Dengarkan Artikel
Oleh Ilhamdi Sulaiman
(Kisah Rahmah El Yunusiyah)
Padang Panjang, 1923. Gempa baru saja reda. Debu masih turun dari langit, dan reruntuhan rumah-rumah belum seluruhnya disapu. Tapi di sebuah surau kecil di kaki Gunung Singgalang, seorang gadis muda berdiri dengan mata menatap ke depan, jauh melebihi masa di mana ia berpijak.
Namanya Rahmah. Rahmah El Yunusiyah. Umurnya belum genap dua puluh lima, tapi semangatnya sudah menembus waktu. Ia bukan hanya cucu ulama, tapi pemikir yang tak mau diam di balik tabir.
“Kenapa perempuan hanya belajar mengaji dan menjahit?” tanyanya suatu malam di hadapan mamaknya.
“Karena itu cukup,” jawab mamaknya.
“Kalau begitu, cukup itu adalah jeruji,” kata Rahmah.
Maka ia memulai mimpi, dengan satu papan tulis dan selembar kain sebagai tirai kelas. Ia menamai tempat itu: Diniyah Puteri. Sekolah untuk perempuan—bukan hanya untuk memasak dan bersalin, tapi untuk berpikir dan memimpin.
Hari pertama hanya tiga murid. Tapi berita menyebar, terutama lewat tulisan Rohana Kudus di Soenting Melajoe:
“Datanglah ke Padang Panjang, ke sekolah tempat perempuan tidak lagi hanya menunggu jodoh, tapi menulis masa depan.”
Rahmah mengajarkan fikih dan fisika. Tafsir dan sejarah. Ia mengutip ayat Qur’an dan juga pemikiran Kartini. Ia percaya, perempuan tak perlu menunggu izin untuk bermimpi. Ia hanya perlu ruang dan api kecil di dada.
“Pendidikan bukan tentang siapa lebih dulu, tapi siapa lebih sadar,” ucapnya dalam rapat guru yang mayoritas lelaki. Banyak menentang. Tapi lebih banyak yang terdiam karena kalah dalam hujah.
Tahun 1937, Rahmah diundang ke Kairo. Ia berbicara di Universitas Al-Azhar—tempat yang selama ini hanya terbuka untuk lelaki. Saat ia naik podium, beberapa ulama berbisik sinis. Tapi begitu ia berbicara tentang fiqh perempuan, tentang sejarah Aisyah dan Khadijah, tentang jihad pendidikan, seluruh ruangan diam.
Salah satu syaikh mencatat dalam pidatonya:
“Kami menyangka perempuan dari Timur Jauh hanya bisa memasak dan melahirkan. Tapi hari ini, kami menemukan ulama perempuan dari Sumatra yang lebih dalam dari laut, dan lebih tajam dari lidah lelaki Arab.”
Rahmah pulang ke Padang Panjang dengan sambutan santri. Ia tak membawa gelar, tapi membawa kebanggaan. Diniyah Puteri pun menjadi cahaya dari Barat, bukan hanya bagi Indonesia, tapi untuk dunia Islam.
EPILOG
Mereka tidak lahir bersamaan. Tidak berjuang dengan cara yang sama. Tapi ketiganya berdiri di atas tanah yang sama: Minangkabau.
Tanah yang mengajarkan bahwa perempuan tidak duduk di belakang laki-laki. Tapi berdiri sejajar, dalam marwah dan akal.
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






