Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Perang Thailand dan Kamboja baru saja damai. Korban jiwa, tak seberapa sih bila dibandingkan perang saat Polpot menguasai Kamboja. Nah, kali ini saya ingin mengenalkan Pol Pot pemimpin terkejam di Asia Tenggara. Kalau di dunia, ia masih berada di bawah Adolf Hitler, Joseph Stalin, dan Mau Zedong. Tercatat dalam sejarah, Pol Pot membunuh seperempat penduduknya sendiri. Gila ni manusia, psikopat. Mari kita ungkap sambil seruput kopi agar otak selalu encer dan waras.
Bayangkan seseorang yang membaca buku filsafat, pergi kuliah ke Paris, lalu pulang-pulang malah membunuh seperempat rakyatnya sendiri. Ya, seperti itulah Pol Pot, sang maestro pembantaian, diktator berkacamata kuda, dan penemu sistem “hemat peluru dengan cangkul dan bambu runcing” yang membuat semua film horor Hollywood tampak seperti kartun edukatif anak-anak. Ini bukan kisah fiksi. Ini sejarah. Sejarah yang sangat, sangat absurd.
Nama aslinya Saloth Sâr, lahir pada 19 Mei 1925, di Prek Sbauv, Kampong Thom, Kamboja. Dari kecil dia bukan orang susah. Ayahnya petani kaya. Rumahnya luas. Bahkan keluarganya punya hubungan dekat dengan istana kerajaan. Ia sempat sekolah Katolik di Phnom Penh. Lalu dapat beasiswa ke Paris. Paris, kawan! Kota romantis, tempat lahirnya revolusi dan croissant! Tapi alih-alih membawa pulang seni berpuisi atau resep baguette, Pol Pot justru menenteng koper penuh ideologi Maois ekstrem, nasionalisme fanatik, dan dendam pada kemanusiaan itu sendiri.
Di Paris, dia bergabung dengan Partai Komunis Prancis, lalu aktif di “Lingkaran Marxis” sebuah klub asyik berisi mahasiswa yang percaya bahwa kalau semua orang jadi petani, dunia akan damai. Tentu saja, ide itu terdengar seperti bercanda. Tapi sayangnya, Pol Pot tidak sedang bercanda.
Ketika ia kembali ke tanah air, Kamboja sedang kacau. Maka dimulailah kariernya sebagai Sekretaris Jenderal Partai Komunis Kamboja sejak 1963, lalu naik pangkat menjadi Perdana Menteri Kamboja Demokratik dari 1976 sampai 1979. Jangan bayangkan “Demokratik” di sini seperti demokrasi. Di bawah Pol Pot, demokrasi dikubur hidup-hidup bersama 2 juta rakyatnya.
Tahun 1975 adalah tahun yang dikenang Kamboja seperti orang mengenang hari banjir bandang, datang tiba-tiba, menghancurkan segalanya, lalu menyisakan trauma abadi. Tahun itu Khmer Merah, pasukan revolusioner di bawah Pol Pot, berhasil mengambil alih Phnom Penh. Kota langsung dikosongkan. Iya, dikosongkan. Seperti nuan mengosongkan keranjang belanja online, tapi bedanya ini adalah kota berisi jutaan manusia. Anak-anak, ibu hamil, pasien rumah sakit disuruh jalan kaki ke desa. Tak peduli bisa napas atau tidak. Pokoknya semua harus jadi petani. Karena menurut Pol Pot, dunia ideal itu hanya terdiri dari satu profesi, petani.
Lalu dimulailah proyek paling tidak masuk akal dalam sejarah umat manusia, “Year Zero”. Konsep ini menyatakan bahwa semua yang ada sebelumnya, agama, budaya, sejarah, kapitalisme, bahkan kasih sayang, harus dimusnahkan. Habis. Dilenyapkan. Ditiadakan. Uang dihapus. Sekolah dihapus. Agama dihapus. Orang tua tidak boleh mengasuh anaknya sendiri. Semua warga Kamboja memakai pakaian seragam hitam seperti sedang cosplay massal jadi ninja gagal.
📚 Artikel Terkait
Punya kacamata? Mati. Bisa bahasa Prancis? Mati. Guru, dokter, biksu, tukang ketik, tukang cukur yang bisa baca? Mati. Bahkan bayi dan anak kecil yang belum tahu apa-apa pun ikut dihabisi karena dianggap “bibit pengkhianat revolusi masa depan.”
Tidak ada peluru untuk mereka. Bukan karena belas kasih, tapi karena peluru mahal. Maka alat eksekusi pilihan adalah cangkul, bambu runcing, dan tangan kosong. “Sustainable killing” mungkin begitulah para algojonya menyebut metode pembantaian ini sambil menanam padi.
Lokasi pembantaian disebut Killing Fields, dan mereka bukan cuma satu dua titik. Ratusan. Termasuk Choeung Ek yang kini jadi museum tulang belulang. Tuol Sleng (S-21), bekas sekolah yang diubah jadi penjara penyiksaan. Di sana, orang disetrum, dipukul, disayat, dipaksa mengaku hal-hal yang bahkan mereka tidak tahu. Lalu dibunuh. Kadang langsung, kadang ditunda demi tontonan sore hari.
Dalam waktu kurang dari empat tahun, diperkirakan 1,7 hingga 2 juta jiwa tewas. Itu sekitar 25% dari populasi Kamboja saat itu. Bayangkan, seperempat negeri hilang karena ambisi seorang manusia yang ingin menghapus dunia dan menulis ulang sejarah dengan tinta darah. Bukan darah metaforis. Benar-benar darah.
Lalu apa akhir dari manusia bernama Pol Pot ini? Dia tidak ditembak mati. Tidak digantung. Tidak juga diadili di pengadilan internasional seperti tokoh-tokoh kejam lainnya. Setelah digulingkan oleh Vietnam pada 1979, Pol Pot kabur ke hutan. Bersembunyi, makan nasi hutan, dan sesekali muncul seperti legenda urban. Bahkan sempat memimpin Khmer Merah dari persembunyian sampai 1997. Lalu? Dia ditangkap oleh anak buahnya sendiri, dikurung di rumah, dan wafat dengan tenang pada 15 April 1998. Katanya karena serangan jantung. Katanya.
Begitulah akhir dari seorang tiran yang nyaris membuat bangsa Kamboja punah. Mati di ranjang, bukan di medan pertempuran. Dunia terlalu baik padanya.
Jika hari ini sampeyan membaca ini sambil ngeluh karena tugas kuliah atau harga es kopi naik seribu, ingatlah bahwa pernah ada manusia yang menghapus seluruh sistem kehidupan hanya karena dia percaya satu hal, bahwa manusia harus sama rata dalam penderitaan.
Pol Pot bukan sekadar diktator. Dia adalah catatan kaki sejarah yang mengajarkan satu pelajaran paling mahal, bahwa ideologi tanpa akal sehat bisa membunuh lebih cepat dari senjata api. Jangan pernah ada Pol Pot kedua di negeri ini. Satu saja sudah terlalu banyak. Amit-amit jabang bayi.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





