• Latest
İbuku  yang Tangguh - 2025 08 08 20 18 38 | Cerita | Potret Online

İbuku  yang Tangguh

Agustus 8, 2025
fb4fd11e-159e-4ae3-acae-836dffc91dd8

Adab Bermunajat: Integrasi Kesucian Mental dan Fisik dalam Menghadap Sang Khalik

April 17, 2026

Agama yang Meninabobokan atau Menggerakkan? Dari Mimbar ke Realitas, Mencari Kembali Ruh Peradaban

April 16, 2026
Mahasiswa menunda tugas sambil bermain ponsel di depan laptop

Mengapa Kita Menunda Tugas Penting? Memahami Academic Self-Handicapping

April 16, 2026
3B16BCC9-5860-4D88-89D6-B676DAE2E109

Bertanya Soal Kartu Aceh Carong

April 16, 2026
Ilustrasi remaja menggunakan TikTok dengan ekspresi reflektif, menggambarkan pencarian informasi kesehatan mental di media sosial.

Ketika TikTok Menjadi “Psikolog”: Tren Self-Diagnosis Kesehatan Mental pada Gen Z

April 16, 2026
Ilustrasi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah dengan latar peta dan simbol energi global

Konflik Amerika Serikat–Iran 2026: Sejarah Panjang dan Kebuntuan Diplomasi

April 16, 2026
Ilustrasi kecemasan orang dewasa yang berkaitan dengan pengalaman masa kecil

Kecemasan Tanpa Sebab? Bisa Jadi Berasal dari Luka Masa Kecil

April 16, 2026
e8ea71e6-33f0-472e-8465-849eb085fb0a

Proses (yang) Kreatif

April 16, 2026
Jumat, April 17, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

İbuku  yang Tangguh

Redaksi by Redaksi
Agustus 8, 2025
in Cerita, Cerita Mini, Essay
Reading Time: 2 mins read
0
İbuku  yang Tangguh - 2025 08 08 20 18 38 | Cerita | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Silvia

Siswa  Kelas X F, SMA Negeri 1 Bireun, Aceh 

Aku terlahir dari rahim seorang perempuan sederhana. Orang biasa,yang selalu apa adanya. Saat aku terlahir ke dunia dan saat mata ini mulai terbuka memandang dunia, aku hanya mengenal sosok seorang ibu. Ayahku dan ibuku berpisah, ketika aku berusia satu tahun delapan bulan. 

Di usiaku yang masih belia, tak sekalipun aku mengenal seorang sosok yang di panggil dengan sebutan “AYAH”.Tak pernah kurasakan pelukan hangatnya. Tak pernah kurasakan belaian sayangnya. Dan tak pernah  sekalipun ada tiupan lilin dan potong kue, pada saat ” Ultah”ku. Hingga sampai pada detik ini, di mana usiaku sudah menginjak 16 tahun. Tak pernah aku kenal sosok lain, selain bidadari yang kini tak cantik lagi, yaitu ibuku. Perempuan tangguh, sabar dan tegar. Darinya lah aku mendapatkan kasih sayang. 

Ibuku memang bukan orang hebat. Namun dalam dirinya aku banyak belajar tentang arti hidup dan kehidupan sesungguhnya. Dari umur 3 tahun aku digembleng menghadapi kerasnya hidup ini. Ibuku juga bukan seorang konglomerat. Ibuku hanya seorang penjual gorengan. Meskipun demikian, aku tak pernah malu dan merasa rendah diri, mungkin sebagian anak seusiaku merasa malu, karena memilih orang tua yang bekerja sebagai tukang ojek, tukang kayu dan sebagainya. 

Namun tidak untukku. Justru aku bangga memiliki seorang ibu, meskipun ibuku seorang penjual gorengan. Karena dari usaha itulah aku mendapatkan uang jajan, membeli buku sekolah dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Semua itu ibuku lakukan hanya untukku. 

Hingga pada suatu ketika, sesuatu yang kutakutkan terjadi. Ibuku jatuh sakit dan mau tak mau, usaha yang dirintis ibuku harus berhenti di tengah jalan. Di samping itu, ibuku semakin tua. Tenaganya tak sekuat dulu lagi. Itulah yang membuatnya sering sakit-sakitan. 

Terkadang dalam diam,  aku menangis tanpa seorang pun tahu. Betapa tidak?! Di usianya yang tidak muda lagi, ibuku yang seharusnya beristirahat justru banting tulang, mengais rezeki agar aku tak putus sekolah. Menyedihkan memang, namun demikian, aku tetap mengucap syukur pada Tuhan, aku dan ibuku masih bisa makan. 

Meskipun hanya nasi berlaukan telur. 

Begitu besar pengorbanan ibuku dalam membesarkan dan mendidik-ku. Yang semuanya itu tak pernah bisa terbayar oleh ku. Aku berjanji suatu saat nanti, aku akan membahagiakan dirinya dan sosoknya tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun. Terimakasih untukmu ibu, yang telah hadir mengisi hari – hariku sejauh ini. 

Cot Gapu, 5 Agustus 2025

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
İbuku  yang Tangguh - 2025 08 09 08 27 49 | Cerita | Potret Online

Kutabur Kembang Kemuning di Atas Pusara Pujangga A.A. Pandji Tisna

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com