• Latest

Rumus yang Tak Pernah Selesai

Agustus 12, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Rumus yang Tak Pernah Selesai

Redaksiby Redaksi
Agustus 12, 2025
Reading Time: 2 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Hoesna


Hidup, bagiku, selalu seperti buku matematika yang tebalnya tak habis-habis. Sejak kecil, aku terbiasa menuliskan angka, mencari pola, menemukan jawaban. Matematika membuatku percaya bahwa dunia ini tertib; dua tambah dua selalu empat, garis sejajar tak akan pernah bertemu, dan setiap soal punya satu jawaban pasti.


Tapi itu sebelum aku mengenalmu.
Pertemuan kita seperti coretan tinta di tepi buku pelajaran—tak masuk rumus, tapi entah bagaimana justru membuat halaman itu hidup. Di hadapanmu, semua teorema yang kukenal runtuh satu per satu.


“Manusia bukanlah matematika yang bisa dijelaskan secara logika,” katamu suatu sore, ketika hujan menitik di luar jendela. Kata-katamu membuatku terdiam. Aku terbiasa menyelesaikan masalah dengan kepala, tapi sejak bersamamu, aku dipaksa belajar menggunakannya dengan hati.


Kamu adalah soal yang kutemui di lembar terakhir ujian—rumit, penuh tanda tanya, tapi justru membuatku ingin mencoba berulang kali. Aku menambahkan perhatian, mengurangi jarak, mengalikan doa, bahkan mencoba membagi bebanmu. Namun hasilnya selalu sama: kamu tetap satu, utuh, tak terbagi.


“Esensi matematika terletak pada kebebasannya,” ucapmu suatu malam, ketika kita membicarakan cita-cita. Saat itu aku sadar, bahkan matematika yang paling ketat pun memberi ruang untuk kebebasan berpikir. Begitu pula dirimu—tak bisa dimiliki sepenuhnya, tapi bisa dinikmati kehadirannya.


Ada kalanya aku mencoba menjelaskan rasaku dengan logika, tapi selalu gagal. “Cinta itu soal hati, bukan soal fisika ataupun soal matematika,” katamu, sambil menatap bintang. Dan aku percaya. Cinta bukan persamaan linear yang bisa diuraikan langkah demi langkah. Ia lebih mirip integral tak tentu: sulit dipecahkan, penuh kemungkinan, dan tak semua jawabannya bisa dibuktikan.


Kamu seperti rumus yang tak bisa dihafal—bukan karena sulit, tapi karena harus dipahami dengan rasa. Dan aku, yang dulu terbiasa menghafal pola, kini belajar menulis tanpa kalkulator, menghitung dengan intuisi.
Suatu kali kamu bertanya, “Kalau aku hilang, apakah kamu akan tetap mencariku?” Aku ingin menjawab ya tanpa ragu. Tapi aku ingat satu hal: hati manusia tidak seperti soal matematika yang punya satu jawaban tepat.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026

Cinta bisa bertahan, tapi bisa juga lenyap dihapus waktu.
Hari itu akhirnya datang. Kita duduk di bangku taman, saling diam. Angin sore membawa aroma perpisahan yang tak perlu diucapkan. Kamu berkata, “Cinta bukanlah ilmu matematika. Tidak perlu penjelasan rasional dan rumus untuk menjabarkannya.” Lalu kamu pergi, meninggalkan aku dengan buku catatan yang penuh coretan tak selesai.


Sejak itu, aku memandang hidup bukan lagi sebagai buku matematika, tapi sebagai kumpulan teka-teki tanpa kunci jawaban. Kamu adalah salah satunya—rumit, indah, dan sepenuhnya bebas.


Dan mungkin, di situlah letak segalanya: beberapa soal memang tidak diciptakan untuk dijawab. Mereka hanya ada untuk mengajarkan kita betapa indahnya proses memahami, meski tak pernah benar-benar mengerti. Kamu adalah rumus yang tak pernah selesai kupecahkan. Dan aku… adalah murid yang tak pernah lelah mencoba…

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Anak Tuli dan Buta yang Berhasil Menjadi Penulis Terkenal

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com