POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Perempuan yang Menjadi Martabat Ranjang Pengantinnya

RedaksiOleh Redaksi
July 19, 2025
Perempuan yang Menjadi Martabat Ranjang Pengantinnya
🔊

Dengarkan Artikel



Oleh : Iyek Aghnia

Bola mata bak bola pingpong itu tak berkedip memandang ranjang yang mengornamen di kamar tidur rumahnya.

Ada secuil kegundahan yang menyelimuti sekujur raga Safitri, setiap melihat ranjang yang terbuat dari besi itu. Jiwanya terasa gulana. Ada sesuatu yang hilang. Ranjang itu dia design bersama Haris,suaminya saat mereka hendak menempuh biduk perkawinan dulu.

Ranjang yang terbuat dari besi baja itu tergolong unik. Designnya sangat artistik. Tak heran, bila waktu pembuatannya memakan waktu hingga tiga bulan. Bahkan ada sejumlah rasa kekhawatiran dalam hati mereka, saat menjelang hari pernikahan mereka ranjang itu belum selesai.
” Insyaallah, selesai pada waktunya,” suara sang pengrajin ranjang memberikan jaminannya.

Sudah tiga bulan ranjang itu tak ditidurinya. Tepatnya usai suaminya yang berprofesi sebagai pelaut itu bekerja di sebuah kapal pesiar dan hingga kini belum pulang.

Setiap malam, dirinya tidur di kursi yang ada di ruang tamu. Televisi menjadi sahabat karibnya kini. Hampir setiap malam televisi itu menjadi teman tidurnya. Kadangkala dirinya sudah terlelap dalam mimpi panjangnya. Sementara suara televisi masih berisik dengan ceritanya yang membuat mimpi wanita itu kadang terusik.

Godaan bukannya tak datang. Acap kali datang silih berganti. Dari berbagai penjuru angin yang melayang bebas di udara yang terkontaminasi dekadensi moral yang mulai lapuk dimakan zaman. Apalagi usia perkawinan mereka tergolong baru seumur jagung.

Sementara buah hati pun masih jauh dari asanya. Kecantikan Safitri menambah beban godaan itu. Ada yang datang terang-terangan di saat matahari masih bersinar terang. Ada yang datang bersama sejuknya angin malam seiring cahaya rembulan yang bercahaya temaram.


“Kamu itu masih muda, Jeng. Tak bisa membiarkan keadaan seperti ini. nanti jadi fitnah,” ujar teman sejawatnya.
“Saya yakin Kang Haris pasti pulang. Hanya soal waktu saja,” jawab Safitri.


“Suami mu itu disandera pemberontak Jeng. Mereka sangat jahat. Pemerintah saja mereka lawan,” lanjut temannya.
“Saya percaya. Suami saya akan pulang. Dia selalu datang setiap dalam mimpiku,” jawab Safitri dengan suara narasi mantap bak para politikus yang sering muncul di tipi.

Perkawinan Safitri dan Haris memang tak berjalan mulus. Profesi Haris sebagai pelaut sempat ditentang keluarga besar Safitri. Mereka khawatir Haris tidak akan setia dengan perkawinan itu. Maklum profesi pelaut seringkali diartikan sebagai profesi yang negatif. Terutama dalam kontek frasa perempuan.
“Saya sungguh sangat percaya dengan Kang Haris. Dia akan setia. Saya tahu betul, siapa Kang Haris seutuhnya,” jelas Safitri menjelang kedatangan keluarga Haris untuk melamarnya.


“Kami paham Nak. Kami cuma khawatir. Jangan sampai stigma buruk tentang pelaut itu menimpa kamu. Kami tak ikhlas,” ujar Ayahnya.
“Insya Allah Ayah, Kang Haris tak seperti para pelaut lainnya. Mohon doa ayah dan ibu,” ungkap Safitri dengan narasi penuh keyakinan.

