Dengarkan Artikel
Oleh Rika Maina Sari
Guru SD Negeri 1 Trienggadeng, Pidie Jaya, Aceh
Selasa 1 Juli 2025 , Dipagi yang begitu cerah, dengan diselimuti sinar mentari yang begitu hangat. Seolah memberi semangat untuk menyambut cerita baru bagi setiap insan yang akan memulai kegiatan harinya.
Begitupun dengan diriku. Pagi itu ditemani dengan motor kesayanganku, aku melaju pelan ke sebuah gedung megah d iujung jembatan yaitu gedung Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Pidie Jaya.
Awalnnya kedatanganku hanya ingin menggali ilmu dengan mengikuti kegiatan “BEDAH BUKU”, namun siapa yang bisa menyangka kegiatan itu justru membangkitkan kembali semangatku yang telah lama terkubur.
Drs. Tabrani Yunis, nama itu seperti terdengar familiar di telingaku. Tetapi aku tidak pernah melihat langsung seperti apa sosok beliau, yang aku tau beliau adalah narasumber yang akan mengisi acara tersebut. Bergegas akupun memarkirkan motorku dan masuk ke gedung megah yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan itu.
Setelah berada di dalam gedung, aku sengaja memilih duduk di kursi paling depan di antara peserta yang lain. Hal ini aku lakukan semata karena ingin fikiranku benar-benar bisa lebih terfokus untuk mengikuti acara tersebut.
Awalnya acara berlangsung resmi seperti biasannya. Namun saat sosok yang sejak tadi dinanti oleh peserta mulai tampil. Saat itulah terdengar riuh tawa-tawa kecil dari peserta, bahkan akupun tidak kuasa menahan tawaku ketika mendengar canda beliau. Akan tetapi ada hal yang menurutku paling unik dalam diri beliau. Beliau mampu membawa kami hanyut dalam tawa. Namun bisa membuat kami berfokus kembali dalam materi yang disampaikan dan ini sungguh luar biasa.
Dalam kegiatan bedah buku ini. Kami diminta untuk memilih sendiri artikel mana yang ingin kami bedah. Nah di situlah awal pusat perhatian kami mulai berfokus pada kegiatan yang berlangsung. Membaca artikel tersebut dengan penuh perhatian, dan membedahnnya menjadi sebuah tulisan. hingga beberapa dari peserta di minta untuk memaparkan hasil bedah artikel mereka.
📚 Artikel Terkait
Sayangnnya saat itu aku tidak berkesempatan untuk memaparkan hasil dari bedah artikel yang kutulis. Tetapi tidak mengapa, karena teman-teman yang tampilpun sangat luar biasa. Aku bisa menambah ilmu dari mereka. Di sini semakin terlihat jelas betapa antusiasnya para peserta dalam kegiatan tersebut.
Pertemuan yang sejak awal memang sudah terasa hangat. Ditambah lagi dengan begitu banyak ilmu yang bermanfaat. Dan satu hal yang paling berkesan bagiku pada kegiatan ini, di saat beliau mengajukan pertanyaan diawal perkenalan.
“Siapa disini lulusan pendidikan sastra Indonesia?”
Dengan semangat aku mengangkat tangan dan menjawab “Saya pak… lulusan bahasa , sastra indonesia dan daerah”
Dengan senyum yang ramah, beliau berkata “seharusnya Ibu yang berdiri disini” (Sembari menunjukkan tempat beliau berdiri)
Akupun membalas dengan senyuman, dan berguman dalam hati “aaamiiiinn ya Allah”. perkataan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi tidak bagiku. Semoga perkataan itu bisa menjadi doa untukku. Dan kelak aku bisa mengikuti jejak beliau untuk menjadi seorang penulis. Tidak sekadar menulis untuk diriku sendiri, seperti menulis di buku harian saat masa putih abu-abuku. Tetapi aku ingin bisa menulis seperti beliau yaitu menulis yang bermanfaat untuk orang lain.
Ya… sejak awal aku memang suka menulis. Selama ini aku hanya menulis coretan kecil berupa kata-kata bijak disosial media ku (Fb). kata-kata itu biasa aku rangkai di sela-sela kesibukan hari-hariku. Pernah punya keinginan menulis cerita pendek, namun semua pupus karena rasa tidak percaya diri yang begitu kuat melekat padaku.
Tetapi setelah berlangsungnya kegiatan 1 Juli 2025 kemarin, semua terasa berbeda. Semangat menulisku yang telah lama terkubur seolah bangkit kembali. Walaupun sebenarnnya aku masih harus banyak belajar dalam dunia menulis, tetapi batinku seakan berbisik “tidak ada yang tidak mungkin jika kamu mau berusaha untuk belajar dan memulainnya kembali”. Kalimat itu seakan menjadi dorongan kuat untuk diriku bangkit dengan penuh percaya diri, dan semua ini tidak terlepas dari motivasi yang diberikan oleh “Sang penyemangat yaitu bapak Drs. Tabrani Yunis.
Jujur saja, bagiku kegiatan ini, bukan hanya sekadar ilmu tentang “bagaimana cara membedah sebuah buku”, namun lebih dari itu. kehadiran Beliau seolah menjadi “pemandu” untuk jiwa-jiwa penulis yang masih bersembunyi di balik rasa tidak percaya diri. Kehadiran beliau juga seolah menjadi “jembatan semangat” bagi jiwa-jiwa penulis, yang akhirnya mulai bangkit menunjukkan goresan-goresan tarian pena mereka, hingga menghasilkan sebuah tulisan yang luar biasa.
Motivasi yang beliau berikan menyimpan makna yang begitu dalam. “semua orang pasti bisa jika punya keinginan untuk memulainnya.” Tidak ada kata terlambat meskipun harus dimulai dari nol. Berkat beliau lah semangatku yang awalnya terkubur seolah bangkit kembali. Terimakasih bapak Drs. Tabrani Yunis
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






