POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sekolah Masa Lalu Untuk Anak Masa Depan, Bagai Kaset Rusak yang Kendur Pitanya

Frida PignyOleh Frida Pigny
August 1, 2025
Sekolah Masa Lalu Untuk Anak Masa Depan, Bagai Kaset Rusak yang Kendur Pitanya
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: @Frida.Pigny

| https://superschool.ing

Ketika kita bertanya, apakah sistem pendidikan dulu lebih baik daripada sekarang? Sering kali yang muncul bukan jawaban, tapi rasa. Rasa nyaman, rasa akrab, rasa damai yang kita kaitkan dengan masa kecil kita. Dan nostalgia adalah perancang ulung. Ia tidak hanya menyaring yang pahit, tapi juga menyulap kenangan menjadi sesuatu yang tampak indah bahkan ketika realitasnya dulu justru penuh luka.

Saya ingat satu sore di rumah masa kecil. Saya sedang duduk mengerjakan PR ketika ibu memanggil saya. “Bantuin adikmu gambar pemandangan,” katanya. Adik saya empat tahun lebih muda, dan kami bersekolah di sekolah yang sama, hanya beda masa. Saya kesal. Saya protes. “Dulu nggak ada yang bantuin aku bikin PR apa pun. Semua bikin sendiri. Kenapa sekarang aku harus bantu dia?”
Ibu menjawab, “Karena gambar dia nggak sebagus kamu. Nanti kasihan nilainya.”

Saya menggambar juga akhirnya, sambil mengomel. Dua buah awan, beberapa bentuk burung terbang, sawah, matahari di antara dua gunung, dan jalan kecil melengkung ke kejauhan. Pemandangan standar khas PR SD. Tapi momen itu menempel kuat dalam ingatan saya.

Belasan tahun kemudian, saya menemukan kipas tangan yang saya buat sendiri. Kerajinan tangan dari rangka kardus dan gagang bambu yang dibalut kain beludru dengan jahitan manik-manik berwarna-warni motif Aceh, lengkap dengan pinggiran renda berwarna emas yang saya jahit tangan. Tapi kali ini, nama di belakang karya ini bukan nama saya. Itu nama adik saya. Rupanya PR yang sama kembali datang, dan ibu memutuskan hasil buatan saya bisa dipakai ulang olehnya, sehingga dia tidak perlu repot-repot membuatnya lagi.

Saya tidak tahu mana yang lebih mengecewakan: kenyataan bahwa kerja keras saya tak diakui, atau bahwa sistem sekolah kami masih memberi PR yang sama, dengan bentuk yang sama, dalam jeda waktu bertahun-tahun. Tidak ada pembaruan. Tidak ada imajinasi. Hanya pengulangan.

Dan ini bukan hanya soal PR. Ini adalah simbol. Sistem pendidikan kita seperti mesin waktu rusak yang memutar kaset lama berulang kali. Kita bangga pada masa lalu, tapi lupa bahwa dunia telah berubah. Lalu kita berkata, “Dulu lebih baik,” padahal mungkin yang kita maksud adalah, “Dulu lebih sederhana.”

Menurut riset UNESCO tahun 2022, sistem pendidikan yang tidak relevan dengan konteks zaman menyumbang pada meningkatnya jumlah siswa yang merasa tidak termotivasi. Sementara itu, Harvard Business Review pernah merilis studi yang menunjukkan bahwa adaptabilitas dan kreativitas menjadi dua keterampilan tertinggi yang dibutuhkan dalam dunia kerja masa depan. Sayangnya, sistem pendidikan kita, dulu maupun sekarang, tidak dirancang untuk menumbuhkan itu.

📚 Artikel Terkait

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Siswa dan Guru MA Darul Ulum Serahkan Hewan Kurban Ke Desa Lamkunyet

Akibat Tidur Setelah Subuh

LAILA DI TITIAN TAKDIR

Tapi bukan berarti kita tidak bisa belajar dari masa lalu. Lihatlah sosok seperti Ki Hadjar Dewantara. Ia membangun pendidikan Indonesia dengan filosofi yang membebaskan: “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Tapi lihat bagaimana ajaran beliau hari ini hanya menjadi kutipan usang yang terpampang di ruang guru. Esensinya hilang. Yang tersisa hanya ritualisme. Persis seperti kaset rusak yang sudah kendur pitanya.

Atau coba kita menengok ke Finlandia, negeri yang berkali-kali menduduki peringkat tertinggi dalam pendidikan dunia. Di sana, guru adalah profesi paling dihormati, kurikulum tidaklah padat, anak-anak tidak punya PR, dan sekolah dimulai lebih siang memastikan anak-anak cukup waktu tidur dan menikmati pagi bersama anggota keluarganya tanpa terburu-buru. Pendidikan di sana bukan sekadar transfer ilmu, tapi upaya memahami potensi manusia.

Albert Einstein pernah mengatakan, “It is a miracle that curiosity survives formal education.” Kalau diterjemahkan kira-kira artinya ‘Sebuah keajaiban kalau rasa ingin tahu bisa lolos selamat dari bangku sekolah’. Betapa ironis. Padahal sistem pendidikan seharusnya menumbuhkan rasa ingin tahu pada anak didik, bukan mematikannya. Dan disinilah nostalgia bisa menjadi jebakan. Ketika kita memuja masa lalu, kita kerap lupa bahwa banyak yang tidak ideal di sana.

