Dengarkan Artikel
Oleh Rivaldi
Rindu itu aneh. Ia bisa hadir pada hal yang seharusnya tidak patut dirindukan. Di ujung barat Indonesia, tepatnya di provinsi Nanggroe Aceh Darusallam, kadang-kadang, rindu itu datang pada perang. Bukan karena senapan, bukan karena darah, bukan karena desing peluru yang menyayat pagi dan tak bertuan. Tapi karena dalam sebuah perang, Aceh berdiri tegak. Ada keberanian, ada solidaritas, ada harga diri. Sesuatu yang mulai pudar di masa damai.
Hari ini, tak ada lagi suara tembakan tak bertuan, Tak ada patroli malam, Tak ada tapol yang digiring ke sel tanpa sidang. Tapi justru di tengah damai, kita kehilangan arah. Kita damai, tapi kehilangan keberanian. Kita damai, tapi tak lagi lantang. Kita damai, tapi diam ketika tanah dirampas, laut dikeruk, dan suara rakyat dikubur oleh proyek.
📚 Artikel Terkait
Di masa perang, musuh jelas. Di masa damai, musuh menyamar, hingga membuat kita hari ini, tak tau lagi yang mana musuh dan yang mana lagi kawan. Ia bisa datang dalam bentuk investor, politisi, atau bahkan sesama anak bangsa yang menjual Aceh demi kekuasaan dan kursi. Maka wajar jika ada yang diam-diam rindu perang. Bukan karena ingin konflik, tapi karena di masa perang, ada nyali dan ada semangat untuk melawan.
Namun rindu perang bukanlah sebuah solusi. Kita harus belajar merindukan damai yang bermartabat. Damai yang tidak sekadar absen tembakan, tapi hadirnya sebuah keadilan. Damai yang membuat anak-anak Aceh bisa sekolah tanpa takut lapar, bisa bermimpi tanpa takut mimpi itu tidak bisa tergapai karna segala macam ketimpangan yang ada di Aceh. Damai yang membuat rakyat bisa bersuara tanpa diintimidasi. Damai yang menegakkan isi MoU, bukan memanipulasinya demi segelintir elite.
Rindu itu boleh. Tapi (jangan) rindu perang. Rindulah pada semangatnya: semangat perlawanan, keberanian, dan solidaritas. Lalu wujudkan semua itu dalam damai. Karena Aceh (tak) butuh peluru untuk bangkit. Aceh hanya butuh kejujuran, keberanian, dan rakyat yang tak lagi mau diam.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






