Ada KKN Kolaborasi 2025 di sanggar Wahana Puspa Budaya, Hosnatun: “Ilmu Akan Saya Berikan Sebelum Saya Mati”‎


Oleh: Anies Septivirawan


‎Tengah hari sangat terik. Panas sinar matahari terasa menyentuh lembut di permukaan genteng rumah Hosnatun yang sekaligus juga sanggar seni tari “Wahana Puspa Budaya” di kecamatan Panji, Situbondo, Jawa Timur.

‎Panas matahari menyengat pori-pori kulit para insan seni yang ada di sanggar tari topeng itu. Namun tidak terasa menyengat bagi mereka yang terdiri dari para mahasiswa – mahasiswi kolaborasi KKN tahun 2025 yang asyik memainkan alat musik tradisional gamelan. Tidak juga bagi Hosnatun.

‎Yah… Hosnatun yang selama ini selalu jadi rujukan para mahasiswa KKN berbagai universitas di Indonesia. Selain sedang KKN, ada juga mereka yang menimba ilmu di bidang seni tari secara otodidak kepada Hosnatun. Hosnatun pun tidak pernah meminta imbalan dari mereka yang sudah banyak menjadi pelatih, guru tari, bahkan dosen.

‎Pada suatu petang, Hosnatun pernah mengatakan kepada saya,

‎”Bagi siapa saja yang akan belajar kepada saya, ilmu saya akan saya berikan kepada mereka yang mau belajar. Ilmu saya akan saya berikan sebelum saya mati,” ujarnya dalam bahasa daerah Madura.

‎Sekitar dua belas mahasiswa yang terdiri dari universitas Jember (UNEJ), Universitas Abdurahman Saleh (UNARS), universitas Malang dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis Mimbaan) telah menggelar kunjungan sekaligus  latihan bersama personil sanggar tari wahana Puspa Budaya yang diantaranya dihadiri para mahasiswa dari fakultas sosial dan ilmu politik (fisip), fakultas hukum, kedokteran gigi, fakultas ilmu budaya fakultas ilmu komputer dan FMIPA serta fakultas pertanian.

‎Kolaborasi para mahasiswa dari berbagai universitas se- Jawa Timur tersebut selain belajar tentang sosial, seni dan budaya di sanggar Cak TUtun,  mereka juga melakukan interview (wawancara) seputar adat dan tradisi lokal di Situbondo. 

‎Tepat pada pukul 09.00 WIB, Minggu, tanggal 3 Agustus, mereka  para mahasiswa yang tergabung dari sejumlah perguruan tinggi itu tiba di sanggar seni tari wahana Puspa Budaya, asuhan Hosnatun atau yang kerap disapa Cak TUtun.

‎Menurut Hosnatun kepada media online ini mengatakan bahwa,

‎”Mereka gabungan mahasiswa dari beberapa disiplin ilmu dan universitas hadir di sanggar tari wahana Puspa Budaya ini adalah untuk melakukan analisis tentang adat, budaya dan tradisi,” ujar budayawan lokal, Hosnatun, Minggu, (3/8/2025).

‎Pria berusia 70 tahun lebih itu juga menambahkan bahwa,

‎”Mereka sudah melakukan kunjungan dalam rangka penelitian yang kedua ke sanggar ini.  Dan mereka sangat antusias untuk melestarikan kesenian tradisional serta budaya lokal Situbondo,” pungkas Hosnatun kepada media online ini, Minggu, tanggal 3 Agustus 2025 .

‎Sementara itu, menurut salah satu kelompok sadar wisata (Pokdarwis Mimbaan), Wely Susanto kepada media online ini mengatakan bahwa,

‎”Dengan adanya kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) kolaboratif tahun 2025 di Mimbaan ini, harapan saya agar semua kegiatan seni budaya khususnya di sanggar tari wahana Puspa Budaya ini bisa diketahui khalayak,”  ujar anggota Pokdarwis Mimbaan, Welly Susanto, Minggu, tanggal 3 Agustus 2025.

Baca Juga

ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Anies Septivirawan
Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.