Dengarkan Artikel
Lahir dari pemikiran manusia, AI malah membuat manusia malas berpikir. Hal itu terbukti ketika belakangan mengamati beberapa tulisan di beberapa media. Fenomena ini sedang dan akan terus terjadi. Membaca disertai analisis terhadap bacaan kian tergerus dengan kemudahan yang diberikan AI.
Apakah AI begitu hebat sehingga kita memasrahkan segala jawaban padanya. Jika kita mau berhenti sejenak, lalu berpikir beberapa detik, kita bakal mendapatkan jawaban. AI merupakan produk pikir manusia. Ia memiliki data berlimpah hasil dari kerja mekanis manusia.
Kepintarannya didapat karena ia tidak dibekali keinginan ngopi. Bila ia merasa lapar, haus, dan memiliki keinginan yang dimiliki manusia maka ia pun tak akan mampu menyimpan data. Ia akan mengalami eror, disrupsi data bahkan datanya invalid.
Kinerja AI mirip malaikat yang tidak dibekali nafsu. Lihatlah bagaimana malaikat menyampaikan wahyu tanpa menambah dan mengurangi redaksi wahyu. Jadi, AI ini bukan sesuatu yang baru dalam Islam. Jauh sebelum AI ada, Islam memiliki malaikat penyampai wahyu illahi.
Hal itu bermakna, bila AI hebat disebabkan ia tidak dibekali nafsu. Dengan demikian, benarlah bahwa manusia hebat ketika ia mampu mengendalikan hawa nafsunya. Para Nabi, filsuf, tokoh pemikir lainnya, mereka mengendalikan nafsu sehingga pemikiran dan ucapan mereka tetap relevan meski zaman berubah. Mereka intelektual sejati, berbeda dengan kebanyakan intelektual hari ini. Saya menyebutnya intelektual semu.
Barangkali saya termasuk di dalam kelompok intelektual semu. Sebabnya, belum ada satu pemikiran canggih yang lahir dari ‘perang’ di kepala dan realitas di sekitar. Barangkali kopi di masa Nietzsche, Plato, Socrates, Aristoteles, Machiavelli, Emil Durkheim, Hegel, Adam Smith, Rene, Chomsky, tak senikmat kopi masa kini. Mereka dengan leluasa memaksimalkan pikiran tanpa terganggu ngopi di mana.
Mereka juga tidak terganggu dengan ghibah sosial, tidak pula memikirkan hal-hal yang tak berfaedah. Mereka fokus pada rahasia illahi yang belum diungkap, bila sudah terungkap namun belum memuaskan nalar dan logika, masih ada keganjilan. Mereka pasti tercengang ketika hasil pikiran mereka kini dikembangkan menjadi alat malas berpikir.
📚 Artikel Terkait
Jauh sebelum AI lahir, Nietzsche sudah pernah memperingatkan hal itu. Jangan jadi pembaca malas. Dan sekarang lebih parah lagi, malas membaca. Jika membaca saja dianggap pembaca malas, konon lagi tidak membaca. Pembaca malas biasanya hanya menerima (input) tanpa menganalisa bacaan. Lahirlah intelektual semu. Apalagi bila AI dijadikan rujukan utama, akan kelihatan semu di atas semu yang saya sebut dengan intelektual gaib.
Istilah itu, sungguh saya belum yakin apakah pas. Karena intelektual dimaknai beragam. Namun bila merujuk pada kelompok tertentu, sebut saja aktivis kampus, ketua lembaga, atau mereka yang sudah bergelar akademik sarjana dan setelahnya maka intelektual gaib akan saya gunakan bagi yang di atas semu.
Teman-teman sesekali boleh datang ke peristiwa demonstrasi mahasiswa. Tangkap kalimat-kalimat yang disampaikan. Agitasi tidak dilarang namun narasi yang disampaikan harusnya memiliki nilai. Orasi-orasi yang disampaikan sangat kering dan lebih banyak pendengar melihat gadget bahkan sibuk foto diri ketimbang mendengar orasi.
Gejala yang sama juga dapat kita temukan di dunia menulis. Beberapa waktu yang lalu sebuah media nasional malah melakukan blunder dengan mempublikasikan tulisan hasil pikiran orang lain bukan hasil pemikiran orang tersebut. Barangkali karena dia artis terkenal. Di kalangan umum kita dapati tulisan karya AI lalu diberi nama penulis. Barangkali Socrates akan bertanya, “mengapa menipu diri sendiri?”. Plato pasti marah besar dan Ali Shariati akan mengatakan itulah kemunafikan sosial.
Celakanya, karya-karya itu dilakukan oleh mereka yang dianggap intelektual. Sehingga dengan berat hati saya katakan bahwa mereka intelektual semu. Bukan dilarang apalagi haram menggunakan AI namun AI itu berfungsi sebagai pembantu tekhnis. Misalnya ada kata atau kalimat salah tulis atau kekurangan huruf, untuk memastikan tidak terjadi itu, kita dapat menggunakan AI demi efisiensi. Bukan menggunakan prompt untuk menghasilkan karya tulis.
Kelompok intelektual semu ini belakangan semakin ramai. Mayoritas yang kemudian membuat sebuah negara kehilangan arah. Cacat logika dianggap benar karena diucapkan manusia bergelar dan berpangkat. Bahkan di kalangan aktivis, cacat logika kian sering kita baca dan dengar. Akibatnya muncul rasa sok tahu padahal boh labu, merasa pintar padahal otak kosong, merasa kritis padahal sentimen. Kita wajib senyum menyaksikan fenomena intelektual semu itu.
Melalui tulisan singkat ini saya menghimbau, sudahi cara-cara plagiasi dari AI, dan hindari cacat logika. Jadilah intelektual sejati, jangan terus menerus mengejar validasi eksternal sebagai intelektual. Oh ya, teman-teman boleh memvalidasi tulisan saya ini, karya plagiat atau murni saya tulis dari gerobak arabica menuju masjid lamteh. Apakah saya akan gunakan AI? ya saya akan gunakan untuk menghitung kata dan memastikan tidak ada kata yang tertinggal atau kelebihan huruf.
Bagi teman-teman yang suka menulis, silahkan kirim tulisan Anda ke potretonline.com, jangan kirim ke saya bila itu hasil karya AI, karena saya tidak mau menciptakan kebahagiaan semu. Kebahagian sejati penulis lahir bila tulisannya asli hasil dari pikiran dan hatinya sendiri. Semoga tidak ada intelektual semu di sekitar kita. Anda siap menulis di POTRET?
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






