POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Kami Menjadi Orang Tua: Kisah Kelahiran Anak Pertama di Tengah Keterbatasan

Azharsyah IbrahimOleh Azharsyah Ibrahim
July 26, 2025
Ketika Kami Menjadi Orang Tua: Kisah Kelahiran Anak Pertama di Tengah Keterbatasan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Azharsyah Ibrahim


Tepat 19 tahun lalu, pada 26 Juli 2006, saya dan istri menjalani salah satu malam paling
mendebarkan dalam hidup kami. Kami masih pasangan muda saat itu—baru setahun menikah, saya baru berusia 28 tahun, istri saya baru 25 tahun. Tinggal di Banda Aceh, jauh dari keluarga, dan di masa ketika internet belum semudah sekarang diakses, kami benar-benar mengandalkan naluri, pengalaman minim, dan saran seadanya dari dokter kandungan.


Malam itu, istri saya mulai mengeluh sakit perut yang datang dan pergi secara teratur. Polanya khas: sakit, berhenti, sakit lagi. Kami mulai curiga—mungkinkah ini tanda-tanda kelahiran?


Kami teringat hasil konsultasi dengan dokter dan bidan beberapa waktu sebelumnya, dan kamipun cukup yakin: ini saatnya. Tapi sebagai orang tua baru, kami belum punya gambaran utuh—berapa lama proses persalinan berlangsung? Kapan waktu terbaik menuju rumah sakit?


Apa saja yang harus kami bawa?
Saya sempat menyarankan untuk langsung berangkat ke rumah sakit malam itu juga. Tapi istri saya bilang,
“Tunggu habis Subuh saja.
” Kami pun mencoba menunggu, meski perasaan was-was tak bisa disembunyikan.
Pukul empat pagi, sakitnya makin menjadi-jadi. Kontraksi semakin sering. Wajah istri saya mulai pucat menahan nyeri. Kami belum punya kendaraan roda empat, dan di masa itu, layanan transportasi online belum ada. Satu-satunya harapan: abang kandung saya, Eddy Gunawan, yang punya mobil pribadi.
Saya telepon dia. Alhamdulillah, langsung diangkat. Tanpa banyak tanya, ia langsung meluncur ke tempat kami.


Rencananya, kami akan menuju RS Fakinah—tempat dokter kandungan kami biasa praktik.
Tapi baru sampai di simpang Jambo Tape, istri saya sudah tak kuat menahan sakit. Abang saya bertanya,
“Gimana kalau putar balik ke RSUZA di belakang, atau ke Klinik Seulanga di
seberang jalan?” Kami tidak punya banyak pilihan. Akhirnya, kami putuskan untuk masuk ke Klinik Seulanga—tempat yang bahkan belum pernah kami dengar sebelumnya.

📚 Artikel Terkait

Belum Lelah Menggugah

Komunitas Seni Kuflet Padang Panjang Resmi Luncurkan Antologi Puisi “Negeri Bencana”

Mewujudkan Trigatra Bangun Bahasa

HABA Si PATok


Siapa sangka, keputusan spontan itu justru menjadi berkah. Klinik itu dikelola oleh Bu Bandi, seorang bidan senior yang ramah, tenang, dan keibuan. Kami langsung merasa seperti di rumah. Beberapa bidan langsung menangani istri saya, dan setelah
diperiksa, mereka mengatakan: “Sebentar lagi, insya Allah anaknya akan lahir secara normal.
Tak perlu tunggu dokter.
” Semua berjalan cepat dan lancar.
Sekitar pukul enam pagi, setelah Subuh, lahirlah putra pertama kami—Aksa Zabarnusy
Azhar—dengan selamat dan sehat. Tangis pertamanya adalah suara paling indah yang pernah saya dengar.


Tapi kelucuan belum berhenti di situ. Karena ketidaktahuan kami, kami tak menyiapkan apa
pun. Tak ada pakaian bayi, popok, atau peralatan lainnya. Para bidan hanya tersenyum melihat kepolosan kami. Saya pun diberi daftar barang-barang penting dan segera meluncur ke toko
perlengkapan bayi. Sementara itu, Aksa dipakaikan baju dan selimut dari persediaan klinik.


Begitu kabar gembira itu sampai ke orang tua kami di kampung, mereka langsung berangkat ke Banda Aceh. Adik-adik perempuan kami yang tinggal tak jauh datang lebih dulu. Siang harinya, ayah saya datang berkunjung. Sayangnya, ibu saya yang sedang sakit stroke tidak bisa ikut.


Sore harinya, ibu mertua tiba, langsung menjenguk cucu pertamanya.
Malam itu kami menginap di klinik, dan keesokan harinya pulang ke rumah kontrakan kecil kami di Gampong Pineung. Klinik Bu Bandi sejak itu menjadi tempat kepercayaan kami. Bahkan kelahiran anak-anak berikutnya, istri saya selalu ingin melahirkan di sana. Ada kehangatan, ada ketulusan yang tak mudah dilupakan.


Pelajaran dari Malam Itu Kini, 19 tahun berlalu. Kami telah menjadi orang tua selama hampir dua dekade. Tapi malam
itu, malam pertama kami menyambut kehidupan baru, tetap menjadi momen yang hidup dalam ingatan.


Kami belajar bahwa menjadi orang tua bukan tentang kesiapan yang sempurna, melainkan
tentang keberanian untuk menghadapi hal yang belum kita pahami. Kami juga belajar bahwa dalam keadaan darurat, keputusan cepat bisa jadi keputusan terbaik, jika diiringi niat yang tulus dan kepasrahan kepada Tuhan. Dan yang paling penting: tidak semua pertolongan datang dari rencana, kadang datang dari tempat yang sama sekali tidak kita kenal.


Kisah ini saya tulis sebagai hadiah ulang tahun untuk anak pertama kami, putra tercinta, Aksa
Zabarnusy Azhar. Semoga engkau tumbuh menjadi pribadi yang baik, berbakti kepada
keluarga, agama, dan bangsa, serta menjadi cahaya bagi sesama. Selamat ulang tahun, Nak.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share6SendShareScanShare
Azharsyah Ibrahim

Azharsyah Ibrahim

Short Biography Prof. Dr. Azharsyah Ibrahim, SE., Ak., M.S.O.M. adalah Guru Besar Manajemen Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Meraih S-1 di Ekonomi/Akuntansi dari Universitas Syiah Kuala (2001), S-2 Operations Management dengan beasiswa Fulbright di Amerika Serikat (2008), dan menyelesaikan program doktoral Manajemen Syariah di University of Malaya pada 2015. Memiliki sejumlah publikasi akademik yang dapat diakses online. Di kampus, menjabat sebagai Kepala Satuan Pengawasan Internal (SPI) dan Editor in Chief dua jurnal ilmiah terakreditasi. Selain itu, aktif sebagai editor dan reviewer di jurnal nasional dan internasional bereputasi, termasuk yang terindeks Scopus dan Web of Science, serta menjadi narasumber di berbagai pertemuan ilmiah. Prof. Azharsyah berdomisili di Limpok, Aceh Besar, dan dapat dihubungi melalui email: azharsyah@gmail.com.  

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00