Dengarkan Artikel
Oleh: Azharsyah Ibrahim
Tepat 19 tahun lalu, pada 26 Juli 2006, saya dan istri menjalani salah satu malam paling
mendebarkan dalam hidup kami. Kami masih pasangan muda saat itu—baru setahun menikah, saya baru berusia 28 tahun, istri saya baru 25 tahun. Tinggal di Banda Aceh, jauh dari keluarga, dan di masa ketika internet belum semudah sekarang diakses, kami benar-benar mengandalkan naluri, pengalaman minim, dan saran seadanya dari dokter kandungan.
Malam itu, istri saya mulai mengeluh sakit perut yang datang dan pergi secara teratur. Polanya khas: sakit, berhenti, sakit lagi. Kami mulai curiga—mungkinkah ini tanda-tanda kelahiran?
Kami teringat hasil konsultasi dengan dokter dan bidan beberapa waktu sebelumnya, dan kamipun cukup yakin: ini saatnya. Tapi sebagai orang tua baru, kami belum punya gambaran utuh—berapa lama proses persalinan berlangsung? Kapan waktu terbaik menuju rumah sakit?
Apa saja yang harus kami bawa?
Saya sempat menyarankan untuk langsung berangkat ke rumah sakit malam itu juga. Tapi istri saya bilang,
“Tunggu habis Subuh saja.
” Kami pun mencoba menunggu, meski perasaan was-was tak bisa disembunyikan.
Pukul empat pagi, sakitnya makin menjadi-jadi. Kontraksi semakin sering. Wajah istri saya mulai pucat menahan nyeri. Kami belum punya kendaraan roda empat, dan di masa itu, layanan transportasi online belum ada. Satu-satunya harapan: abang kandung saya, Eddy Gunawan, yang punya mobil pribadi.
Saya telepon dia. Alhamdulillah, langsung diangkat. Tanpa banyak tanya, ia langsung meluncur ke tempat kami.
Rencananya, kami akan menuju RS Fakinah—tempat dokter kandungan kami biasa praktik.
Tapi baru sampai di simpang Jambo Tape, istri saya sudah tak kuat menahan sakit. Abang saya bertanya,
“Gimana kalau putar balik ke RSUZA di belakang, atau ke Klinik Seulanga di
seberang jalan?” Kami tidak punya banyak pilihan. Akhirnya, kami putuskan untuk masuk ke Klinik Seulanga—tempat yang bahkan belum pernah kami dengar sebelumnya.
📚 Artikel Terkait
Siapa sangka, keputusan spontan itu justru menjadi berkah. Klinik itu dikelola oleh Bu Bandi, seorang bidan senior yang ramah, tenang, dan keibuan. Kami langsung merasa seperti di rumah. Beberapa bidan langsung menangani istri saya, dan setelah
diperiksa, mereka mengatakan: “Sebentar lagi, insya Allah anaknya akan lahir secara normal.
Tak perlu tunggu dokter.
” Semua berjalan cepat dan lancar.
Sekitar pukul enam pagi, setelah Subuh, lahirlah putra pertama kami—Aksa Zabarnusy
Azhar—dengan selamat dan sehat. Tangis pertamanya adalah suara paling indah yang pernah saya dengar.
Tapi kelucuan belum berhenti di situ. Karena ketidaktahuan kami, kami tak menyiapkan apa
pun. Tak ada pakaian bayi, popok, atau peralatan lainnya. Para bidan hanya tersenyum melihat kepolosan kami. Saya pun diberi daftar barang-barang penting dan segera meluncur ke toko
perlengkapan bayi. Sementara itu, Aksa dipakaikan baju dan selimut dari persediaan klinik.
Begitu kabar gembira itu sampai ke orang tua kami di kampung, mereka langsung berangkat ke Banda Aceh. Adik-adik perempuan kami yang tinggal tak jauh datang lebih dulu. Siang harinya, ayah saya datang berkunjung. Sayangnya, ibu saya yang sedang sakit stroke tidak bisa ikut.
Sore harinya, ibu mertua tiba, langsung menjenguk cucu pertamanya.
Malam itu kami menginap di klinik, dan keesokan harinya pulang ke rumah kontrakan kecil kami di Gampong Pineung. Klinik Bu Bandi sejak itu menjadi tempat kepercayaan kami. Bahkan kelahiran anak-anak berikutnya, istri saya selalu ingin melahirkan di sana. Ada kehangatan, ada ketulusan yang tak mudah dilupakan.
Pelajaran dari Malam Itu Kini, 19 tahun berlalu. Kami telah menjadi orang tua selama hampir dua dekade. Tapi malam
itu, malam pertama kami menyambut kehidupan baru, tetap menjadi momen yang hidup dalam ingatan.
Kami belajar bahwa menjadi orang tua bukan tentang kesiapan yang sempurna, melainkan
tentang keberanian untuk menghadapi hal yang belum kita pahami. Kami juga belajar bahwa dalam keadaan darurat, keputusan cepat bisa jadi keputusan terbaik, jika diiringi niat yang tulus dan kepasrahan kepada Tuhan. Dan yang paling penting: tidak semua pertolongan datang dari rencana, kadang datang dari tempat yang sama sekali tidak kita kenal.
Kisah ini saya tulis sebagai hadiah ulang tahun untuk anak pertama kami, putra tercinta, Aksa
Zabarnusy Azhar. Semoga engkau tumbuh menjadi pribadi yang baik, berbakti kepada
keluarga, agama, dan bangsa, serta menjadi cahaya bagi sesama. Selamat ulang tahun, Nak.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