📚 Artikel Terkait

Surat Dari Ibu

TIGA KUNCI SURGA VERSI AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Kartel Narkoba, Kekuasaan Politik, dan Ancaman Terhadap Kedaulatan Negara

Kekuasaan di Balik Kata: Mempengaruhi Opini Publik dan Mengubah Sejarah

Safitri mengenal Haris saat mereka masih berseragam putih abu-abu. Usai menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas, Haris lantas memilih kuliah di Akademi Pelayaran sesuai dengan cita-citanya. Sementara dirinya memilih jurusan ekonomi.

Safitri tahu benar siapa Haris dengan sejuta karakternya.
Jangankan untuk berbuat yang nakal dan neko-neko, saat Safitri meminta bukti cintanya dari Haris, lelaki itu malah takut. Demikian pula saat malam pertama mereka, Haris tampak gugup. Badannya berkeringat saat mereka masuk kamar pengantin yang penuh taburan bunga cinta.

Bahkan Haris masih berpakaian lengkap pengantin saat mereka rebah di peraduan. Sedangkan Safitri sudah memakai baju tidur yang transparan berbalut godaan.

Subuh itu suara azan telah berkumandang dengan sangat religius dari corong pengeras suara masjid. Membangunkan semua penghuni alam untuk segera bersujud kepada Sang Maha Pencipta. Semua insan bergegas menuju masjid.

Tak terkecuali Safitri. Usai sholat subuh, terdengar suara ketukan datang dari arah depan pintu. Hatinya mulai kecut. Siapa yang datang di pagi buta ini. Apakah orang jahat?
Atau ada tetangga yang butuh bantuan?

Dengan rasa takut yang teramat dalam membalut jiwanya, disertai rasa keberanian yang mendadak mengalir di jiwanya, Safitri pun langsung melihat dari dalam gorden jendela. Terlihat olehnya seorang lelaki yang amat dikenalnya. Kang Haris suaminya.

Saat pintu depan terbuka, tampak Haris dengan senyum khasnya. Sebuah senyuman yang meluluhlantakkan hati Safitri saat lelaki itu mengatakan cinta kepadanya.

Mendadak wajah Safitri menyemburkan sebuah kesumringahan. Seluruh tubuhnya seakan-akan ikut bahagia. Apalagi pelukan dari Haris membangkitkan naluri kewanitaannya. Sekujur tubuhnya bergairah. Seketika syahwati mereka hadir mengaliri sekujur jiwa dua anak manusia ini.

Sebuah ciuman dari Haris didaratkannya ke bibir Safitri hingga menghantarkan keduanya langsung berada di peraduan. Menuju ranjang pengantin mereka. Ranjang yang sudah lama tak bertuan, kini berpenghuni. Dipenuhi gairah sepasang manusia.

Ranjang itu kini telah berpenghuni. Dua anak manusia itu saling berdekapan. Terdengar suara ranjang berderit dengan iringan harmoni desah nafas keduanya yang saling membagi kebahagian.

Gemuruh nafas asmara keduanya yang telah lama kering kerontang, menjadi ornamen di ranjang hingga keduanya terkulai di ranjang yang kini telah bertuan.

Seiring datangnya mentari pagi dari balik jendela yang menyelimuti kehangatan raga keduanya yang tertidur pulas usai bercinta. Saling berbagi kasih sayang.

Toboali, 2025.

Iyek Aghnia adalah nama pena dari Rusmin Sopian.
Rusmin Sopian adalah Ketua Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca ( GPMB) Bangka Selatan.

Cerpennya termuat di media massa lokal Bangka Belitung dan luar Bangka Belitung.

Saat ini berkehidupan di Toboali Bangka Selatan bersama istri dan dua putrinya yang cantik dan kakek satu orang cucu yang bernama Nayyara Aghnia Yuna.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Puisi-Puis Kang Thohir

Puisi-Puis Kang Thohir

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00