Dengarkan Artikel
Oleh Nurkamari
Guru MTs Tastafi, Pidie Jaya
Selasa pagi, 1 Juli 2025. Pagi itu, sinar mentari belum sepenuhnya naik ketika aku melaju dengan sepeda motor menuju gedung megah berwarna putih di ujung jembatan. Gedung itu adalah Kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Pidie Jaya tempat di mana hari ini akan digelar sebuah pelatihan literasi. Jembatan yang menghubungkan jalan menuju gedung itu konon dibangun pada masa Gade Salam menjabat sebagai Bupati, seolah menjadi penanda bahwa pengetahuan pun butuh jembatan agar bisa sampai ke hati masyarakatnya.
Sesampainya di halaman kantor, aku melihat beberapa kendaraan telah terparkir rapi. Di sisi kanan, berjejer sepeda motor milik peserta. Di bagian depan gedung, sebuah mobil Innova Reborn berwarna hitam terparkir yang kuduga milik narasumber utama hari itu Tabrani Yunis. Nama beliau sudah lama akrab di telingaku sebagai tokoh literasi dan motivator yang kerap mengisi pelatihan di berbagai daerah. Tapi hari itu adalah pertama kalinya aku akan bertemu langsung dengan beliau.
Aku masuk ke dalam gedung dengan semangat yang menggelora. Duduk di bangku kedua, aku ingin menyerap semua ilmu yang dibagikan dengan hati dan pikiran yang terbuka. Peserta yang hadir hari itu cukup banyak, sekitar 50 orang, terdiri dari beragam kalangan guru, siswa, bahkan Mahasiswa. Keberagaman ini membuat suasana terasa lebih kaya, dengan pandangan dan perspektif yang berbeda-beda.
Acara dimulai dengan cara yang tidak biasa. Kami diminta mendengarkan sebuah podcast dari Potretonline.com berjudul “Mulai dari Nol”. Podcast ini mengajak pendengarnya untuk membangkitkan kembali kebiasaan-kebiasaan baik, meski harus dimulai dari titik nol. Dalam percakapan audio itu, terselip pemikiran Aristoteles yang menyentuh hati: “Tidak ada kata terlambat untuk memulai dari nol.” Sebuah kalimat yang sederhana, namun menyimpan kekuatan besar bahwa setiap orang, di titik manapun mereka berada, selalu punya kesempatan untuk memulai lagi.
📚 Artikel Terkait
Setelah sesi podcast, Tabrani Yunis mengambil alih panggung. Gaya beliau begitu khas santai tapi sarat makna. Di tengah candanya yang mengundang tawa, terselip kalimat-kalimat yang membangkitkan semangat. Beliau tidak hanya berbicara, tapi juga mengajak kami berpikir dan merenung. Seperti seorang pemandu yang tahu betul arah perjalanan, beliau membawa kami menyusuri makna literasi secara perlahan tapi mendalam.
Memasuki sesi kedua, kami diajak untuk melakukan bedah artikel secara individu. Masing-masing peserta diminta memilih satu artikel dari Potretonline.com untuk kemudian dianalisis dan dituliskan pemahamannya. Aku memilih artikel berjudul “Tradisi Mengaji Shalat Magrib di Aceh Memudar”, karya Hanif Arsyad. Sebuah tulisan yang menggugah kesadaran akan tradisi yang mulai ditinggalkan. Tradisi yang dulunya menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Aceh, kini perlahan menghilang, tenggelam dalam kesibukan dan perubahan zaman.
Dari semua peserta, hanya tiga orang yang mempresentasikan hasil bedah artikelnya ke depan. Dan aku menjadi salah satunya. Meski sempat gugup, aku berdiri dan menyampaikan dengan sepenuh hati. Bukan hanya tentang isi tulisan, tapi juga tentang kekhawatiranku akan tradisi yang mulai memudar. Tentang pentingnya merawat nilai-nilai yang pernah hidup, agar tidak benar-benar mati dalam sejarah.
Sungguh tak terduga, setelah presentasi selesai, Pak Tabrani memberikan apresiasi yang luar biasa kepada kami bertiga. Beliau menyampaikan pujian yang tulus, bahwa kami telah menunjukkan keberanian, pemahaman, dan semangat untuk menyuarakan pemikiran. Bagiku, itu bukan sekadar penghargaan, melainkan suntikan motivasi yang tak ternilai harganya.
Sesi terakhir adalah bedah buku, membahas karya seorang penulis yang namanya sudah tak asing di tengah masyarakat. Buku yang dibedah berjudul “Sejarah Mati Kampung Kami” (2023) sebuah karya yang membawa pembaca merenungi luka-luka sejarah yang terlupakan. Buku ini tidak hanya menyampaikan narasi tentang masa lalu, tapi juga menggugat kesadaran kita tentang pentingnya mengingat dan mencatat, agar masa depan tak kehilangan arah.
Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh ilmu dan teknik dalam membedah karya tulis, tetapi juga mendapatkan motivasi untuk menumbuhkan semangat membaca dan menulis secara konsisten. Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga menjelang sore ini berjalan dengan penuh antusias dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta.
Dinas Perpustakaan dan Arsip Pidie Jaya berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan, guna membangun budaya literasi yang kuat di kalangan masyarakat, terutama generasi muda.
Hari itu, aku pulang dengan hati penuh. Aku tak hanya membawa materi pelatihan atau catatan di kertas, tapi juga membawa keyakinan baru. Bahwa siapa pun bisa memulai, meski dari titik nol. Bahwa setiap cerita yang disuarakan dengan jujur akan menemukan jalannya. Dan bahwa aku pun, dalam langkah-langkah kecilku, punya tempat di jalan literasi ini.
Dan mungkin, suatu saat nanti, aku tidak hanya menjadi peserta. Tapi juga menjadi seseorang yang bisa menyemangati orang lain untuk berani menulis, membaca, dan merawat ingatan yang nyaris dilupakan waktu.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






