Relevansi Akal Sehat di Tengah Politik Kekuasaan yang Semakin Transaksional

Relevansi Akal Sehat di Tengah Politik Kekuasaan yang Semakin Transaksional - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | #Integritas | Potret Online
Ilustrasi: Relevansi Akal Sehat di Tengah Politik Kekuasaan yang Semakin Transaksional
WA FB X


Oleh Dayan Abdurrahman,

Akal Sehat yang Kian Langka


Indonesia hari ini menyaksikan politik yang semakin jauh dari nalar. Koalisi partai dibentuk bukan karena kesamaan visi, tetapi karena perhitungan kursi. Kebijakan publik sering lahir dari tekanan elite, bukan kebutuhan rakyat.

Di media sosial, opini publik digiring oleh buzzer politik. Polarisasi identitas semakin tajam. Rakyat kebanyakan lebih sering dibuai janji populis ketimbang diajak memahami persoalan yang nyata.

Dalam kondisi seperti ini, akal sehat—kemampuan untuk menimbang benar dan salah secara jernih—menjadi komoditas langka. Padahal, tanpa akal sehat, demokrasi hanyalah panggung transaksional.


Politik Jadi Pasar Gelap

Politik uang dan mahar pencalonan sudah menjadi rahasia umum. Banyak calon legislatif dan kepala daerah harus menyiapkan miliaran rupiah hanya untuk “tiket” dari partai.

Akibatnya, begitu berkuasa, prioritas utama mereka bukan pelayanan publik. Fokusnya justru mengembalikan modal politik—melalui proyek, korupsi anggaran, atau kebijakan titipan sponsor.

Demokrasi yang seharusnya menjadi arena kompetisi gagasan berubah menjadi pasar gelap kekuasaan. Akal sehat publik pun tak punya ruang.


Koalisi Besar, Demokrasi Kerdil

Setelah Pemilu 2024, hampir semua partai utama bergabung ke pemerintahan. Dari satu sisi, ini menjanjikan stabilitas politik. Tapi dari sisi demokrasi, kondisi ini berbahaya.

Hilangnya oposisi membuat kebijakan pemerintah berjalan tanpa pengawasan yang memadai. Suara kritik mudah dianggap gangguan. Kebijakan berpotensi lebih melayani elite ketimbang rakyat.

Tanpa oposisi yang kuat, demokrasi kian kehilangan daya kontrol. Dan ketika publik tak lagi punya tempat menyampaikan aspirasi, apatisme bisa berubah menjadi konflik.


Buzzer dan Polarisasi Emosi

Media sosial kini jadi senjata utama politik. Buzzer politik dan influencer berbayar menggiring opini. Fakta sering dikaburkan, kritik dibungkam dengan serangan pribadi.

Akibatnya, diskusi publik kehilangan substansi. Isu penting—dari ketimpangan ekonomi hingga kerusakan lingkungan—tenggelam oleh drama politik.

Polarisasi identitas dipelihara demi suara. Padahal, luka sosial akibat polarisasi bisa bertahan lama, bahkan setelah pesta demokrasi usai.


Mengapa Akal Sehat Mendesak?

Akal sehat adalah benteng terakhir rakyat. Tanpa itu, pemilih mudah termakan hoaks, janji kosong, dan politik uang.

Bagi elite, akal sehat adalah pengingat: kekuasaan hanyalah sarana, bukan tujuan. Tanpa legitimasi moral, kekuasaan mudah runtuh.

Sejarah dan teori politik memberi pelajaran. Jürgen Habermas menekankan pentingnya ruang publik yang rasional. Machiavelli pun, meski dikenal pragmatis, memperingatkan bahwa kekuasaan tanpa legitimasi cepat kehilangan pijakan.


Jika Akal Sehat Hilang…

Hilangnya akal sehat membawa tiga dampak nyata.

Pertama, krisis kepercayaan publik. Survei menunjukkan kepercayaan masyarakat pada DPR dan partai politik terus menurun.

Kedua, konflik sosial berbasis identitas. Polarisasi politik bisa jadi bara api yang sulit dipadamkan.

Baca Juga

Ketiga, kebijakan jangka pendek. Proyek mercusuar dan bansos menjelang pemilu populer, tapi sering mengabaikan masalah struktural seperti ketimpangan, pendidikan, dan lingkungan.

Demokrasi tanpa akal sehat ibarat rumah megah di atas fondasi rapuh: sekali diterpa badai, bisa roboh.

ADVERTISEMENT

Menghidupkan Kembali Akal Sehat

Apa yang bisa dilakukan?

  1. Literasi politik dan media. Publik perlu diajarkan cara mendeteksi hoaks, memahami demokrasi, dan menilai calon secara objektif.
  2. Reformasi politik. Transparansi dana kampanye, pemberantasan politik uang, dan pembatasan dominasi oligarki mutlak diperlukan.
  3. Peran media independen dan akademisi. Mereka harus berani menyuarakan kritik berbasis data meski menghadapi tekanan.

Penutup: Nafas Demokrasi

Demokrasi bukan tujuan akhir. Ia hanyalah alat untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Akal sehat adalah bahan bakar agar alat itu berfungsi.

Jika akal sehat mati, demokrasi hanya menjadi ajang transaksi. Bangsa ini bisa berjalan, tetapi tanpa arah.

Pertanyaannya: apakah kita masih mau memelihara akal sehat sebagai penuntun? Atau rela membiarkannya terkubur oleh pragmatisme kekuasaan?


Dayan Abdurrahman
Pemerhati Isu Politik dan Budaya

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Penulis
Dayan Abdurrahman
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.