Dengarkan Artikel
Oleh Luhur Susilo
Festival Kitiran Sriharjo 2025 bukan sekadar perayaan budaya, melainkan representasi harmoni antara warisan tradisi dan semangat inovasi masyarakat. Ribuan kitiran berwarna-warni yang tersebar di jalur wisata menjadi simbol gerak kolektif warga untuk menjaga dan menghidupkan budaya. Festival ini membuktikan bahwa nilai lokal bisa menjadi sumber daya kreatif yang tak pernah habis.
Kitiran, mainan tradisional sederhana, diubah menjadi medium edukasi, ekspresi seni, sekaligus alat promosi wisata desa. Lurah Sriharjo, Titik Istiyawatun Khasanah, secara visioner menjadikan festival ini sebagai strategi pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi. Pemerintah Kalurahan bersinergi dengan warga dan Dinas Kebudayaan, menyatukan energi demi kemajuan bersama.
Tema “Urip Kudu Obah” memberi makna filosofis bahwa kehidupan harus terus bergerak, seperti kitiran yang berputar ditiup angin. Dalam konteks ini, masyarakat Sriharjo menegaskan bahwa kemajuan budaya hanya mungkin lahir dari pergerakan sosial yang aktif, kreatif, dan kolaboratif. Mereka tidak menunggu perubahan, tapi menciptakan perubahan itu sendiri.
“Aku memandangi deretan kitiran itu satu per satu, dan hati ini berdesir. Mainan masa kecil yang dulu kutinggalkan, kini kembali dalam wujud lebih indah dan bermakna. Apakah ini tanda bahwa kita memang sedang bergerak menuju arah yang benar—kembali ke akar, lalu melompat ke masa depan?”
Festival ini melibatkan 63 RT dengan kategori kitiran tradisional dan inovatif. Hasil karya warga tidak hanya indah dipandang, tapi juga sarat nilai, makna, dan kecerdasan lokal. Kitiran gejog lesung, misalnya, menyatukan unsur mekanis, seni, dan kenangan kolektif dalam satu bentuk permainan yang hidup.
📚 Artikel Terkait
Apresiasi menjadi pengakuan bahwa Sriharjo punya SDM unggul yang mampu memadukan pelestarian budaya dengan inovasi kreatif. Gotong royong masyarakat menjadi fondasi keberhasilan acara ini. Semangat itu terpancar dalam antusiasme warga yang bergotong royong menghias jalur desa dengan karya-karya terbaik mereka.
Festival Kitiran tidak hanya memutar baling-baling mainan, tetapi juga memutar roda ekonomi masyarakat. UMKM lokal dilibatkan aktif, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga pentas seni budaya. Semua mendapat ruang tumbuh, semua diberi panggung untuk menunjukkan potensi.
Workshop kitiran dan pertunjukan tari kreasi “Tari Kitiran” menjadi bukti bahwa festival ini mendidik sekaligus menghibur. Anak-anak dan generasi muda diajak mengenal warisan budaya dengan cara yang menyenangkan dan membangkitkan rasa memiliki. Ini bukan nostalgia pasif, tetapi regenerasi nilai yang aktif.
“Di tengah dunia yang makin sibuk dengan layar dan algoritma, ada sebentuk harapan yang berputar dalam tiupan angin Sriharjo. Kitiran itu tak hanya menghibur mata, tetapi menuntun jiwa untuk kembali menyadari: akar budaya adalah cahaya yang tak boleh padam.”
Sriharjo berhasil menjadikan budaya bukan sekadar warisan, tapi juga masa depan. Festival ini menanamkan gagasan bahwa kedaulatan budaya bisa menjadi pondasi ekonomi dan identitas desa. Ketika masyarakat bergerak dengan kesadaran dan kreativitas, maka desa bukan lagi pinggiran, tapi pusat inspirasi.
Keberhasilan Festival Kitiran Sriharjo 2025 memberi pelajaran penting bagi daerah lain. Keteladanan warga Sriharjo mengajarkan bahwa transformasi sosial dimulai dari akar rumput, dari gotong royong, dan dari keberanian merayakan kebudayaan sendiri. Di tengah arus globalisasi, Sriharjo membuktikan bahwa lokalitas yang diolah dengan cinta dan cerdas bisa bersaing di panggung nasional, bahkan dunia.
Mari belajar dari Sriharjo: bahwa hidup yang bergerak bukan hanya hidup yang bertahan, tetapi juga hidup yang memberdayakan, menginspirasi, dan menumbuhkan. Seperti kitiran, kita terus berputar—tidak diam, tidak menyerah, dan selalu mengarah pada cahaya harapan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





