Dengarkan Artikel
Oleh : RAHAYULISNA, S. Pd
Guru SDN 11 BANDAR BARU Pidie Jaya
Aku tidak pernah menyangka bahwa sebuah kaos bisa membuatku menangis haru. Bukan karena harganya mahal, bukan pula karena modelnya yang istimewa, melainkan karena makna yang tersemat di dalamnya. Kaos itu adalah hadiah pertamaku dari dunia tulis-menulis.
Sebuah bentuk penghargaan atas tulisan pertamaku yang dimuat dan diapresiasi.
Aku adalah seorang pemula. Menulis bagiku bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan, untuk sekadar memulai satu paragraf, aku sering ragu: “Apakah ini layak dibaca orang? Apakah ini terlalu biasa?” Tapi keraguan itu tak mampu menahan dorongan dalam dada. Ada sesuatu yang ingin kutumpahkan. Tentang hidup, tentang rasa, tentang apa saja yang mengendap terlalu lama di benak dan hati.
Malam-malam panjang kulalui bersama lembaran kosong dan pikiran yang sibuk. Aku menulis tanpa ekspektasi. Aku hanya ingin belajar jujur lewat kata. Dan ketika akhirnya tulisan itu kukirim entah kenapa rasanya seperti melepas sehelai kertas ke udara dan berharap angin membawanya ke tempat yang tepat.
📚 Artikel Terkait
Beberapa hari berselang, aku mendapat kabar bahwa tulisanku dipilih untuk dimuat di potretonline.com, rasanya seperti mimpi. Dan sebagai bentuk apresiasi, karena sudah 3 tulisan yang dimuat, aku akan menerima sebuah hadiah: satu buah kaos Potretonline.com.
Ya, hanya sebuah kaos. Tapi entah kenapa, itu membuatku begitu bahagia. Aku tertawa sendiri, lalu tiba-tiba menangis. Rasanya seperti dunia mengucapkan, “Hei, kamu didengar. Kamu dihargai.” Bagi seorang pemula sepertiku, apresiasi itu lebih dari cukup. Itu adalah penyulut semangat yang selama ini hampir padam oleh keraguan dan rasa tidak percaya diri.
Beberapa hari kemudian, paket kecil itu datang. Kaosnya sederhana berwarna hitam, tidak mencolok, tanpa aksen berlebihan. Tapi saat aku menyentuh kainnya, aku tahu ini bukan sekadar kain. Ini adalah simbol. Simbol keberanian pertamaku untuk menulis. Simbol bahwa aku pernah memulai, dan bahwa memulai adalah langkah paling penting dari semua perjalanan.
Aku memakainya dengan rasa bangga. Bukan untuk menunjukkan bahwa aku menang, bukan pula untuk pamer kepada siapa pun. Tapi sebagai pengingat bahwa aku pernah ragu, pernah takut, namun tetap memilih untuk mencoba.
Sejak hari itu, semangat menulisku berubah. Aku tidak lagi menulis karena ingin dilihat orang, tapi karena aku tahu bahwa setiap kata punya tempatnya sendiri. Bahwa menulis bukan soal hebat atau tidak, tapi soal keberanian untuk menyuarakan isi hati. Dan kadang, satu tulisan sederhana bisa menjangkau hati yang bahkan tidak pernah kita duga.
Ucapan Terima Kasih
Dengan tulus, aku ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada pihak yang telah memberikan kesempatan ini. Hadiah kaos ini bukan sekadar kain yang kukenakan, tapi semacam pelukan hangat untuk jiwa yang pernah merasa kecil di tengah riuh dunia literasi.
Terima kasih karena telah percaya pada tulisan seorang pemula yang belum memiliki nama. Terima kasih telah memberi ruang dan penghargaan yang begitu berarti. Kaos ini mungkin akan lusuh seiring waktu, namun semangat yang lahir darinya tak akan pernah pudar.
Aku akan terus menulis. Bukan karena mengejar hadiah, tapi karena aku telah merasakan bagaimana satu apresiasi kecil bisa menyalakan nyala besar di dalam diri. Semoga akan ada lebih banyak penulis pemula yang juga diberi cahaya dan semangat seperti ini. Dan semoga aku pun bisa menjadi bagian dari nyala itu untuk orang lain kelak.
Terima kasih… untuk kaos pertamaku. Untuk pengakuan pertamaku. Untuk keberanian yang kini tumbuh lebih kuat dalam diriku.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