Guru-guru yang otoriter. Hukuman fisik. Peringkat kelas yang membuat trauma. Anak-anak yang pintar tapi pendiam karena takut terlihat beda. Ini semua bukan keberhasilan. Ini gejala sistem yang menindas, meskipun terasa nyaman karena sudah familiar.

Saya pikir tentang anak-anak Aceh hari ini. Apakah mereka akan tumbuh dan berkata bahwa sistem sekarang lebih buruk? Atau nanti, 20 tahun ke depan, mereka juga akan bernostalgia tentang sistem hari ini dan menyebutnya lebih baik? Atau… mungkin mereka akan jadi generasi pertama yang berani berkata, “Kami ingin yang berbeda. Kami tidak ingin mewarisi sistem yang hanya mengulang.”

Saya mengidamkan tentang hari ketika anak-anak di Aceh bisa menolak PR yang tak masuk akal, bukan karena mereka malas, tapi karena mereka tahu hak mereka untuk belajar dengan makna. Hari ketika guru tidak hanya mengulang silabus, tapi bertanya pada murid: “Apa yang kamu ingin pahami minggu ini?” Hari ketika ibu tidak harus memalsukan nama anak di hasil kerajinan tangan, karena ia tahu sekolah menghargai proses, bukan hasil.

Transformasi pendidikan bukan tugas pemerintah semata. Ia adalah tugas kultural. Ia lahir dari obrolan makan malam bersama, dari keberanian orang tua mempertanyakan, dari guru yang diam-diam mengubah pendekatan, dari murid yang sekali waktu berani berkata, “Saya tidak mengerti, bolehkah saya minta ulang?”

Kita butuh lebih banyak orang yang tidak sekadar mengenang masa lalu sebagai masa keemasan, tapi yang berani menyadari: sistem yang dulu kita jalani mungkin terasa aman, tapi belum tentu adil. Dan keberanian untuk melihat kenyataan adalah langkah awal menuju sistem yang manusiawi.

Dan barangkali inilah luka kecil yang diwariskan diam-diam dari generasi ke generasi: anak-anak yang tumbuh tanpa ruang untuk bertanya, tanpa ruang untuk gagal, tanpa ruang untuk jujur tentang siapa mereka sebenarnya. Di banyak keluarga dan sekolah, anak yang ‘membuat masalah’ dicap pembangkang, bukan dijadikan teman dialog. Padahal, bisa jadi mereka hanyalah anak-anak yang menolak dipaksa jadi salinan dari masa lalu. Yang ingin tahu apa gunanya belajar jika akhirnya semua harus dituruti, bukan dimaknai. Jika saja kita berhenti sejenak dan mendengar, mungkin kita akan sadar bahwa bukan anak-anak yang terlalu keras kepala, tapi dunia yang terlalu takut berubah.

Saya tidak ingin anak-anak saya tumbuh dalam sistem yang hanya pandai menilai. Saya ingin mereka belajar dalam sistem yang pandai mendengar. Inilah salah satu alasan saya untuk meng-homeschooling-kan anak kami sejak kami memutuskan untuk hinggap sebentar di Aceh dari akhir tahun 2019 silam.

Kadang, kita terlalu sibuk mencari sistem yang ‘lebih baik’, padahal yang kita butuhkan adalah sistem yang lebih manusiawi, yang bisa memanusiakan manusia.

“Pikiran bukanlah bejana yang harus diisi, melainkan api yang harus dinyalakan.” ~ Plutarch

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share8SendShareScanShare
Frida Pigny

Frida Pigny

Frida Pigny adalah seorang home educator bersertifikat, pembicara transformasional, dan pendiri SuperSchooling, sebuah platform pendidikan keluarga yang membantu orang tua merancang perjalanan belajar yang lebih bermakna, personal, dan selaras dengan nilai keberagaman. Ia menggabungkan ilmu NLP, Time Line Therapy™️, Hipnosis, Psikologi Positif, Psikologi Energi, Kinesiologi, dan Emotional Freedom Technique (EFT) dalam pendekatan pendidikan holistik yang ia bangun. Lewat Axellent Method, pendekatan khas Frida yang santai namun transformatif, ia memberi ruang bagi keluarga untuk keluar dari sistem pendidikan yang kaku dan menumbuhkan anak-anak yang lebih percaya diri, kreatif, dan penuh empati. Frida juga seorang Firewalk Trainer tersertifikasi dan anggota Aceh Australian Alumni. Misinya adalah menghidupkan pendidikan masa depan yang berpijak pada kekuatan keluarga, kemerdekaan belajar, dan keberagaman nilai abad 21. Ayo, connect dengan Frida di Instagram: @Frida.Pigny Frida Pigny is a certified home educator, energy psychology practitioner, and founder of SuperSchooling, a movement that helps families design personalized, diversity-aligned learning experiences. Combining neuroscience, EFT, NLP, kinesiology, and positive psychology, Frida empowers parents to raise confident, creative children beyond the limits of traditional schooling. Through her Superschooling platform and signature Axellent Method, a relaxed yet powerfully transformative learning approach, she guides families to break free from rigid systems and nurture emotionally resilient, empathetic, and curious young learners. Frida is also a certified Firewalk Trainer and a proud member of the Aceh Australian Alumni network. Her mission is to reimagine future education by rooting it in family strength, freedom, and cultural integrity.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Merdeka Belajar - Ulasan Artikel

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00