• Latest

Ketemu Orang-Orang yang Istimewa

Juli 23, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketemu Orang-Orang yang Istimewa

Redaksi by Redaksi
Juli 23, 2025
in #Kisah Inspiratif. #Guru inspiratif, Essay, Kisah Hidup, Kisah Sukses
Reading Time: 4 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Haidar Bagir

Sejak awal saya tahu bahwa saya akan pergi ke dataran tinggi Dieng, apalagi memutuskan tinggal di Hotel Horison di Wonosobo, saya sudah tetap hati akan bertemu dengan sahabat muda yang sudah cukup lama tidak ketemu.
Dia sama sama aktivis Masjid Salman ITB – saya di Penerbit Pustaka Salman, dia di Bulletin Salman KAU.

Baca Juga

ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
Pelukan Bangga Seorang Ibu

Pelukan Bangga Seorang Ibu

Maret 13, 2026
Mengubah Nasib Ke Luar Negeri

Mengubah Nasib Ke Luar Negeri

Februari 10, 2026


Meski umur saya berbeda 4 tahun dengannya, interaksi saya dengannya sempat cukup intens. Dia penerjemah beberapa buku Mizan di tahun-tahun pertama sejak berdirinya. Sejak pertengahan tahun 1992, interaksi saya dengannya kembali intensif. Yakni di harian Republika. Saya, meski juga menjadi pengarah redaksi sambil juga menulis sesekali, sedang sahabat muda saya ini menjadi wartawan-penulis senior.

Salah satu karya legendarisnya adalah reportasenya tentang perang Bosnia, di jantung pergolakannya, di Sarajevo. Hasil reportasenya itu belakangan terbit menjadi buku yang berjudul “Dor! Sarajevo”.
Interaksi intensif terjalin lagi ketika kami sama-sama mengelola Majalah Ummat.


Terakhir, kami lagi-lagi bertemu intensif waktu sama-sama mengurusi Majalah Madina.
Ya, sahabat muda saya ini adalah orang yang istimewa. Dia bukan saja piawai menulis – sehingga menjadi teladan bagi penulis-penulis yang lebih muda -passion-nya dalam membela apa yang diyakininya sebagai kebenaran, dan juga kepada orang-orang marjinal, menjadikannya istimewa.

Tak heran jika saat menerjemahkan buku untuk penerbit Mizan, dia memilih mengerjakan terjemahan buku Ali Syariati, seorang intelektual Islam-sosialis Iran pra-Revolusi Islam Iran.


Tapi, Farid Gaban – sahabat muda saya ini – juga bisa disebut sebagai “orang biasa” karena kesederhanaan hidupnya. Kalau dipakai istilah klasik, Farid adalah seorang yang spartan, yang mengembangkan budaya kesederhanaan, dan keberanian serta kegigihannya dalam membela apa yang menjadi keyakinannya.


Pernah, misalnya, Farid, bersama Ahmad Yusuf sahabatnya, mengelilingi (tempat-tempat terpilih di) Indonesia dengan menunggang motor saja. Pengalamannya ini dia tuangkan ke dalam sebuah buku berjudul “Meraba Indonesia”. Tapi bukan hanya berupa buku tentang perjalanan, di dalamnya terungkap kekayaan budaya Indonesia, serta keuletan masyarakat tradisional negeri ini dalam menghormati lingkungan yang di dalamnya mereka hidup, bahkan dalam kegiatan ekonomi mereka mengeksplorasi alam, di tempat-tempat yang mereka kunjungi.

Hal inilah yang mendorong Farid, kali ini bersama aktivis lingkungan dan HAM Dandhy Laksono, sekali lagi berkeliling Indonesia, yang catatan-catatan perjalanan keduanya sedang dalam proses penyuntingan akhir untuk diterbitkan.


Demi memenuhi passion-nya ini, dia tak segan segan memutuskan untuk menghabiskan hidupnya di Wonosobo, untuk bekerja sama dengan para petani, dalam memperjuangkan kepentingan para petani kecil, yang sering tertindas oleh struktur ekonomi yang tidak berpihak kepada mereka.


Bersama dengan ini, Farid juga gigih menjadi aktivis untuk meneruskan upaya-upayanya dalam melestarikan lingkungan hidup.
Bersama Sosiolog dan Aktivis Imam Prasojo – yang aslinya memang berasal dari Kabupaten Banjarnegara, Farid terlibat dalam membina para petani melalui Kampung Ilmu dan Serayu Network. Pada saat yang sama, Farid juga mengembangkan eksperimen hutan mikro yang lestari, dengan memelihara keseimbangan biodiversity di dalamnya.

Kedua kegiatan ini secara simultan berupaya meningkatkan kemampuan petani dalam bertani dan memasarkan hasil-hasil pertanian, juga memperkuat jaringan petani di sepanjang Sungai Seeayu agar bisa bersinergi – demi melawan perilaku para tengkulak dan menyaingi perilaku retailer-retailer besar – yang sering menjadi kanibal warung-warung kecil milik rakyat.


Ya, Farid memang bukan “orang biasa”, tapi dia adalah orang istimewa, yang hidup sebagai orang biasa, di tengah-tengah orang-orang biasa.
Istrinya yang adalah seorang dokter, juga menjadi aktivis kesehatan di salah satu klinik di kota Wonosobo ini.


Kami pun berbincang di lantai 5 hotel Horison sambil menikmati kehijauan yang indah di sekitar. Sambil Farid tak henti menyesap kopi dan mengepulkan asap rokok, yang setia menemaninya berpikir, untuk menghasilkan gagasan-gagasan baru dalam perjuangannya melahirkan tatanan baru ekonomi dan lingkungan yang lestari (sustainable) dan lebih adil. Perbincangan kami berjalan ke sana ke mari. Sebagian mengorek nostalgia kebersamaan kami, tapi lebih sering membincangkan aktivitas Farid yang penuh warna itu. Bahkan sampai kepada ibn ‘Arabi, sufi besar yang terkenal dengan pikiran-pikiran ekoteologisnya.

ADVERTISEMENT


Sungguh menyenangkan dan menghangatkan melihat manusia-manusia yang dengan gigih mendukung orang-orang marjinal, sambil menemani mereka secara langsung, di kota yang amat subur, di dataran tinggi Dieng ini.
Ada kebaikan hati, ada saling dukung, ada hidup akrab dan tidak eksploitatif dengan alam, dan ada keindahan serta kesejukan yang asli.


Farid tidak berhenti pada mengurusi hanya sesama warga kotanya. Dalam beraktivitas, dia selalu berpikir tentang bagaimana program-programnya bisa direplikasi sebanyak-banyaknya di tempat lain. Agar, suatu saat, semuanya itu bisa menghasilkan dampak yang lebih luas bagi perbaikan nasib petani negeri ini, dan pelestarian lingkungan hidup di tanah-airnya.
…….
Kami berpisah sambil saya berjanji untuk datang lagi, dan menginap setidaknya semalam, untuk berkeliling melihat proyek-proyek Farid. Semoga sambil membonceng motornya yang telah dua kali keliling Indonesia itu…

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

“Anak Hebat, Guru Terlupakan”: Ironi Hari Anak Nasional di Negeri Seremonial

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com