Dengarkan Artikel
Oleh Haidar Bagir
Sejak awal saya tahu bahwa saya akan pergi ke dataran tinggi Dieng, apalagi memutuskan tinggal di Hotel Horison di Wonosobo, saya sudah tetap hati akan bertemu dengan sahabat muda yang sudah cukup lama tidak ketemu.
Dia sama sama aktivis Masjid Salman ITB – saya di Penerbit Pustaka Salman, dia di Bulletin Salman KAU.
Meski umur saya berbeda 4 tahun dengannya, interaksi saya dengannya sempat cukup intens. Dia penerjemah beberapa buku Mizan di tahun-tahun pertama sejak berdirinya. Sejak pertengahan tahun 1992, interaksi saya dengannya kembali intensif. Yakni di harian Republika. Saya, meski juga menjadi pengarah redaksi sambil juga menulis sesekali, sedang sahabat muda saya ini menjadi wartawan-penulis senior.
Salah satu karya legendarisnya adalah reportasenya tentang perang Bosnia, di jantung pergolakannya, di Sarajevo. Hasil reportasenya itu belakangan terbit menjadi buku yang berjudul “Dor! Sarajevo”.
Interaksi intensif terjalin lagi ketika kami sama-sama mengelola Majalah Ummat.
Terakhir, kami lagi-lagi bertemu intensif waktu sama-sama mengurusi Majalah Madina.
Ya, sahabat muda saya ini adalah orang yang istimewa. Dia bukan saja piawai menulis – sehingga menjadi teladan bagi penulis-penulis yang lebih muda -passion-nya dalam membela apa yang diyakininya sebagai kebenaran, dan juga kepada orang-orang marjinal, menjadikannya istimewa.
Tak heran jika saat menerjemahkan buku untuk penerbit Mizan, dia memilih mengerjakan terjemahan buku Ali Syariati, seorang intelektual Islam-sosialis Iran pra-Revolusi Islam Iran.
Tapi, Farid Gaban – sahabat muda saya ini – juga bisa disebut sebagai “orang biasa” karena kesederhanaan hidupnya. Kalau dipakai istilah klasik, Farid adalah seorang yang spartan, yang mengembangkan budaya kesederhanaan, dan keberanian serta kegigihannya dalam membela apa yang menjadi keyakinannya.
📚 Artikel Terkait
Pernah, misalnya, Farid, bersama Ahmad Yusuf sahabatnya, mengelilingi (tempat-tempat terpilih di) Indonesia dengan menunggang motor saja. Pengalamannya ini dia tuangkan ke dalam sebuah buku berjudul “Meraba Indonesia”. Tapi bukan hanya berupa buku tentang perjalanan, di dalamnya terungkap kekayaan budaya Indonesia, serta keuletan masyarakat tradisional negeri ini dalam menghormati lingkungan yang di dalamnya mereka hidup, bahkan dalam kegiatan ekonomi mereka mengeksplorasi alam, di tempat-tempat yang mereka kunjungi.
Hal inilah yang mendorong Farid, kali ini bersama aktivis lingkungan dan HAM Dandhy Laksono, sekali lagi berkeliling Indonesia, yang catatan-catatan perjalanan keduanya sedang dalam proses penyuntingan akhir untuk diterbitkan.
Demi memenuhi passion-nya ini, dia tak segan segan memutuskan untuk menghabiskan hidupnya di Wonosobo, untuk bekerja sama dengan para petani, dalam memperjuangkan kepentingan para petani kecil, yang sering tertindas oleh struktur ekonomi yang tidak berpihak kepada mereka.
Bersama dengan ini, Farid juga gigih menjadi aktivis untuk meneruskan upaya-upayanya dalam melestarikan lingkungan hidup.
Bersama Sosiolog dan Aktivis Imam Prasojo – yang aslinya memang berasal dari Kabupaten Banjarnegara, Farid terlibat dalam membina para petani melalui Kampung Ilmu dan Serayu Network. Pada saat yang sama, Farid juga mengembangkan eksperimen hutan mikro yang lestari, dengan memelihara keseimbangan biodiversity di dalamnya.
Kedua kegiatan ini secara simultan berupaya meningkatkan kemampuan petani dalam bertani dan memasarkan hasil-hasil pertanian, juga memperkuat jaringan petani di sepanjang Sungai Seeayu agar bisa bersinergi – demi melawan perilaku para tengkulak dan menyaingi perilaku retailer-retailer besar – yang sering menjadi kanibal warung-warung kecil milik rakyat.
Ya, Farid memang bukan “orang biasa”, tapi dia adalah orang istimewa, yang hidup sebagai orang biasa, di tengah-tengah orang-orang biasa.
Istrinya yang adalah seorang dokter, juga menjadi aktivis kesehatan di salah satu klinik di kota Wonosobo ini.
Kami pun berbincang di lantai 5 hotel Horison sambil menikmati kehijauan yang indah di sekitar. Sambil Farid tak henti menyesap kopi dan mengepulkan asap rokok, yang setia menemaninya berpikir, untuk menghasilkan gagasan-gagasan baru dalam perjuangannya melahirkan tatanan baru ekonomi dan lingkungan yang lestari (sustainable) dan lebih adil. Perbincangan kami berjalan ke sana ke mari. Sebagian mengorek nostalgia kebersamaan kami, tapi lebih sering membincangkan aktivitas Farid yang penuh warna itu. Bahkan sampai kepada ibn ‘Arabi, sufi besar yang terkenal dengan pikiran-pikiran ekoteologisnya.
Sungguh menyenangkan dan menghangatkan melihat manusia-manusia yang dengan gigih mendukung orang-orang marjinal, sambil menemani mereka secara langsung, di kota yang amat subur, di dataran tinggi Dieng ini.
Ada kebaikan hati, ada saling dukung, ada hidup akrab dan tidak eksploitatif dengan alam, dan ada keindahan serta kesejukan yang asli.
Farid tidak berhenti pada mengurusi hanya sesama warga kotanya. Dalam beraktivitas, dia selalu berpikir tentang bagaimana program-programnya bisa direplikasi sebanyak-banyaknya di tempat lain. Agar, suatu saat, semuanya itu bisa menghasilkan dampak yang lebih luas bagi perbaikan nasib petani negeri ini, dan pelestarian lingkungan hidup di tanah-airnya.
…….
Kami berpisah sambil saya berjanji untuk datang lagi, dan menginap setidaknya semalam, untuk berkeliling melihat proyek-proyek Farid. Semoga sambil membonceng motornya yang telah dua kali keliling Indonesia itu…
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





