Dengarkan Artikel
Oleh : Iyek Aghnia
Bola mata bak bola pingpong itu tak berkedip memandang ranjang yang mengornamen di kamar tidur rumahnya.
Ada secuil kegundahan yang menyelimuti sekujur raga Safitri, setiap melihat ranjang yang terbuat dari besi itu. Jiwanya terasa gulana. Ada sesuatu yang hilang. Ranjang itu dia design bersama Haris,suaminya saat mereka hendak menempuh biduk perkawinan dulu.
Ranjang yang terbuat dari besi baja itu tergolong unik. Designnya sangat artistik. Tak heran, bila waktu pembuatannya memakan waktu hingga tiga bulan. Bahkan ada sejumlah rasa kekhawatiran dalam hati mereka, saat menjelang hari pernikahan mereka ranjang itu belum selesai.
” Insyaallah, selesai pada waktunya,” suara sang pengrajin ranjang memberikan jaminannya.
Sudah tiga bulan ranjang itu tak ditidurinya. Tepatnya usai suaminya yang berprofesi sebagai pelaut itu bekerja di sebuah kapal pesiar dan hingga kini belum pulang.
Setiap malam, dirinya tidur di kursi yang ada di ruang tamu. Televisi menjadi sahabat karibnya kini. Hampir setiap malam televisi itu menjadi teman tidurnya. Kadangkala dirinya sudah terlelap dalam mimpi panjangnya. Sementara suara televisi masih berisik dengan ceritanya yang membuat mimpi wanita itu kadang terusik.
Godaan bukannya tak datang. Acap kali datang silih berganti. Dari berbagai penjuru angin yang melayang bebas di udara yang terkontaminasi dekadensi moral yang mulai lapuk dimakan zaman. Apalagi usia perkawinan mereka tergolong baru seumur jagung.
Sementara buah hati pun masih jauh dari asanya. Kecantikan Safitri menambah beban godaan itu. Ada yang datang terang-terangan di saat matahari masih bersinar terang. Ada yang datang bersama sejuknya angin malam seiring cahaya rembulan yang bercahaya temaram.
“Kamu itu masih muda, Jeng. Tak bisa membiarkan keadaan seperti ini. nanti jadi fitnah,” ujar teman sejawatnya.
“Saya yakin Kang Haris pasti pulang. Hanya soal waktu saja,” jawab Safitri.
“Suami mu itu disandera pemberontak Jeng. Mereka sangat jahat. Pemerintah saja mereka lawan,” lanjut temannya.
“Saya percaya. Suami saya akan pulang. Dia selalu datang setiap dalam mimpiku,” jawab Safitri dengan suara narasi mantap bak para politikus yang sering muncul di tipi.
Perkawinan Safitri dan Haris memang tak berjalan mulus. Profesi Haris sebagai pelaut sempat ditentang keluarga besar Safitri. Mereka khawatir Haris tidak akan setia dengan perkawinan itu. Maklum profesi pelaut seringkali diartikan sebagai profesi yang negatif. Terutama dalam kontek frasa perempuan.
“Saya sungguh sangat percaya dengan Kang Haris. Dia akan setia. Saya tahu betul, siapa Kang Haris seutuhnya,” jelas Safitri menjelang kedatangan keluarga Haris untuk melamarnya.
“Kami paham Nak. Kami cuma khawatir. Jangan sampai stigma buruk tentang pelaut itu menimpa kamu. Kami tak ikhlas,” ujar Ayahnya.
“Insya Allah Ayah, Kang Haris tak seperti para pelaut lainnya. Mohon doa ayah dan ibu,” ungkap Safitri dengan narasi penuh keyakinan.
📚 Artikel Terkait
Safitri mengenal Haris saat mereka masih berseragam putih abu-abu. Usai menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas, Haris lantas memilih kuliah di Akademi Pelayaran sesuai dengan cita-citanya. Sementara dirinya memilih jurusan ekonomi.
Safitri tahu benar siapa Haris dengan sejuta karakternya.
Jangankan untuk berbuat yang nakal dan neko-neko, saat Safitri meminta bukti cintanya dari Haris, lelaki itu malah takut. Demikian pula saat malam pertama mereka, Haris tampak gugup. Badannya berkeringat saat mereka masuk kamar pengantin yang penuh taburan bunga cinta.
Bahkan Haris masih berpakaian lengkap pengantin saat mereka rebah di peraduan. Sedangkan Safitri sudah memakai baju tidur yang transparan berbalut godaan.
Subuh itu suara azan telah berkumandang dengan sangat religius dari corong pengeras suara masjid. Membangunkan semua penghuni alam untuk segera bersujud kepada Sang Maha Pencipta. Semua insan bergegas menuju masjid.
Tak terkecuali Safitri. Usai sholat subuh, terdengar suara ketukan datang dari arah depan pintu. Hatinya mulai kecut. Siapa yang datang di pagi buta ini. Apakah orang jahat?
Atau ada tetangga yang butuh bantuan?
Dengan rasa takut yang teramat dalam membalut jiwanya, disertai rasa keberanian yang mendadak mengalir di jiwanya, Safitri pun langsung melihat dari dalam gorden jendela. Terlihat olehnya seorang lelaki yang amat dikenalnya. Kang Haris suaminya.
Saat pintu depan terbuka, tampak Haris dengan senyum khasnya. Sebuah senyuman yang meluluhlantakkan hati Safitri saat lelaki itu mengatakan cinta kepadanya.
Mendadak wajah Safitri menyemburkan sebuah kesumringahan. Seluruh tubuhnya seakan-akan ikut bahagia. Apalagi pelukan dari Haris membangkitkan naluri kewanitaannya. Sekujur tubuhnya bergairah. Seketika syahwati mereka hadir mengaliri sekujur jiwa dua anak manusia ini.
Sebuah ciuman dari Haris didaratkannya ke bibir Safitri hingga menghantarkan keduanya langsung berada di peraduan. Menuju ranjang pengantin mereka. Ranjang yang sudah lama tak bertuan, kini berpenghuni. Dipenuhi gairah sepasang manusia.
Ranjang itu kini telah berpenghuni. Dua anak manusia itu saling berdekapan. Terdengar suara ranjang berderit dengan iringan harmoni desah nafas keduanya yang saling membagi kebahagian.
Gemuruh nafas asmara keduanya yang telah lama kering kerontang, menjadi ornamen di ranjang hingga keduanya terkulai di ranjang yang kini telah bertuan.
Seiring datangnya mentari pagi dari balik jendela yang menyelimuti kehangatan raga keduanya yang tertidur pulas usai bercinta. Saling berbagi kasih sayang.
Toboali, 2025.
Iyek Aghnia adalah nama pena dari Rusmin Sopian.
Rusmin Sopian adalah Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca ( GPMB) Bangka Selatan.
Cerpennya termuat di media massa lokal Bangka Belitung dan luar Bangka Belitung.
Saat ini berkehidupan di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik dan kakek satu orang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






