Dengarkan Artikel
Oleh: Kang Thohir
Kebaikan sejati terdapat dari namanya hati yang tulus, karena ketulusan akan membuatmu bahagia dan berkah. Harus diimbangi rasa sabar dan menunaikan ajaran budi pekerti yang luhur. Rasa empati terhadap sesama adalah kebaikan yang sejati ketika orang lain dalam kesusahan atau butuh bantuan, tetapi jika kebaikanmu dimanfaatkan oleh orang lain lebih baik menghindar, sekiranya untuk menyadarkan.
Saya yakin kebaikan itu akan berbuah manis, meskipun awalnya pahit, tapi lama kelamaan akan menjadi buah manis. Menghargai kebaikan orang lain itu harus, karena menghargai pula hatinya untuk niat yang baik, dan mendapat pahala juga untuk menyenangkan hatinya.
Sifat solidaritas antar sesama adalah bukti “hablum minannas” hubungan manusia dengan baik dan saling menjaga ukhuwah untuk hidup dalam sejahtera. Lalu mengajak kita sampai tahapan “hablum minallah” untuk bermuhasabah diri kita kepada Sang Maha Cinta dengan baik pula, mengimbangi hubungan manusia dengan Allah dan makhluk-makhluk-Nya, yaitu menjalin hubungan ukhuwah Islamiyah atau ukhuwah basyariyah.
Sahabat sejati dan tulus adalah cerminan dari sifat hati yang welas asih dan mau memberi, dari budi pekerti yang baik, karena semua itu adalah bentuk kecintaannya kepada makhluk Allah. Karena keridhoan Allah menjadi keberkahan langkah hidupnya yang lebih baik dan terarah.
Menyakiti hati sesama berarti menyakiti sang penciptanya, dan menjelek-jelekkannya berarti menjelekkan juga sang penciptanya, karena ia yang menciptakan-Nya. Memang tak mudah untuk menjaga hati seseorang, karena setiapkali kita berbuat salah, dan tanpa sadar kita melukai hatinya.
📚 Artikel Terkait
Manusia memang tak ada yang sempurna, karena kita terlalu fokus mengejar yang ada. Hingga kita terjebak ke dalam buaian dunia fatamorgana dan bergelimang dosa melalaikan hal-hal ukhrawiyah/ukhrawi (akhirat).
Manusia tempatnya salah dan dosa, makanya kita harus bermuhasabah diri, dan “taqarrub ilallah” (mendekatkan diri kepada Allah Sang Pencipta alam semesta), untuk menyucikan hati yang kotor dan menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Brebes, 14 Juli 2025
Muhammad Thohir atau Tahir, lebih dikenal dengan nama pena Kang Thohir, lahir di Brebes, Jawa Tengah. Saya berasal dari Dusun Kupu, Kecamatan Wanasari, dan tumbuh sebagai anak seorang petani. Hingga kini, saya masih menjalani kehidupan sehari-hari bertani dan berkebun, menanam bawang merah, padi, kacang, pare, cabai, dan berbagai sayuran di ladang sawah saya.
Kecintaannya pada dunia tulis-menulis telah tumbuh sejak duduk di bangku kelas empat SD, dan terus berlanjut saat menempuh pendidikan di pondok pesantren.
Kini, saya semakin menekuni dunia literasi, khususnya sastra Indonesia, dengan semangat yang tak surut dalam menulis puisi, cerpen, dan berbagai bentuk karya lainnya.
Selain menulis, saya juga gemar membaca buku sebagai cara memperluas wawasan dan memperkaya pengetahuan yang saya tuangkan ke dalam karya-karya saya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






