Dengarkan Artikel
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh.
Pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, Kesultanan Aceh berdiri sebagai salah satu kekuatan dagang paling berpengaruh di Asia Tenggara. Kaya akan hasil bumi seperti lada dan kapur barus, Aceh menjadi magnet bagi para pedagang dari seluruh dunia—termasuk dari Kota Salem, Massachusetts, Amerika Serikat. Hubungan dagang yang berlangsung lintas samudra ini, pernah diabadikan dalam lambang resmi Kota Salem. Namun kini, sejarah itu menghadapi ancaman penghapusan melalui gerakan penggantian logo kota, dengan alasan sensitivitas rasial yang oleh banyak pihak dianggap keliru.
Aceh dalam Sejarah Maritim Dunia
Letak strategis Aceh di ujung utara Pulau Sumatra menjadikannya pintu gerbang perdagangan di Samudra Hindia. Menurut Daniel Perret, posisi geografis Aceh berperan besar dalam menjadikannya pusat pertemuan budaya dan ekonomi sejak era kuno hingga modern (Perret, 2011). Sejak abad ke-17, Aceh telah menjadi eksportir utama lada, dan secara aktif menjalin hubungan dagang dengan bangsa Eropa dan Amerika.
Mehmet Özay mencatat bahwa perkembangan ekonomi Aceh sangat dipengaruhi oleh komunitas pesisir dan pelabuhan-pelabuhan Islam seperti Kuala Batee dan Trumon, yang berfungsi sebagai simpul penting dalam perdagangan lada (Özay, 2012; Inayatillah et al., 2024). Kedua kawasan ini bukan hanya pelabuhan dagang, melainkan juga pusat diplomasi dan pertukaran budaya.
Salem dan Lada Aceh: Kemitraan Trans-Samudra
Setelah merdeka dari Inggris, para pedagang Salem mencari pasar baru yang bebas dari monopoli kolonial. Pada tahun 1797, Kapten Jonathan Carnes berlayar ke Sumatra dengan kapal Rajah, dan kembali membawa lada liar senilai lebih dari $125.000—setara sekitar $1,5 juta saat ini. Perjalanan ini menandai awal dominasi Salem dalam perdagangan lada, dengan lebih dari 179 kapal Amerika tercatat berkunjung ke Aceh antara tahun 1654 hingga 1846 (Feener, 2021).
Logo Kota Salem yang dibuat oleh George Peabody pada 1839 tidak menampilkan kota itu sendiri, melainkan menggambarkan seorang bangsawan Aceh dengan pakaian gombrong tradisional dan payung, berdiri di bawah pohon palem, dengan latar kapal dagang. Tulisan Latin Divitis Indiae usque sinum (“Hingga pelabuhan terkaya di Timur”) mempertegas visi global dan penghormatan Salem terhadap Aceh.
Meski sebagian besar hubungan dagang berlangsung damai, ketegangan sempat terjadi. Pada 1831, kapal Friendship milik Amerika diserang di Kuala Batee, yang memicu intervensi militer AS melalui kapal USS Potomac. Meski peristiwa ini keras, hubungan dagang dan diplomatik antara Aceh dan Salem tetap berlanjut. Tokoh Aceh bernama Po Adam disebut berperan penting dalam melindungi pedagang Salem dari ancaman lokal (Feener, 2021; Inayatillah et al., 2024).
📚 Artikel Terkait
Menurut Anthony Reid, kemunduran Aceh di abad ke-19 bukanlah akibat kelemahan internal, melainkan tekanan dari kolonialisme dan perubahan dinamika perdagangan global (Reid, 2016). Namun warisan maritim Aceh tetap hidup di ingatan budaya kota-kota seperti Salem.
Ancaman Penghapusan Sejarah atas Nama Sensitivitas
Pada tahun 2025, muncul gerakan untuk mengganti logo Kota Salem dengan alasan dianggap rasis. Sebagian pihak mengklaim bahwa gambar tersebut mengandung stereotip Asia yang tidak pantas. Namun banyak sejarawan dan akademisi seperti Prof. Michael Feener, Dr. Reza Idria, dan Prof. Cut Dewi membantah tuduhan tersebut, dengan menegaskan bahwa figur dalam logo adalah tokoh Aceh yang menggambarkan hubungan perdagangan yang saling menghormati, bukan kolonialisme.
Reid (2020) mengingatkan bahwa sejarah Aceh sangat kompleks, melibatkan hubungan dengan India, Cina, dan dunia Barat. Mereduksi ikon sejarah menjadi isu ras semata justru menghapus kekayaan sejarah diplomasi dan perdagangan yang telah berlangsung berabad-abad.
Hubungan dagang antara Aceh dan Salem bukan sekadar catatan kaki sejarah, melainkan simbol dari kemungkinan perdagangan global yang damai di tengah era imperialisme. Logo Kota Salem—jika dipahami dalam konteks sejarahnya—bukanlah simbol diskriminatif, melainkan penghargaan terhadap keberanian maritim dan persahabatan lintas budaya. Menghapusnya berarti menghapus kisah penting yang membentuk identitas Salem sekaligus mengaburkan peran Aceh dalam sejarah dunia.
Daftar Pustaka
Dadek, Ahmad. Meulaboh dalam lintas sejarah Aceh. Bappeda Aceh Barat, 2013.
Feener, R. Michael. “Salem to Sumatra (dan Jalur Improvisasi Lainnya).” Dalam Fieldwork and the Self: Changing Research Styles in Southeast Asia, Springer Singapore, 2021: 91–101.
Inayatillah, Inayatillah, dkk. “Peran strategis kerajaan Islam di Aceh abad ke-18 dan ke-19: Studi kasus perdagangan di Kuala Batee dan Trumon.” Journal of Al-Tamaddun 19.1 (2024): 311–334.
Özay, Mehmet. “Dasar sejarah perkembangan sosial-ekonomi Aceh (1511–1904).” Journal of History Culture and Art Research 1.2 (2012): 55–70.
Perret, Daniel. “Aceh sebagai ladang studi sejarah kuno.” Mapping the Acehnese past (2011): 25–38.
Reid, Anthony John S. “Mengapa Aceh kehilangan kemerdekaannya di abad ke-19?” Heritage of Nusantara 5.2 (2016): 161–182.
Reid, Anthony. “Dimensi India dalam sejarah Aceh dan Sumatra.” Journal of Maritime Studies and National Integration 4.2 (2020): 64–72.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






