Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman
“Barang siapa hari ini sama seperti kemarin, maka ia merugi. Barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin, maka ia celaka. Dan barang siapa hari ini lebih baik dari kemarin, maka ia beruntung.”
– (Hadis Nabi Muhammad SAW)
Pendahuluan: Antara Doay dan Data
Kita hidup di zaman yang membingungkan. Di satu sisi, banyak umat Islam menyerukan kembalinya kejayaan peradaban Islam. Di sisi lain, kita masih berselisih soal bentuk jubah, gaya jenggot, atau metode hisab. Dunia di luar sana sudah bicara tentang Artificial Intelligence, metaverse, rekayasa genetika, dan transhumanisme, tapi kita masih terjebak dalam pertanyaan: “Bolehkah inovasi?”
Kita tidak kekurangan doa, tapi kita tertinggal dalam data. Kita fasih dalam kisah kejayaan masa lalu, tetapi gagap membangun masa depan. Di sinilah letak permasalahannya: kita mencintai tradisi, namun enggan berinovasi.
Saat Tradisi dan Inovasi Pernah Bersatu
Dulu, Islam adalah kekuatan revolusioner. Pada abad ke-8 hingga ke-13, dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan global. Kota seperti Baghdad, Kairo, dan Andalusia bukan hanya simbol religius, tapi juga pusat astronomi, kedokteran, matematika, filsafat, dan teknologi.
Baitul Hikmah di Baghdad bukan hanya perpustakaan, tapi pusat penerjemahan dan diskusi terbuka antara budaya. Ibnu Sina menulis kitab kedokteran yang dipakai di universitas Eropa selama ratusan tahun. Al-Khawarizmi menciptakan dasar ilmu algoritma. Semuanya lahir karena semangat ijtihad, keterbukaan, dan keberanian merangkul pengetahuan dari berbagai peradaban.
Tradisi saat itu tidak menghambat inovasi—ia justru melahirkan inovasi. Ada keharmonisan antara iman dan akal, wahyu dan eksperimen, ibadah dan riset.
Kemunduran: Ketika Pintu Ijtihad Mulai Tertutup
Namun sejarah tidak selalu naik. Di masa-masa berikutnya, peradaban Islam mengalami penurunan tajam. Bukan karena musuh dari luar semata, tapi karena penolakan terhadap pembaruan dari dalam. Intelektual dicurigai, filsafat dimusuhi, inovasi dianggap ancaman.
Pintu ijtihad dikunci dengan dalih menjaga kemurnian agama. Taklid menggantikan eksplorasi. Ilmu dibatasi hanya pada yang “syar’i”. Akibatnya, kita berhenti mencipta. Kita mulai menyembah bentuk, bukan makna. Peradaban menjadi beku.
Dunia Bergerak Tanpa Kita
Sementara itu, Eropa yang dahulu belajar dari Islam mulai bangkit. Mereka menyerap warisan ilmu dari dunia Islam, lalu mengembangkannya tanpa beban dogma. Lahir Renaissance, lalu Revolusi Ilmiah, lalu Revolusi Industri. Dunia Barat kini memimpin dalam hampir semua bidang: teknologi, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan.
Ironisnya, mereka maju karena dulu mereka belajar dari kita. Dan kita tertinggal karena berhenti belajar.
Ijtihad Digital: Jalan Menuju Kebangkitan Baru
📚 Artikel Terkait
Kini saatnya untuk bangkit — bukan dengan nostalgia, tetapi dengan ijtihad digital: keberanian membaca zaman dan mencipta solusi.
Bayangkan jika:
Pesantren digital menggunakan AI dan machine learning untuk mengembangkan metode belajar Al-Qur’an yang personal dan adaptif.
Aplikasi keuangan syariah berbasis blockchain menjamin transparansi zakat, infak, dan wakaf.
Platform dakwah berbasis metaverse menghadirkan khutbah interaktif lintas negara dan budaya.
Universitas Islam membangun ekosistem riset untuk mengembangkan teknologi ramah lingkungan berbasis nilai-nilai Qurani.
Semua ini bukan khayalan. Ini adalah peradaban baru yang mungkin, jika kita berani menyalakan kembali semangat ijtihad — bukan sekadar hukum, tapi juga dalam teknologi, desain, ekonomi, dan sains.
Solusi: Menyatukan Nilai dan Sistem
Apa yang perlu dilakukan?
- Transformasi Pendidikan
Kurikulum pesantren dan madrasah perlu mengintegrasikan logika, sains, coding, dan kewirausahaan tanpa kehilangan ruh spiritual.
Kembangkan guru sebagai inovator, bukan penghafal silabus.
- Ekosistem Nilai-Inovasi
Dorong kolaborasi antara ulama, akademisi, startup, dan komunitas kreatif.
Bangun inkubator ide berbasis masjid, madrasah, dan komunitas lokal.
- Kepemimpinan Transformatif
Pemimpin umat harus menjadi teladan dalam literasi digital, kejujuran moral, dan pemikiran terbuka.
Politik umat jangan hanya identitas, tapi juga kualitas sistem.
- Spiritualitas Kontekstual
Bangun spiritualitas yang aktif, bukan pasif. Yang mendorong amal, bukan sekadar ritual.
Hadirkan dakwah yang membumi, menjawab keresahan manusia modern: alienasi, krisis identitas, makna hidup.
Penutup: Dari Tradisi ke Transformasi
Tradisi bukan untuk disembah. Tradisi adalah akar. Tapi akar tak berarti apa-apa tanpa cabang, daun, dan buah. Kita butuh tradisi yang menumbuhkan, bukan membelenggu. Inovasi yang berakar, bukan yang tercerabut.
Saatnya umat Islam berhenti menjadi penonton sejarah. Kita punya sumber daya spiritual dan intelektual yang luar biasa. Kita hanya perlu menyatukannya dalam dedikasi dan desain besar untuk masa depan.
Kita tidak harus memilih antara menjadi modern atau religius. Kita bisa menjadi keduanya sekaligus — asal berani merumuskan ulang misi peradaban kita.
“Tidak ada kebangkitan tanpa pencerahan. Dan tidak ada pencerahan tanpa keberanian membuka jendela ilmu dan menggerakkan langkah ijtihad.”
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





