan budaya.
📚 Artikel Terkait
Romo Sindhunata sendiri adalah sosok luar biasa. Lahir di Batu, Jawa Timur, beliau menempuh pendidikan filsafat dan teologi hingga ke jenjang doktoral di Jerman. Karya-karya beliau seperti Anak Bajang Menggiring Angin dan Air Kata Kata telah menjadi klasik yang mendobrak batasan seni dan filsafat.
Dalam setiap kalimat yang beliau tulis, tersimpan keberanian menggugat dan sekaligus membina kedamaian batin. Tidak heran jika beliau juga dikenal karena kolom sepak bola di Harian Kompas — kombinasi unik antara seni, spiritualitas, dan kecintaan terhadap dunia olahraga.
Bersama organisasi sastra seperti HP3N dan SATUPENA Jawa Timur, Romo Sindhunata menghadirkan spirit bahwa seni bukan hanya untuk dinikmati, tapi dipikul sebagai tanggung jawab sosial dan kultural. Dengan kurasi ketat dan kelengkapan karya yang telah dihasilkan, harapan besar tersurat agar acara baca puisi dan orasi ini berjalan lancar dan menjadi inspirasi bagi para penulis muda maupun pembaca luas.
Kegiatan semacam ini mengajarkan kita, bahwa puisi dan sastra anak dapat berfungsi sebagai alat menanamkan nilai moral, estetika, dan kebangsaan.
Dalam era di mana gadget merajai, puisi bisa menjadi “gua” perenungan dan narasi jiwai bagi anak-anak yang tumbuh di tengah arus informasi. Sastrawan seperti Martinus dan Romo Sindhunata hadir bukan untuk sekadar menghibur, tapi menyalakan obor pemikiran kritis dan kasih sayang dalam jiwa generasi.
Bagi kita yang haus akan refleksi dan pengalaman batin, agenda ini adalah panggilan. Sebuah undangan untuk kembali menyelami kata-kata, bukan sekadar sebagai tulisan, tapi sebagai napas kehidupan.
Dengan membaca, memahami, dan mengapresiasi karya-karya sastra anak, kita sesungguhnya sedang merawat harapan sekaligus pondasi masa depan bangsa.
Jadi, mari jadikan momentum mengenang Martinus Dwianto Setyawan bersama Romo Sindhunata ini sebagai ajang bukan hanya untuk mengingat, tapi juga untuk menyambung tali kasih sastra dan budaya. Karena sesungguhnya, melantunkan puisi dan orasi adalah cara kita merangkai jembatan waktu, dari masa lalu yang penuh hikmah menuju masa depan yang menanti sentuhan tangan-tangan kreatif baru.
Artikel ini disusun berdasarkan sumber terpercaya mengenai Romo Sindhunata dan agenda literasi HP3N Kreatif Batu bersama SATUPENA Jawa Timur. Diharapkan dapat menginspirasi perhatian dan partisipasi lebih luas untuk mengangkat sastra anak Indonesia ke panggung nasional dan bahkan internasional.
Kalau Anda menyukai isi ini, silakan bagikan untuk memperkenalkan kembali keindahan sastra anak dan filsafat dalam ranah kehidupan sehari-hari. Karena dalam setiap bait, ada kekuatan mengubah dunia—atau setidaknya, diri kita.
Rabu Pahing 13 Agustus 2025
Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB
Drs. Akaha Taufan Aminudin
Koordinator Himpunan Penulis Pengarang & Penyair Nusantara (HP3N) Kreatif Batu
SATUPENA JAWA TIMUR
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






